Studi ini juga menyoroti adanya efek samping yang tidak terduga. Beberapa proyek lebih memilih menanam satu jenis pohon saja yang cepat tumbuh demi menyerap karbon sebanyak mungkin.
Padahal, cara ini justru merusak keragaman makhluk hidup dan membuat ekosistem jadi rapuh.
Pada saat yang sama, alam dijadikan "barang dagangan" sehingga masyarakat lokal bisa terpinggirkan. Biaya yang mahal dan syarat teknis yang rumit membuat proyek kecil milik warga lokal sulit ikut serta.
Hal ini berisiko memicu perampasan lahan hijau, yang mana lahan warga diambil alih demi keuntungan proyek karbon.
Meskipun ada banyak kekhawatiran, studi ini tidak menolak pasar karbon sepenuhnya. Sebaliknya, studi tersebut menyarankan agar pasar karbon digabungkan dengan aturan pemerintah yang lebih luas, pelibatan masyarakat lokal, serta berbagai sumber pendanaan lainnya.
"Sikap optimistis bahwa proyek ini bisa mendukung pelestarian alam harus dibatasi," tulis para penulis dalam studi tersebut.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya