Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Biaya Jadi Hambatan Pola Makan Ramah Lingkungan

Kompas.com, 30 Maret 2026, 15:31 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber trellis

KOMPAS.com - Biaya jadi hambatan utama bagi masyarakat untuk makan sehat dan ramah lingkungan, bukan karena mereka enggan, menurut penelitian terbaru.

Penelitian ini menunjukkan minimnya pilihan untuk mengonsumsi makanan sehat dan ramah lingkungan bukan karena sikap konsumen, melainkan karena sistem pangan yang membuat harga makanan sehat menjadi mahal, dilansir dari Trellis, Senin (30/3/2026).

Baca juga:

Biaya jadi hambatan masyarakat makan sehat

Faktor akses dan kurang pengetahuan

Biaya jadi hambatan utama bagi masyarakat untuk makan sehat dan ramah lingkungan, bukan karena mereka enggan, menurut penelitian terbaru.freepik Biaya jadi hambatan utama bagi masyarakat untuk makan sehat dan ramah lingkungan, bukan karena mereka enggan, menurut penelitian terbaru.

Penelitian konsumen dari GlobeScan dan EAT memperlihatkan adanya kesenjangan nyata antara keinginan dan kenyataan dalam memilih makanan.

Meski minat masyarakat dunia untuk beralih ke diet sehat dan ramah lingkungan tetap tinggi, masalah harga menjadi hambatan paling umum yang membuat mereka sulit membeli makanan tersebut.

Selain masalah biaya, faktor akses dan kurangnya pengetahuan juga memengaruhi perilaku konsumen. Banyak responden mengeluhkan terbatasnya ketersediaan pilihan makanan sehat dan ramah lingkungan.

Selain itu, mereka juga kurang akrab dengan merek-merek yang ada, serta merasa bingung mengenai kriteria makanan apa yang sebenarnya dianggap sehat dan berkelanjutan.

Secara keseluruhan, hambatan-hambatan ini menunjukkan bahwa masalah utamanya terletak pada lingkungan penyedia pangan, bukan pada sikap atau niat konsumennya.

Penelitian juga menemukan sebagian kecil orang merasa bahwa diet sehat dan ramah lingkungan itu tidak berharga atau tidak penting.

Hal ini memperkuat salah satu temuan utama penelitian ini yaitu kemajuan untuk beralih ke pola makan sehat dan berkelanjutan tidak lagi bergantung pada upaya mengubah pola pikir orang, melainkan pada bagaimana menghilangkan hambatan praktis yang menghalangi konsumen untuk mewujudkan niat baik yang sudah mereka miliki.

Baca juga:

Biaya jadi hambatan utama bagi masyarakat untuk makan sehat dan ramah lingkungan, bukan karena mereka enggan, menurut penelitian terbaru.Dok. Freepik/Freepik Biaya jadi hambatan utama bagi masyarakat untuk makan sehat dan ramah lingkungan, bukan karena mereka enggan, menurut penelitian terbaru.

Lebih lanjut, studi ini pun menunjukkan perlunya pergeseran strategi, dari yang semula bersifat ajakan menjadi pemberdayaan.

Hal itu adalah peluang nyata untuk membuka nilai pasar, sekaligus mendukung kesehatan yang lebih baik dan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.

Konsumen bukannya menolak diet sehat dan ramah lingkungan, mereka hanya menghadapi kendala praktis yang membatasi tindakan mereka.

Dengan meningkatkan keterjangkauan harga, memperluas ketersediaan produk, dan memperjelas kriteria makanan sehat, permintaan yang sudah ada bisa diubah jadi pertumbuhan pasar yang berkelanjutan.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Gandeng IAEA dan Negara Mitra, Singapura Matangkan Pemanfaatan PLTN
Pemerintah
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
RI-Jepang Perkuat Kerja Sama Kehutanan dan Konservasi
Pemerintah
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Pendaftaran SATU Indonesia Awards Resmi Dibuka, Cek Persyaratannya
Swasta
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Harga CPO Global Diproyeksi Naik pada Q2 2026, Dipicu Ketegangan Timur Tengah
Swasta
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Transformasi Hijau Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi China
Pemerintah
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
Auriga Ungkap Deforestasi Indonesia Naik 66 Persen, Terluas di Kalimantan
LSM/Figur
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Meski Menjijikkan, Kecoak Bisa Menjadi Solusi atasi Sampah Plastik
Pemerintah
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Program Rumpon Bantu Nelayan Wawonii Tenggara Lebih Terencana
Swasta
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
UT Corporate University Dapat Sertifikat Hijau, Hemat Energi hingga 67 Persen
Swasta
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Uni Eropa Borong Panel Surya hingga EV di Tengah Krisis Energi
Pemerintah
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Jelang Kemarau, Hujan Diprediksi Masih Terjadi di Indonesia hingga Sepekan ke Depan
Pemerintah
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
Mengintip Desa Manemeng yang Kembangkan Ekonomi Berbasis Gotong Royong dan Potensi Lokal
BUMN
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Anthropic dan OpenAI Rekrut Spesialis Bahan Peledak, Cegah AI Disalahgunakan
Swasta
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Bahan Kimia Abadi PFAS Berpotensi Picu Kerugian Bagi Perusahaan
Pemerintah
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
Kimchi Bantu Bersihkan Tubuh dari Nanoplastik, Benarkah?
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau