Penulis
KOMPAS.com - Sering melihat video atau rekaman bencana di media sosial dapat memicu kembali rasa takut dan kecemasan.
Psikolog menjelaskan paparan konten bencana yang berulang dapat memperparah trauma, terutama bagi orang yang tinggal di daerah rawan bencana.
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., mengatakan konsumsi informasi tentang bencana yang berlebihan dapat membuat seseorang kembali mengingat pengalaman menakutkan yang pernah dialami.
Menurut dia, paparan gambar atau video bencana yang terus muncul di media sosial dapat memperkuat rasa takut yang sudah ada sebelumnya.
Baca juga: Hidup di Bawah Bayang-bayang Bencana, Saat Hujan Turun Rasa Cemas Ikut Datang
Kepada Kompas.com, Minggu (8/3/2026), Danti menjelaskan fenomena ini sering disebut sebagai trauma sekunder, yaitu kondisi ketika seseorang merasakan tekanan mental akibat terus melihat atau mendengar pengalaman traumatis orang lain.
Ketika seseorang berulang kali melihat rekaman bencana, otak dapat merespons seolah-olah ancaman tersebut sedang terjadi kembali.
Akibatnya, seseorang dapat kembali merasakan ketegangan, kecemasan, atau ketakutan.
Baca juga: Hidup di Daerah Langganan Bencana, Warga Kerap Dihantui Rasa Cemas
Ilustrasi cemas. Psikolog menjelaskan terlalu sering melihat rekaman bencana di media sosial dapat memicu trauma sekunder dan memperparah rasa cemas.Menurut Danti, media sosial membuat informasi tentang bencana tersebar dengan sangat cepat.
Dalam waktu singkat, seseorang bisa melihat banyak video atau foto yang menunjukkan situasi yang menegangkan.
Kondisi ini dapat membuat pikiran terus berada dalam keadaan siaga. Otak menjadi lebih mudah mengaitkan berbagai situasi dengan kemungkinan terjadinya bencana.
Akibatnya, rasa cemas dapat muncul lebih sering meskipun situasi sebenarnya aman.
Baca juga: Sering Cemas Saat Hujan atau Mendengar Kabar Bencana? Psikolog Bagikan Cara Mengatasinya
Karena itu, Danti menyarankan masyarakat untuk membatasi konsumsi berita atau konten tentang bencana, terutama ketika informasi tersebut mulai memicu kecemasan.
Membatasi paparan informasi dapat membantu menjaga keseimbangan mental dan mencegah pikiran terus terfokus pada kemungkinan terburuk.
Langkah ini bukan berarti menghindari informasi penting, tetapi lebih pada mengatur jumlah informasi yang dikonsumsi.
Danti menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental ketika menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian.
“Menghadapi alam yang tak menentu memang berat, namun memahami bahwa ada respon mental yang menyertainya adalah hal yang wajar dan merupakan langkah awal untuk menjadi lebih tangguh,” kata Danti.
Dengan mengatur konsumsi informasi dan memahami reaksi mental yang muncul, seseorang dapat lebih tenang menghadapi berbagai kabar tentang bencana yang beredar di media sosial.
Baca juga: Sulit Tidur hingga Mudah Marah, Ini Tanda Trauma Setelah Bencana
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang