KOMPAS.com - Paparan bahan kimia abadi atau per- dan polifluoroalkil (PFAS) berisiko mengganggu kekuatan tulang anak, bahkan sebelum mereka beranjak dewasa.
Studi terbaru yang diterbitkan Journal of the Endocrine Society menunjukkan bahwa paparan zat PFAS pada awal kehidupan bisa memengaruhi proses pembentukan tulang anak selama masa remaja.
Baca juga:
Diketahui, PFAS merupakan bahan kimia buatan manusia yang lazim ditemukan air, makanan, dan berbagai produk konsumen. PFAS disebut bahan kimia abadi karena mampu bertahan dan menumpuk di dalam tubuh manusia dalam jangka waktu yang cukup lama.
“Masa remaja adalah periode kunci untuk membangun tulang yang kuat, dan mencapai massa tulang optimal selama waktu ini dapat mengurangi risiko patah tulang dan osteoporosis seumur hidup," ucap Jessie P. Buckley dari UNC Gillings School of Global Public Health di Chapel Hill, NC, dilansir dari SciTechDaily, Rabu (18/3/2026).
"Temuan kami menunjukkan bahwa mengurangi paparan PFAS selama periode perkembangan penting dapat mendukung kesehatan tulang yang lebih baik sepanjang hidup," tambah dia.
Paparan bahan kimia abadi PFAS pada awal kehidupan bisa memengaruhi proses pembentukan tulang anak selama masa remaja.Para peneliti menganalisis sampel darah dari 218 remaja yang merupakan bagian dari kohort kehamilan dan kelahiran jangka panjang.
Kadar PFAS diukur pada beberapa tahap, termasuk saat lahir dan pada usia tiga, delapan, dan 12 tahun. Mereka juga menilai kepadatan tulang anak usia 12 tahun.
Temuan dari studi tersebut menunjukkan, remaja dengan kadar asam perfluorooktanoat (PFOA) yang lebih tinggi dalam darah cenderung memiliki kepadatan tulang semakin rendah di lengan bawahnya.
Untuk senyawa PFAS lainnya, hubungan dengan kepadatan tulang bergantung pada kapan paparan terjadi.
Pola ini menegaskan bahwa tahapan perkembangan anak tertentu kemungkinan lebih sensitif terhadap bahan kimia ini. Bahkan, hubungan antara PFAS dan penurunan kepadatan tulang lebih kentara pada perempuan dibandingk laki-laki.
"Temuan ini menambah bukti yang semakin banyak bahwa paparan PFAS selama masa kanak-kanak dapat membawa konsekuensi kesehatan jangka panjang, yang menggarisbawahi pentingnya upaya untuk mengurangi kontaminasi dalam air minum dan produk konsumen," tutur Buckley.
Studi tersebut melibatkan kontribusi dari para peneliti di berbagai institusi, di antaranya Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Brown University, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, Fakultas Kedokteran Universitas Cincinnati dan Rumah Sakit Anak Cincinnati, Universitas Pennsylvania , Universitas Simon Fraser, dan Sekolah Kesehatan Masyarakat Milken Institute Universitas George Washington.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya