Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bapanas Sebut Papua Selatan Jadi Provinsi Paling Rawan Pangan dan Risiko Bencana

Kompas.com, 30 Maret 2026, 20:10 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Papua Selatan disebut jadi provinsi dengan tingkat kerawanan pangan dan risiko bencana tertinggi di Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (Bapanas), sebanyak 17 dari 48 kabupaten kota di seluruh Pulau Papua tergolong rawan pangan. Papua Selatan merupakan provinsi yang berisiko mengalami rawan pangan akibat bencana.

Baca juga:

"Sudah dipeta merah (Food Security and Vulnerability Atlas/FSVA 2025), mengalami bencana sehingga mempunyai dampak yang lebih signifikan terhadap situasi ketahanan pangan ketika wilayah-wilayah di Papua Selatan ini mengalami bencana," kata Direktur Pengendali Kerawanan Pangan Bapanas, Sri Nuryanti, dalam webinar Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim Ekstrem sebagai Strategi Ketahanan Pangan di Wilayah Rawan Bencana, Senin (30/3/2026).

Sri meminta Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) di Papua Selatan lebih proaktif dalam memitigasi kerentanan kerawanan pangan, serta mengantisipasi dan menanggulangi risiko bencana.

Papua Selatan, rawan pangan dan risiko bencana tertinggi

Food Security and Vulnerability Atlas 2025

Direktur Pengendali Kerawanan Pangan Bapanas, Sri Nuryanti saat menjelaskan peta ketahanan dan kerawanan pangan tahun 2025 dalam webinar Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim Ekstrem sebagai Strategi Ketahanan Pangan di Wilayah Rawan Bencana, Senin (30/3/2026).Kompas.com/Manda Firmansyah Direktur Pengendali Kerawanan Pangan Bapanas, Sri Nuryanti saat menjelaskan peta ketahanan dan kerawanan pangan tahun 2025 dalam webinar Diseminasi Inovasi Pangan Tahan Iklim Ekstrem sebagai Strategi Ketahanan Pangan di Wilayah Rawan Bencana, Senin (30/3/2026).

Peta ketahanan dan kerawanan pangan (FSVA) tahun 2025 menjadi sumber informasi dalam penentuan program pengentasan daerah rentan rawan pangan.

FSVA tahun 2025 juga menjadi rujukan untuk penentuan program penurunan stunting, pengurangan kemiskinan, serta pembangunan desa dan ketahanan pangan lintas sektor.

Peta tersebut bisa menjadi acuan untuk pencapaian target pembangunan jangka menengah (RPJMN) 2025-2029.

FSVA menunjukkan mengapa kabupaten/kota diketagorikan rentan rawan pangan berdasarkan 12 indikator penyusunnya itu. Berdasarkan data tahun 2025, sebanyak 81 kabupaten/kota tergolong rentan rawan pangan.

Daerah-daerah rentan rawan pangan umumnya berada di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), serta perbatasan. FSVA tahun 2025 menunjukkan, daerah rentan rawan pangan terkonsentrasi di wilayah timur Indonesia.

Adapun data FSVA tahun 2024 hampir tidak berubah banyak dengan data pada 2025, dengan indikator tertinggi risiko rawan pangan masih tetap kemiskinan. Namun, ada pergeseran indikator risiko rawan pangan tertinggi kedua, dari pendidikan rendah, menjadi wilayah yang tidak memperoleh paket layanan penanggulangan stunting.

"Karena stunting terjadi akibat infeksi berulang selama 40 minggu pertama kehidupannya di dalam janin ibu yang telah mengandungnya, yang ibunya mengalami infeksi karena mengonsumsi pangan yang tidak aman dari cemaran biologi, fisik, kimia, dan benda lain, sehingga bayi yang dilahirkannya pendek dan kecil. Dapat dikatakan langsung bahwa mengalami rawan pangan secara kronis," terang Sri.

Baca juga:

Dampak bencana

Daerah dengan potensi bencana memiliki risiko peningkatan kerawanan pangan 1,25 kali lebih besar daripada yang tidak.

Dari data tersebut, kata Sri, indikator potensi bencana tidak terlalu berdampak terhadap peningkatan kerawanan pangan.

"Bermakna bahwa walaupun tidak mengalami bencana, tetapi kalau produksinya tidak cukup, tidak punya cadangan pangan, banyak yang lapar secara tersembunyi, Prevalence of Undernourishment (PoU)-nya tinggi, lalu protein hewaninya tidak ada, pangan yang beredar tidak aman, mereka berisiko untuk mengalami rawan pangan, rentan rawan pangan maksud saya," ucapnya.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau