Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bahan Kimia Abadi PFAS Bisa Ganggu Pertumbuhan Tulang Anak

Kompas.com, 18 Maret 2026, 17:06 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Paparan bahan kimia abadi atau per- dan polifluoroalkil (PFAS) berisiko mengganggu kekuatan tulang anak, bahkan sebelum mereka beranjak dewasa.

Studi terbaru yang diterbitkan Journal of the Endocrine Society menunjukkan bahwa paparan zat PFAS pada awal kehidupan bisa memengaruhi proses pembentukan tulang anak selama masa remaja.

Baca juga:

Diketahui, PFAS merupakan bahan kimia buatan manusia yang lazim ditemukan air, makanan, dan berbagai produk konsumen. PFAS disebut bahan kimia abadi karena mampu bertahan dan menumpuk di dalam tubuh manusia dalam jangka waktu yang cukup lama.

“Masa remaja adalah periode kunci untuk membangun tulang yang kuat, dan mencapai massa tulang optimal selama waktu ini dapat mengurangi risiko patah tulang dan osteoporosis seumur hidup," ucap Jessie P. Buckley dari UNC Gillings School of Global Public Health di Chapel Hill, NC, dilansir dari SciTechDaily, Rabu (18/3/2026).

"Temuan kami menunjukkan bahwa mengurangi paparan PFAS selama periode perkembangan penting dapat mendukung kesehatan tulang yang lebih baik sepanjang hidup," tambah dia.

Dampak bahan kimia abadi PFAS pada anak

Paparan bahan kimia abadi PFAS pada awal kehidupan bisa memengaruhi proses pembentukan tulang anak selama masa remaja.Freepik Paparan bahan kimia abadi PFAS pada awal kehidupan bisa memengaruhi proses pembentukan tulang anak selama masa remaja.

Para peneliti menganalisis sampel darah dari 218 remaja yang merupakan bagian dari kohort kehamilan dan kelahiran jangka panjang.

Kadar PFAS diukur pada beberapa tahap, termasuk saat lahir dan pada usia tiga, delapan, dan 12 tahun. Mereka juga menilai kepadatan tulang anak usia 12 tahun.

Temuan dari studi tersebut menunjukkan, remaja dengan kadar asam perfluorooktanoat (PFOA) yang lebih tinggi dalam darah cenderung memiliki kepadatan tulang semakin rendah di lengan bawahnya.

Untuk senyawa PFAS lainnya, hubungan dengan kepadatan tulang bergantung pada kapan paparan terjadi.

Pola ini menegaskan bahwa tahapan perkembangan anak tertentu kemungkinan lebih sensitif terhadap bahan kimia ini. Bahkan, hubungan antara PFAS dan penurunan kepadatan tulang lebih kentara pada perempuan dibandingk laki-laki.

"Temuan ini menambah bukti yang semakin banyak bahwa paparan PFAS selama masa kanak-kanak dapat membawa konsekuensi kesehatan jangka panjang, yang menggarisbawahi pentingnya upaya untuk mengurangi kontaminasi dalam air minum dan produk konsumen," tutur Buckley.

Studi tersebut melibatkan kontribusi dari para peneliti di berbagai institusi, di antaranya Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Brown University, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat, Fakultas Kedokteran Universitas Cincinnati dan Rumah Sakit Anak Cincinnati, Universitas Pennsylvania , Universitas Simon Fraser, dan Sekolah Kesehatan Masyarakat Milken Institute Universitas George Washington.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau