Penerapan penghindaran contrail mengharuskan maskapai penerbangan dan pengatur lalu lintas udara menyesuaikan rute secara dinamis berdasarkan kondisi atmosfer.
Beberapa ahli penerbangan telah menyatakan kekhawatiran mengenai apakah perubahan tersebut dapat meningkatkan beban kerja sistem manajemen lalu lintas udara.
Namun, para peneliti menyatakan bahwa penyesuaian yang diperlukan mungkin relatif kecil.
Penerbangan saat ini sudah sering mengubah rute atau ketinggian untuk menghindari turbulensi atau cuaca buruk, yang berarti sistem serupa berpotensi digunakan untuk menghindari wilayah-wilayah yang memicu pembentukan contrail.
"Ini adalah perubahan operasional, bukan perubahan teknologi, tidak perlu memodifikasi pesawatnya. Anda hanya perlu mengatur bagaimana cara pengoperasiannya, dan sistemnya sendiri sudah tersedia untuk itu, pilot melakukan manuver seperti ini setiap saat," kata Smith.
Itulah mengapa peneliti memiliki harapan lebih besar pada metode ini dibandingkan intervensi lain, seperti bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang menghadapi hambatan besar pada infrastruktur dan rantai pasokan.
Lebih lanjut, menggunakan model iklim yang melacak respons suhu di 10.000 skenario simulasi, para peneliti menemukan bahwa memulai penghindaran contrail pada tahun 2035 daripada 2045 menghasilkan penurunan suhu pada tahun 2050 yang setara dengan peningkatan efektivitas sekitar 78 persen.
Dengan kata lain, menunda selama satu dekade memiliki efek yang hampir sama dengan membuat program tersebut menjadi hampir lima kali lipat kurang efisien,
Menurut Smith, pendekatan ini dapat memainkan peran besar dalam strategi iklim industri penerbangan.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya