Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 6 Januari 2026, 11:15 WIB
Devi Pattricia,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bagi banyak orang, uban identik dengan penuaan, stres, atau perubahan besar dalam hidup. Namun, kebiasaan mencabut uban ternyata bukan solusi yang bijak. 

Alih-alih menghilangkannya, kebiasaan ini justru bisa membawa dampak buruk bagi kesehatan rambut dan kulit kepala. Lantas, mengapa mencabut uban sebaiknya dihindari?

Salah satu kepercayaan yang paling sering beredar adalah anggapan bahwa mencabut satu uban akan memicu tumbuhnya banyak uban baru. Faktanya, anggapan ini hanyalah mitos.

Penata rambut sekaligus creative director of education di SACHAJUAN, Trey Gillen menegaskan, uban tidak bisa menular ke rambut di sekitarnya. 

Baca juga: Mengapa Anak Muda Sudah Beruban? Belajar dari Nadya Hutagalung yang Bangga Punya Uban

“Rambut di sekelilingnya tidak akan berubah menjadi putih sampai sel pigmen di folikel masing-masing benar-benar mati,” jelas Gillen, seperti disadur Real Simple, Selasa (6/1/2026).

Setiap helai rambut tumbuh dari satu folikel yang berdiri sendiri. Ketika sebuah rambut berubah menjadi abu-abu atau putih, itu berarti sel pigmen di folikel tersebut sudah tidak lagi memproduksi melanin. 

Singkatnya, apa yang terjadi pada satu folikel tidak memengaruhi folikel lain di sekitarnya.

Baca juga: 5 Cara Mencegah Uban Muncul di Usia Dini

Mencabut uban tidak menghentikan proses alami

Banyak orang berharap mencabut uban bisa menjadi cara “menghapus” tanda penuaan. Padahal, hasilnya justru sia-sia. Rambut yang tumbuh kembali dari folikel tersebut tetap akan berwarna abu-abu atau putih.

“Dengan kata lain, mencabut uban hanya akan digantikan oleh uban baru di tempat yang sama,” ujar Gillen.

Proses ini hanya menunda kemunculan uban untuk sementara, tanpa mengubah warna rambut yang akan tumbuh berikutnya. Artinya, mencabut uban sama sekali tidak memberikan manfaat jangka panjang.

Baca juga: 8 Tips Menebalkan Rambut dengan Efektif, Mulai dari Jaga Pola Makan

IlustrasiFREEPIK Ilustrasi

Mengapa uban sebaiknya tidak dicabut?

Alasan terpenting untuk menghentikan kebiasaan mencabut uban adalah risiko kerusakan folikel rambut. Setiap kali rambut dicabut secara paksa, folikel mengalami trauma.

“Plucking atau mencabut rambut dapat melukai folikel rambut, dan jika dilakukan berulang kali, folikel tersebut bisa rusak hingga tidak mampu menumbuhkan rambut lagi,” tutur Gillen.

Dalam kondisi terburuk, kebiasaan ini dapat menyebabkan area tertentu di kulit kepala tidak lagi ditumbuhi rambut. 

Uban mungkin saja hilang, namun seseorang justru berisiko mengalami penipisan rambut atau bahkan kebotakan pada titik-titik tertentu.

Baca juga: Potret Luna Maya Tampil Fresh dengan Rambut Bob di Tahun 2026

Bisa menyebabkan infeksi dan kebotakan lokal

Risiko mencabut uban tidak berhenti pada kerusakan folikel saja. Jika dilakukan berulang dan tidak higienis, kebiasaan ini juga bisa memicu infeksi.

Halaman:


Terkini Lainnya
Intip Foto Prewedding Justin Hubner dan Jennifer Copper, Anggun dengan Busana Adat Jawa
Intip Foto Prewedding Justin Hubner dan Jennifer Copper, Anggun dengan Busana Adat Jawa
Fashion
Bercanda Boleh, Ini Batas Aman Prank Saat April Fools Menurut Psikolog
Bercanda Boleh, Ini Batas Aman Prank Saat April Fools Menurut Psikolog
Wellness
Jangan Asal Ikut Tren, Operasi Plastik Harus Perhatikan Harmoni Wajah
Jangan Asal Ikut Tren, Operasi Plastik Harus Perhatikan Harmoni Wajah
Beauty & Grooming
Kenapa Orang Suka Membuat Prank Saat April Fools? Ini Penjelasan Psikolog
Kenapa Orang Suka Membuat Prank Saat April Fools? Ini Penjelasan Psikolog
Wellness
Hubungan Rawan Konflik, 2 Shio Ini Tidak Cocok dengan Shio Babi
Hubungan Rawan Konflik, 2 Shio Ini Tidak Cocok dengan Shio Babi
Relationship
120 Ucapan Ulang Tahun Islami untuk Perempuan, Penuh Doa dan Menyentuh Hati
120 Ucapan Ulang Tahun Islami untuk Perempuan, Penuh Doa dan Menyentuh Hati
Wellness
7 Rahasia Tampil Trendi untuk Perempuan Usia 60 Tahun
7 Rahasia Tampil Trendi untuk Perempuan Usia 60 Tahun
Fashion
Anak Tantrum saat Gadget Diambil? Ini Cara Mengatasinya Menurut Psikolog
Anak Tantrum saat Gadget Diambil? Ini Cara Mengatasinya Menurut Psikolog
Wellness
Kematian Ibu Melahirkan Tinggi di Jember, 10 Meninggal di Awal 2026
Kematian Ibu Melahirkan Tinggi di Jember, 10 Meninggal di Awal 2026
Wellness
Tradisi April Fools di Berbagai Negara, dari Tempel Ikan hingga Kirim Misi Palsu
Tradisi April Fools di Berbagai Negara, dari Tempel Ikan hingga Kirim Misi Palsu
Wellness
Apa Itu April Fools? Tradisi Iseng 1 April yang Punya Sejarah dan Cerita Unik
Apa Itu April Fools? Tradisi Iseng 1 April yang Punya Sejarah dan Cerita Unik
Wellness
4 Tips Memilih Kalung Sesuai Bentuk Leher Busana agar Elegan
4 Tips Memilih Kalung Sesuai Bentuk Leher Busana agar Elegan
Fashion
Kebanyakan Produk Perawatan Berprotein Bisa Merusak Rambut
Kebanyakan Produk Perawatan Berprotein Bisa Merusak Rambut
Beauty & Grooming
Shio Monyet Paling Cocok dengan 3 Shio Ini, Siapa Saja?
Shio Monyet Paling Cocok dengan 3 Shio Ini, Siapa Saja?
Relationship
Caption LDR Singkat Aesthetic yang Bikin Jarak Terasa Dekat
Caption LDR Singkat Aesthetic yang Bikin Jarak Terasa Dekat
Wellness
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau