Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Lumut Bantu Serap Polusi Udara dan Kurangi Risiko Badai Besar

Kompas.com, 24 Maret 2026, 08:30 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Phys.org

KOMPAS.com - Lumut di tepi jalan raya disebut bisa membantu mengurangi polusi udara dan memperlambat aliran air hujan saat badai besar.

Sejumlah negara di Eropa telah bereksperimen dengan mengadopsi lumut sebagai solusi berbasis alam (nature based-solution/NbS) untuk menyerap polusi udara di perkotaan.

Baca juga:

‎"Salah satu fitur lumut yang paling menarik adalah kemampuannya menyerap zat-zat dari atmosfer. Lumut dapat mengakumulasi polutan seperti logam berat," ujar Pedram Vousoughi dari University of Limerick, Irlandia, dilansir dari The Conversation via Phys.org, Senin (23/3/2026).

Lumut bantu serap polusi udara dan perlambat aliran air hujan

Tak butuh perawatan rutin dan kaya manfaat

‎Lumut umumnya berukuran kecil tanpa akar atau bunga. Alih-alih mengambil nutrisi dari tanah seperti kebanyakan tumbuhan, tumbuhan ini menyerap air dan mineral langsung dari udara.

Bahkan, lumut menawarkan lebih banyak manfaat dibandingkan rumput yang mampu menstabilkan tanah, sekaligus menjaga kebersihan lanskap di tepi jalan.

Lumut bisa tumbuh di tanah yang tipis, area teduh, dan permukaan terbuka yang mana rumput sering kali kesulitan tumbuh.

Setelah tumbuh, lumut juga membutuhkan perawatan yang sangat sedikit. Tidak seperti rumput, lumut tumbuh lambat dan tetap rendah di permukaan tanah.

Hal itu berarti lumut di pinggir jalan akan membutuhkan lebih sedikit pemangkasan, yang berpotensi mengurangi biaya tenaga kerja dan perawatan di sepanjang ribuan kilometer jalan.

Para ilmuwan telah menggunakan lumut selama beberapa dekade sebagai bioindikator, organisme hidup yang digunakan untuk memantau polusi lingkungan.

Berdasarkan pengamatan eksperimental, lumut mampu menunjukkan respons fisik yang terlihat terhadap polusi udara.

Misalnya, lumut yang terpapar lingkungan yang sangat tercemar telah diamati berubah warna dari hijau segar menjadi kecoklatan.

Baca juga:

Lumut bisa menangkap polutan

Lumut disebut bisa membantu mengurangi polusi udara dan memperlambat aliran air hujan saat badai besar.pixabay.com Lumut disebut bisa membantu mengurangi polusi udara dan memperlambat aliran air hujan saat badai besar.

Studi terbaru melakukan survei menggunakan sampel lumut untuk melacak tingkat polusi udara di puluhan negara Eropa.

Temuan dari survei tersebut menunjukkan, lumut dapat menangkap polutan, termasuk senyawa nitrogen dan partikel, yang keduanya dihasilkan oleh emisi lalu lintas.

Jika tumbuh di samping jalan raya yang ramai, lumut dapat membantu menangkap sebagian polusi udara sebelum menyebar ke ekosistem sekitarnya atau komunitas terdekat.

Di sisi lain, lumut juga mempunyai manfaat potensial lainnya terkait dengan air. Banyak spesies lumut bertindak bak spons alami, artinya tumbuhan itu bisa menyerap air beberapa kali lipat dari beratnya sendiri dan melepaskannya secara perlahan dari waktu ke waktu.

Di lereng pinggir jalan, kemampuan itu bisa membantu memperlambat aliran air hujan selama badai besar.

Aliran air yang deras dari jalan dan tanggul dapat membebani sistem drainase dan menyebabkan banjir bandang. Dengan menyimpan air sementara, lumut dapat mengurangi kecepatan aliran air hujan ke saluran pembuangan pinggir jalan.

‎Kemampuan lumut cocok untuk banyak jalan utama di kota-kota Eropa yang padat dan berada dekat dengan area pemukiman.

Sebagai vegetasi yang mampu mengurangi polusi dan aliran air, lumut memberikan manfaat lingkungan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau