KOMPAS.com - Aksi iklim yang ambisius untuk meningkatkan kualitas udara global dapat menyelamatkan hingga 1,32 juta jiwa per tahun pada tahun 2040, menurut studi terbaru yang dipimpin Universitas Cardiff di Wales.
Studi yang diterbitkan dalam Nature Communications ini menunjukkan bahwa negara-negara berkembang sangat bergantung pada kerja sama internasional untuk mendapatkan manfaat itu.
Hal itu karena mayoritas polusi negara-negara berkembang berasal dari luar perbatasan mereka.
Baca juga:
Keputusan mitigasi iklim yang dibuat di negara-negara kaya secara langsung memengaruhi kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang.Studi sebelumnya menganalisis pertukaran polusi lintas batas terjadi di hampir setiap negara atau sebanyak 168 negara.
Dengan dunia yang terfragmentasi, sedikitnya kebijakan mitigasi iklim secara kolaboratif akan memperlebar kesejangan kesehatan antar negara. Imbasnya, negara-negara miskin akan kesulitan mengendalikan kualitas udara mereka.
Studi terbaru ini berfokus pada partikel halus (PM 2.5), faktor risiko lingkungan utama penyebab kematian dini secara global.
"Meskipun kita tahu bahwa aksi iklim dapat bermanfaat bagi kesehatan masyarakat, sebagian besar penelitian mengabaikan bagaimana hal ini memengaruhi polusi udara yang melintasi perbatasan internasional dan menciptakan ketidaksetaraan antar negara," ujar penulis utama dari Sekolah Ilmu Bumi dan Lingkungan Universitas Cardiff, Omar Nawaz, dilansir dari Phys.org, Jumat (13/2/2026).
Keputusan mitigasi iklim yang dibuat di negara-negara kaya secara langsung memengaruhi kesehatan masyarakat di negara-negara Selatan. Khususnya, di Afrika dan Asia.
Studi yang turut melibatkan para peneliti di Universitas Colorado Boulder ini menggunakan pemodelan atmosfer tingkat lanjut dan data satelit NASA untuk mensimulasikan berbagai skenario emisi masa depan untuk tahun 2040.
Studi tersebut juga melakukan estimasi beban kesehatan, memungkinkan para peneliti untuk memahami siapa yang mendapat manfaat dan menilai berbagai tingkat ketergantungan saat negara-negara menerapkan kebijakan mitigasi iklim.
Para peneliti melihat bagaimana manfaat kesehatan dari aksi iklim dapat berbeda ketika ada kerja sama global yang lebih besar atau semakin lemah.
Baca juga:
Keputusan mitigasi iklim yang dibuat di negara-negara kaya secara langsung memengaruhi kesehatan masyarakat di negara-negara berkembang."Kami terkejut menemukan bahwa meskipun Asia memperoleh manfaat total terbesar dari aksi iklim bagi sebagian besar penduduknya, negara-negara Afrika sering kali paling bergantung pada aksi eksternal, dengan jumlah manfaat kesehatan yang mereka peroleh dari mitigasi iklim di luar negeri meningkat dalam skenario masa depan yang terfragmentasi," tutur Nawaz.
Berdasarkan proyeksi dari studi ini, keseimbangan polusi udara yang mengalir melintasi perbatasan dapat bergeser, bahkan saat total polusi udara global menurun.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya