KOMPAS.com - Perubahan kecil pada jalur penerbangan pesawat dan contrail bisa membantu mengurangi dampak pemanasan global dari industri tersebut hingga hampir separuhnya.
Menurut studi baru yang dipimpin peneliti dari Cambridge University, Inggris, pengurangan itu dapat dilakukan dengan menghindari kondisi yang memicu pembentukan jejak kondensasi atau yang dikenal sebagai contrail.
Contrail, atau garis putih di belakang pesawat, sebenarnya merupakan awan buatan yang memerangkap panas di atmosfer sehingga berkontribusi besar pada pemanasan global.
Baca juga:
Peneliti menuturkan, mengubah ketinggian jelajah pesawat beberapa ribu kaki, baik ke atas maupun ke bawah, dapat mencegah terbentuk contrails, dilansir dari Phys.org, Rabu (18/3/2026).
Mengurangi atau menghindari pembentukan contrail dengan cara ini juga dinilai akan lebih cepat dan murah dibandingkan langkah mitigasi iklim lainnya dalam industri penerbangan.
Sebab, praktik ini dapat langsung diterapkan menggunakan pesawat dan bahan bakar yang ada saat ini.
Namun, para peneliti menyatakan bahwa waktu sangatlah krusial, dan semakin cepat maskapai penerbangan menerapkan kebijakan penghindaran contrail, semakin besar dampak positifnya bagi iklim.
Hasil penelitian mereka telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications.
Baca juga:
Sering lihat jejak putih pesawat di langit? Itu adalah contrail yang memerangkap panas. Studi temukan cara menghilangkannya demi bumi.Penerbangan menyumbang sekitar dua sampai tiga persen emisi karbon dioksida global, tetapi dampak iklim totalnya lebih besar karena efek non-karbon dioksida (CO2), seperti jejak kondensasi.
Minat untuk menghindari jejak kondensasi sendiri telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Salah satunya karena pemerintah dan maskapai penerbangan mencari cara untuk mengurangi dampak iklim penerbangan, sedangkan sektor ini beralih ke bahan bakar rendah karbon.
"Menghindari contrail sering kali sesederhana mengubah jalur penerbangan. Cukup bergeser sedikit ke ketinggian yang lebih tinggi atau lebih rendah untuk menghindari area atmosfer tempat terbentuknya contrail," ujar penulis utama Dr. Jessie Smith, dari Departemen Teknik Cambridge University.
Smith dan rekan-rekannya membuat pemodelan tentang bagaimana penyesuaian ketinggian untuk menghindari contrail dapat memengaruhi jejak iklim penerbangan secara keseluruhan.
Mereka menemukan, program semacam itu, jika diterapkan secara bertahap antara tahun 2035 hingga 2045, dapat menyelamatkan sekitar sembilan persen dari ambang batas suhu dunia yang tersisa sebelum melampaui batas dua derajat celsius dalam Perjanjian Paris.
Namun, mereka juga menemukan bahwa jika tindakan tidak segera diambil, pada tahun 2050 jejak kondensasi pesawat akan menambah sekitar 0,054 derajat celsius pemanasan atau 36 persen lebih banyak daripada pemanasan yang disebabkan oleh CO2 penerbangan selama periode yang sama.
Para peneliti juga menemukan, meskipun pengalihan rute pesawat dapat sedikit meningkatkan penggunaan bahan bakar, pengurangan pemanasan global akibat berkurangnya contrail akan jauh lebih besar daripada kompensasi emisi karbon dioksida tambahan yang dihasilkan.
Sering lihat jejak putih pesawat di langit? Itu adalah contrail yang memerangkap panas. Studi temukan cara menghilangkannya demi bumi.Penerapan penghindaran contrail mengharuskan maskapai penerbangan dan pengatur lalu lintas udara menyesuaikan rute secara dinamis berdasarkan kondisi atmosfer.
Beberapa ahli penerbangan telah menyatakan kekhawatiran mengenai apakah perubahan tersebut dapat meningkatkan beban kerja sistem manajemen lalu lintas udara.
Namun, para peneliti menyatakan bahwa penyesuaian yang diperlukan mungkin relatif kecil.
Penerbangan saat ini sudah sering mengubah rute atau ketinggian untuk menghindari turbulensi atau cuaca buruk, yang berarti sistem serupa berpotensi digunakan untuk menghindari wilayah-wilayah yang memicu pembentukan contrail.
"Ini adalah perubahan operasional, bukan perubahan teknologi, tidak perlu memodifikasi pesawatnya. Anda hanya perlu mengatur bagaimana cara pengoperasiannya, dan sistemnya sendiri sudah tersedia untuk itu, pilot melakukan manuver seperti ini setiap saat," kata Smith.
Itulah mengapa peneliti memiliki harapan lebih besar pada metode ini dibandingkan intervensi lain, seperti bahan bakar penerbangan berkelanjutan yang menghadapi hambatan besar pada infrastruktur dan rantai pasokan.
Lebih lanjut, menggunakan model iklim yang melacak respons suhu di 10.000 skenario simulasi, para peneliti menemukan bahwa memulai penghindaran contrail pada tahun 2035 daripada 2045 menghasilkan penurunan suhu pada tahun 2050 yang setara dengan peningkatan efektivitas sekitar 78 persen.
Dengan kata lain, menunda selama satu dekade memiliki efek yang hampir sama dengan membuat program tersebut menjadi hampir lima kali lipat kurang efisien,
Menurut Smith, pendekatan ini dapat memainkan peran besar dalam strategi iklim industri penerbangan.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya