Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Agus Supangat
Ilmuwan Senior di Pusat Perubahan Iklim, ITB

Sebagai penulis yang juga dikenal lewat SEGORO 21 : Novel Fiksi Ilmiah Perubahan Iklim https://ebooks.gramedia.com/id/buku/segoro-21 (OKE) ANOS 2070 : Novel Fiksi Ilmiah Perubahan Iklim https://ebooks.gramedia.com/id/buku/oke-anos-2070 BUMI MERDEKA : ANTARTIKA, Kisah Perjalanan https://ebooks.gramedia.com/id/buku/bumi-merdeka-antartika JALAN JALAN KE ANTARTIKA, Kisah Perjalanan https://ebooks.gramedia.com/id/buku/jalan-jalan-ke-antartika Namun saya tetap menulis, tanpa lelah, dengan keyakinan sederhana: kata² dapat membuka jalan alternatif—cara lain memandang dunia, bukan sebagai sumber daya mati, melainkan sebagai entitas hidup yang penuh misteri.

Menavigasi Normal Baru di Era "Overshoot" Iklim

Kompas.com, 30 Maret 2026, 15:50 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

DUNIA tidak lagi sedang berdiri di ambang pintu perubahan iklim; kita telah melangkah melewatinya.

Laporan terbaru yang disitir dalam editorial Nature Climate Change (Maret 2026) memberikan konfirmasi getir: bumi telah memasuki era overshoot.

Fenomena ini merujuk pada kondisi di mana kenaikan suhu global secara sementara telah melampaui ambang batas kritis 1,5 derajat Celsius yang ditetapkan dalam Perjanjian Paris 2015.

Apa yang dahulu dianggap sebagai skenario terburuk dalam pemodelan komputer, kini menjadi realitas harian yang mendesak.

Di Indonesia, awal April ini kita menyaksikan pola cuaca yang kian sulit ditebak. Transisi musim yang biasanya membawa kesejukan pasca-puncak hujan kini justru sering kali diiringi gelombang panas yang menyengat atau intensitas hujan ekstrem yang memicu banjir bandang, seperti yang melanda sebagian wilayah Sumatera tahun lalu.

Baca juga: Ketika Perang Memanaskan Bumi

Realitas overshoot ini bukan sekadar angka statistik dalam jurnal ilmiah, melainkan sinyal bahwa daya dukung ekosistem kita sedang berada pada titik nadir.

Pergeseran Paradigma: Dari Mitigasi ke Adaptasi

Selama satu dekade terakhir, narasi besar penanganan perubahan iklim didominasi oleh mitigasi—upaya menahan laju emisi.

Namun, ketika ambang 1,5 derajat Celsius terlampaui, mitigasi saja tidak lagi memadai. Kita memerlukan pergeseran paradigma yang berani.

Overshoot menuntut kita untuk menempatkan adaptasi dan teknologi emisi negatif sebagai pilar utama kebijakan negara, tanpa mengabaikan komitmen emisi nol bersih (net-zero emission).

Editorial Nature menegaskan bahwa penundaan aksi global telah mengubah wajah risiko iklim menjadi lebih kompleks.

Risiko tersebut kini bersifat irreversible atau tak terpulihkan, seperti mencairnya lapisan es abadi dan pergeseran ekosistem laut.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, risiko ini bersifat eksistensial. Kenaikan permukaan air laut bukan lagi ancaman masa depan, melainkan pencuri perlahan yang menggerus garis pantai dan ruang hidup masyarakat pesisir kita.

Ketidakpastian ini menuntut perencanaan adaptasi yang lebih dinamis. Model pembangunan yang kaku dan berbasis data masa lalu tidak lagi relevan untuk menghadapi masa depan yang volatil.

Kita membutuhkan infrastruktur yang tidak hanya kokoh secara fisik, tetapi juga lentur secara fungsi dalam merespons anomali iklim yang ekstrem.

Dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045, agenda perubahan iklim harus diletakkan sebagai jantung dari pembangunan nasional, bukan sekadar lampiran kebijakan lingkungan.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan 'Skill Editing' Dihargai Rp 0
Pekerja Industri Kreatif Kecewa Ide dan "Skill Editing" Dihargai Rp 0
Pemerintah
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau