JAKARTA, KOMPAS.com - Aceh sempat menjadi penghasil nilam terbesar di Indonesia pada awal dan pertengahan tahun 1990-an. Namun, konflik gerakan Aceh merdeka (GAM) yang diperparah dengan adanya krisis moneter tahun 1997-1998 terus menurunkan produksi nilam di Serambi Mekkah ini.
Dalam tiga tahun terakhir, sebenarnya produksi nilam berangsur-angsur mulai bangkit kembali.
Namun, sebagian lahan budi daya nilam terdampak banjir bandang yang melanda Aceh sejak November 2025 lalu.
Baca juga: Seribu Kemasan Produk UMKM Dikirim ke Belanda, Siap Tampil di Rotterdam Fair 2026
"Ada beberapa kabupaten penghasil nilam (di Provinsi Aceh) yang terdampak (bencana), sehingga lahannya hancur. Kami sedang menjajaki bagaimana bisa mendukung itu (pemulihan), " ujar Project Manager PROMISE II IMPACT International Labour Organization (ILO), Djauhari Sitorus di Jakarta, Kamis (12/2/2026).
Setelah melewati status tanggap darurat, beberapa daerah terdampak bencana di Aceh harus memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Dalam hal ini, ILO sedang mengumpulkan data lahan budi daya nilam yang terdampak di Aceh dan menunggu arahan dari pemerintah daerah. ILO siap membantu proses pemulihan lahan budi daya nilam di Aceh pasca bencana, terutama dalam penyediaan bibit.
Kata dia, nilam termasuk tanaman yang tidak terlalu lama untuk dipanen atau hanya membutuhkan 4-5 bulan saja, berbeda dengan kopi atau kakao.
Project Manager PROMISE IMPACT ILO, Djouhari Sitorus dalam media fellowship inklusi keuangan dan keberlanjutan UMKM di Jakarta pada Kamis (12/2/2026)."Pelan-pelan dibantu (pemulihan lahan budi daya). Kami beruntung dengan mitra Universitas Syiah Kuala, universitas negeri di sana yang memang memilikinya pusat penelitian untuk atsiri, termasuk Nilam. Mereka membantu petani-petani Nilam," tutur Djauhari.
Untuk membangkitkan kembali industri nilam di Aceh, ILO menggaet tokoh lokal. Salah satunya, peraih penghargaan Indonesia Innovator Award 2025, Syaifullah Muhammad.
"Kami bertemu dengan beliau (Syaifullah Muhammad). Jadi, beliau aspek teknis budidaya nilamnya jago sekali. Kalau buat parfum dia hafal. Kami membantu dengan kewirausahaannya, akses keuangan, dan pembuatan ERP-nya (Enterprise Resource Planning). Jadi, saling menguntungkanlah gitu," ucapnya.
Selain itu, ILO juga bermitra dengan Universitas Syiah Kuala yang mempunyai laboratorium pengujian kualitas nilam di Banda Aceh.
Universitas Syiah Kuala juga memiliki fasilitas produksi dan memberikan pelatihan secara gratis bagi anak muda untuk menjadi peracik parfum.
Bahkan, Pemerintah Kota Banda Aceh ikut mengajak ILO bermitra untuk mengembangkan industri nilam dan menjadikannya sebagai identitas daerah.
Di sisi lain, melalui program MyNilam, ILO membantu memenuhi standar keberlanjutan untuk memperluas akses pasar ke Eropa itu dengan sistem ERP.
Apalagi, standar European Union Deforestation Regulation (EUDR) sangat ketat dalam memastikan ketertelusuran untuk mencegah produk dari deforestasi masuk ke pasar Eropa.
Baca juga: ILO Dorong Literasi Keuangan Untuk Perkuat UMKM dan Pekerja Informal Indonesia
EUDR dapat memaksa produsen, termasuk petani di Aceh, menunjukkan di mana tanaman nilam tumbuh dan dipanen. Karenanya, budi daya tanaman nilam benar-benar harus di lahan pertanian, bukan di dalam kawasan hutan.
"Mereka (konsumen Eropa) harus tahu bahwa produk nilam ini dipanen dan ditanam bukan di wilayah yang dilarang, bukan di daerah hutan. Ada ketertelusuran tadi. Bisa dilacak karena manajemen kami itu bisa pengkodean poligon. Jadi mereka tahu di sistemnya tuh, 'Oh si Bapak ini tuh lahannya di sini loh', begitulah petanya," tutur Djauhari.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya