Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pengamat UGM Sebut Pemerintah Harus Batasi BBM Subsidi Saat Harga Minyak Naik

Kompas.com, 31 Maret 2026, 09:39 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi menilai, Pemerintah Indonesia perlu batasi penjualan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di tengah gejolak harga minyak.

Sebagaimana diketahui, kelangkaan pasokan dan kenaikan harga minyak disebabkan penutupan Selat Hormuz akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel versus Iran. Saat ini, harga minyak mentah dunia menembus 110 dollar AS (sekitar Rp 1,87 juta) per barrel yang mengarah pada darurat energi global.

Baca juga: 

"Sesungguhnya ada satu opsi kebijakan untuk mengatasi masalah jangka pendek tersebut. Opsi itu adalah pembatasan BBM subsidi agar tepat sasaran, yang jumlahnya diperkirakan mencapai Rp 120 triliun per tahun," kata Fahmy dalam keterangannya, Selasa (31/3/2026).

Usulan batasi BBM bersubsidi saat harga minyak naik

Tantangan ada pada mekanisme

Pada era kepemimpinan Presiden Joko Widodo lalu, lanjut dia, kebijakan pembatasan BBM bersubsidi hanya berupa wacana yang tidak pernah diterapkan hingga saat ini.

Menurut Fahmy, salah satu tantangan penerapan kebijakan itu terletak pada mekanismenya.

"Pertamina pernah uji coba penggunaan MyPertamina tetapi gagal. Saat ini digunakan barcode untuk membatasi pembelian BBM subsidi, namun banyak kendaraan pribadi yang mendapatkan barcode dengan mudah," jelas dia.

Oleh karenanya, ia mengusulkan penggunaan mekanisme sederhana dengan menetapkan kendaraan yang diperbolehkan menggunakan BBM subsidi.

Kendaraan yang dimaksud antara lain sepeda motor, angkutan orang, dan kendaraan angkutan barang kebutuhan pokok.

Sementara itu, mobil pribadi harus beralih dari penggunaan BBM subsidi ke BBM non-subsidi.

Konflik global picu darurat energi. Pengamat UGM usul pembatasan BBM subsidi.Freepik/jcomp Konflik global picu darurat energi. Pengamat UGM usul pembatasan BBM subsidi.

"Kalau pembatasan subsidi BBM tersebut berhasil maka sekitar Rp 120 triliun dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang dapat dihemat sehingga pemerintah tidak perlu menaikan harga BBM subsidi dalam waktu dekat ini," tutur Fahmy.

Dia menambahkan, hampir semua negara berpotensi terdampak darurat energi global, termasuk Indonesia. Sejauh ini banyak negara sudah menetapkan kebijakan untuk meminimkan dampak darurat energi global tersebut.

"Kendati negara-negara lain sudah menetapkan kebijakan mengatasi darurat energi, Indonesia masih adem-ayem, belum menetapkan kebijakan dan upaya riil," ucap Fahmy.

Di sisi lain, pemerintah telah menggulirkan sejumlah kebijakan penghematan energi, seperti rencana work from home (WFH atau kerja dari rumah) bagi aparatur sipil negara, konversi kendaraan berbahan bakar minyak ke listrik, serta percepatan transisi energi.

Meski demikian, Fahmy menilai kebijakan tersebut lebih bersifat jangka panjang dan kurang efektif untuk merespons kondisi darurat energi saat ini.

"Kebijakan yang diwacanakan itu merupakan solusi masalah jangka panjang," imbuh dia.

Baca juga: 

Harga BBM naik?

Konflik global picu darurat energi. Pengamat UGM usul pembatasan BBM subsidi.KOMPAS.com/KRISTIANTO PURNOMO Konflik global picu darurat energi. Pengamat UGM usul pembatasan BBM subsidi.

PT Pertamina (Persero) angkat bicara terkait isu yang beredar luas di media sosial soal kenaikan BBM April 2026, dilaporkan oleh Kompas.com, Selasa (31/3/2026). 

Namun, Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyebut informasi yang beredar di media sosial tidak dapat dipastikan kebenarannya.

Dia menegaskan, kabar lonjakan harga BBM secara signifikan per Rabu (1/4/2026) bukan berasal dari sumber resmi.

“Informasi proyeksi kenaikan harga BBM yang beredar tidak dapat dipertanggungjawabkan, hingga saat ini belum ada pengumuman resmi mengenai harga per 1 April 2026,” kata Baron.

Pertamina lantas mengimbau masyarakat untuk tidak mudah percaya pada informasi yang belum terverifikasi dan hanya merujuk pada kanal resmi perusahaan. 

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
ASN Didorong Manfaatkan AI untuk Tingkatkan Evaluasi Kebijakan Publik
Pemerintah
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
Wilayah China Tengah Diidentifikasi Jadi Pusat Keanekaragaman Hayati Global Terbaru
LSM/Figur
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
IESR: Pemerintah Harus Transparan Ungkap Data Pasokan Energi ke Publik
LSM/Figur
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau