KOMPAS.com - Anak perempuan tertua sering kali tumbuh dengan peran yang lebih besar dibanding saudara-saudaranya.
Sejak kecil, mereka terbiasa memikul tanggung jawab, menjadi penengah konflik, sekaligus sosok yang diandalkan keluarga.
Fenomena ini dikenal sebagai eldest daughter syndrome, istilah populer yang menggambarkan bagaimana tekanan menjadi anak pertama membentuk karakter, emosi, dan cara mereka berelasi dengan orang lain.
Baca juga: 4 Karakter Anak Perempuan Pertama seperti Oh Ae Sun dalam When Life Gives You Tangerines
“Jalan pintas budaya untuk menggambarkan tekanan anak perempuan tertua agar selalu unggul, kuat, dan terlihat mampu mengurus segalanya,” kata Psikoterapis dan konselor pasangan Benu Lahiry, LMFT, dikutip SELF Magazine, Sabtu (17/1/2026).
Menurutnya, tekanan tersebut memang melelahkan, tetapi juga melahirkan kualitas emosional yang membuat mereka menonjol sebagai pasangan dan sahabat.
Berikut 6 alasan mengapa anak perempuan tertua kerap dinilai sebagai sosok yang hangat, bisa diandalkan, dan penuh empati dalam hubungan.
Sejak kecil, anak perempuan tertua sering diminta membantu mengurus adik, menjaga rumah, atau memastikan semuanya berjalan baik.
Psikolog klinis Sabrina Romanoff, PsyD mengatakan, hal ini membentuk sifat konsisten mereka dalam menepati janji, menjaga komitmen, dan hadir ketika dibutuhkan.
“Mereka biasanya tumbuh menjadi pemimpin alami yang punya naluri merawat orang lain,” ujar dia.
Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga bertindak. Sebagai pasangan atau sahabat, kehadiran mereka memberi rasa aman karena orang tahu mereka tidak mudah menghilang saat situasi sulit.
Menjadi anak tertua berarti terbiasa berada di antara dua dunia, sebagai teladan bagi orangtua dan sebagai kakak yang dekat dengan adik. Posisi ini mengajarkan mereka cara menyeimbangkan kepentingan banyak pihak.
Baca juga: 4 Manfaat Anak Perempuan Dekat dengan Ayahnya Menurut Psikolog
Menurut Lahiry, pengalaman ini membentuk kemampuan anak perempuan tertua dalam mengelola konflik.
“Mereka belajar memahami sudut pandang yang berbeda tanpa langsung menghakimi,” jelasnya.
Dalam hubungan, keterampilan ini membuat mereka mampu meredakan pertengkaran, menjaga komunikasi tetap sehat, dan tidak mudah terpancing emosi.
Anak perempuan tertua dikenal peka membaca situasi. Mereka cepat menyadari perubahan suasana hati orang terdekat, bahkan sebelum diungkapkan secara verbal.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya