Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Diskon dari China Dicabut, Harga Panel Surya di Afrika Terancam Naik

Kompas.com, 26 Maret 2026, 14:31 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pertumbuhan pemasangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Afrika disebut akan segera berakhir. Sebab, China akan mencabut skema diskon pemasangan panel surya di Afrika, yang bisa menyebabkan harganya jadi lebih mahal. 

China akan menghapus potongan pajak pertambahan nilai (PPN) atas ekspor panel surya ke Afrika mulai awal April 2026, tepatnya Rabu (1/4/2026). 

Baca juga:

Pada awal tahun 2027, China juga akan secara bertahap menghapus insentif untuk pembuatan peralatan penyimpanan energi atau baterai.

Kebijakan China tersebut akan meningkatkan harga pemasangan panel surya, mengakhiri era PLTS sebagai sumber energi termurah di Afrika.

“Kita kemungkinan akan melihat kenaikan harga panel surya di Afrika karena sebagian besar komponennya berasal dari China. Penghapusan subsidi akan menambah biaya yang sudah ada, terutama jika mempertimbangkan pengiriman, logistik, dan biaya impor lainnya," ujar analis energi bersih Afrika, Wangari Muchiri, dilansir dari Euronews, Kamis (26/3/2026).

Afrika akan membayar semakin mahal untuk berbagai peralatan tenaga surya dibandingkan kawasan lainnya karena biaya transportasi dan volume ekspor yang lebih kecil.

Subsidi China disetop, panel surya di Afrika bisa lebih mahal

Di balik perubahan kebijakan China

China disebut akan menghentikan skema diskon pajak ekspor panel surya di Afrika. Era panel surya murah akan segera berakhir?SHUTTERSTOCK/DIYANA DIMITROVA China disebut akan menghentikan skema diskon pajak ekspor panel surya di Afrika. Era panel surya murah akan segera berakhir?

Pencabutan subsidi pajak mencerminkan perubahan situasi di China usai persaingan sengit antar produsen yang menekan harga modul surya hingga serendah 0,06 euro atau setara Rp 1.150 per watt tahun 2025, dari 0,22 euro atau setara Rp 4.298.

Harga modul panel surya dari China, yang telah menedorong adopsi PLTS secara global, telah mengakibatkan banyak perusahaan produsen mengalami kerugian besar.

Sejumlah perusahaan China memasukkan potongan PPN ke dalam harga ekspor mereka, yang secara efektif mentransfer subsidi tersebut kepada pembeli luar negeri.

Namun, Negeri Tirai Bambu telah mengurangi pembayaran tersebut seiring dengan upaya mengendalikan kelebihan kapasitas dan beralih ke teknologi yang lebih maju.

Alih-alih guncangan tajam, hilangnya potongan tersebut kemungkinan akan secara bertahap menaikkan biaya, yang menstabilkan harga dasar global untuk panel surya.

“Perubahan-perubahan tersebut signifikan, tapi tidak bersifat bencana. Seluruh ledakan energi surya baru-baru ini dibangun di atas harga murah buatan dari Tiongkok. Era itu sekarang akan berakhir," tutur CEO Asosiasi Industri Tenaga Surya Afrika, John van Zuylen.

Ketika potongan harga struktural dihapus, eksportir biasanya akan menanggung biaya tersebut, menaikkan harga atau mengurangi diskon.

Negara-negara Afrika akan mengalami hal tersebut sebagai konsekuensinya, dengan kenaikan harga secara bertahap.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau