KOMPAS.com - Biaya jadi hambatan utama bagi masyarakat untuk makan sehat dan ramah lingkungan, bukan karena mereka enggan, menurut penelitian terbaru.
Penelitian ini menunjukkan minimnya pilihan untuk mengonsumsi makanan sehat dan ramah lingkungan bukan karena sikap konsumen, melainkan karena sistem pangan yang membuat harga makanan sehat menjadi mahal, dilansir dari Trellis, Senin (30/3/2026).
Baca juga:
Biaya jadi hambatan utama bagi masyarakat untuk makan sehat dan ramah lingkungan, bukan karena mereka enggan, menurut penelitian terbaru.Penelitian konsumen dari GlobeScan dan EAT memperlihatkan adanya kesenjangan nyata antara keinginan dan kenyataan dalam memilih makanan.
Meski minat masyarakat dunia untuk beralih ke diet sehat dan ramah lingkungan tetap tinggi, masalah harga menjadi hambatan paling umum yang membuat mereka sulit membeli makanan tersebut.
Selain masalah biaya, faktor akses dan kurangnya pengetahuan juga memengaruhi perilaku konsumen. Banyak responden mengeluhkan terbatasnya ketersediaan pilihan makanan sehat dan ramah lingkungan.
Selain itu, mereka juga kurang akrab dengan merek-merek yang ada, serta merasa bingung mengenai kriteria makanan apa yang sebenarnya dianggap sehat dan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, hambatan-hambatan ini menunjukkan bahwa masalah utamanya terletak pada lingkungan penyedia pangan, bukan pada sikap atau niat konsumennya.
Penelitian juga menemukan sebagian kecil orang merasa bahwa diet sehat dan ramah lingkungan itu tidak berharga atau tidak penting.
Hal ini memperkuat salah satu temuan utama penelitian ini yaitu kemajuan untuk beralih ke pola makan sehat dan berkelanjutan tidak lagi bergantung pada upaya mengubah pola pikir orang, melainkan pada bagaimana menghilangkan hambatan praktis yang menghalangi konsumen untuk mewujudkan niat baik yang sudah mereka miliki.
Baca juga:
Biaya jadi hambatan utama bagi masyarakat untuk makan sehat dan ramah lingkungan, bukan karena mereka enggan, menurut penelitian terbaru.Lebih lanjut, studi ini pun menunjukkan perlunya pergeseran strategi, dari yang semula bersifat ajakan menjadi pemberdayaan.
Hal itu adalah peluang nyata untuk membuka nilai pasar, sekaligus mendukung kesehatan yang lebih baik dan sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Konsumen bukannya menolak diet sehat dan ramah lingkungan, mereka hanya menghadapi kendala praktis yang membatasi tindakan mereka.
Dengan meningkatkan keterjangkauan harga, memperluas ketersediaan produk, dan memperjelas kriteria makanan sehat, permintaan yang sudah ada bisa diubah jadi pertumbuhan pasar yang berkelanjutan.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya