Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Terlalu Sering Menonton Video Bencana Bisa Memicu Trauma, Ini Penjelasan Psikolog

Kompas.com, 11 Maret 2026, 06:00 WIB
Ria Apriani Kusumastuti

Penulis

KOMPAS.com - Sering melihat video atau rekaman bencana di media sosial dapat memicu kembali rasa takut dan kecemasan.

Psikolog menjelaskan paparan konten bencana yang berulang dapat memperparah trauma, terutama bagi orang yang tinggal di daerah rawan bencana.

Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., mengatakan konsumsi informasi tentang bencana yang berlebihan dapat membuat seseorang kembali mengingat pengalaman menakutkan yang pernah dialami.

Menurut dia, paparan gambar atau video bencana yang terus muncul di media sosial dapat memperkuat rasa takut yang sudah ada sebelumnya.

Baca juga: Hidup di Bawah Bayang-bayang Bencana, Saat Hujan Turun Rasa Cemas Ikut Datang

Paparan informasi bisa memicu trauma sekunder

Kepada Kompas.com, Minggu (8/3/2026), Danti menjelaskan fenomena ini sering disebut sebagai trauma sekunder, yaitu kondisi ketika seseorang merasakan tekanan mental akibat terus melihat atau mendengar pengalaman traumatis orang lain.

Ketika seseorang berulang kali melihat rekaman bencana, otak dapat merespons seolah-olah ancaman tersebut sedang terjadi kembali.

Akibatnya, seseorang dapat kembali merasakan ketegangan, kecemasan, atau ketakutan.

Baca juga: Hidup di Daerah Langganan Bencana, Warga Kerap Dihantui Rasa Cemas

Media sosial dapat memperkuat rasa takut

Ilustrasi cemas. Psikolog menjelaskan terlalu sering melihat rekaman bencana di media sosial dapat memicu trauma sekunder dan memperparah rasa cemas.iStockphoto/PeopleImages Ilustrasi cemas. Psikolog menjelaskan terlalu sering melihat rekaman bencana di media sosial dapat memicu trauma sekunder dan memperparah rasa cemas.

Menurut Danti, media sosial membuat informasi tentang bencana tersebar dengan sangat cepat.

Dalam waktu singkat, seseorang bisa melihat banyak video atau foto yang menunjukkan situasi yang menegangkan.

Kondisi ini dapat membuat pikiran terus berada dalam keadaan siaga. Otak menjadi lebih mudah mengaitkan berbagai situasi dengan kemungkinan terjadinya bencana.

Akibatnya, rasa cemas dapat muncul lebih sering meskipun situasi sebenarnya aman.

Baca juga: Sering Cemas Saat Hujan atau Mendengar Kabar Bencana? Psikolog Bagikan Cara Mengatasinya

Penting membatasi konsumsi berita

Karena itu, Danti menyarankan masyarakat untuk membatasi konsumsi berita atau konten tentang bencana, terutama ketika informasi tersebut mulai memicu kecemasan.

Membatasi paparan informasi dapat membantu menjaga keseimbangan mental dan mencegah pikiran terus terfokus pada kemungkinan terburuk.

Langkah ini bukan berarti menghindari informasi penting, tetapi lebih pada mengatur jumlah informasi yang dikonsumsi.

Mengelola informasi untuk menjaga kesehatan mental

Danti menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental ketika menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian.

“Menghadapi alam yang tak menentu memang berat, namun memahami bahwa ada respon mental yang menyertainya adalah hal yang wajar dan merupakan langkah awal untuk menjadi lebih tangguh,” kata Danti.

Dengan mengatur konsumsi informasi dan memahami reaksi mental yang muncul, seseorang dapat lebih tenang menghadapi berbagai kabar tentang bencana yang beredar di media sosial.

Baca juga: Sulit Tidur hingga Mudah Marah, Ini Tanda Trauma Setelah Bencana

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Intip Foto Prewedding Justin Hubner dan Jennifer Copper, Anggun dengan Busana Adat Jawa
Intip Foto Prewedding Justin Hubner dan Jennifer Copper, Anggun dengan Busana Adat Jawa
Fashion
Bercanda Boleh, Ini Batas Aman Prank Saat April Fools Menurut Psikolog
Bercanda Boleh, Ini Batas Aman Prank Saat April Fools Menurut Psikolog
Wellness
Jangan Asal Ikut Tren, Operasi Plastik Harus Perhatikan Harmoni Wajah
Jangan Asal Ikut Tren, Operasi Plastik Harus Perhatikan Harmoni Wajah
Beauty & Grooming
Kenapa Orang Suka Membuat Prank Saat April Fools? Ini Penjelasan Psikolog
Kenapa Orang Suka Membuat Prank Saat April Fools? Ini Penjelasan Psikolog
Wellness
Hubungan Rawan Konflik, 2 Shio Ini Tidak Cocok dengan Shio Babi
Hubungan Rawan Konflik, 2 Shio Ini Tidak Cocok dengan Shio Babi
Relationship
120 Ucapan Ulang Tahun Islami untuk Perempuan, Penuh Doa dan Menyentuh Hati
120 Ucapan Ulang Tahun Islami untuk Perempuan, Penuh Doa dan Menyentuh Hati
Wellness
7 Rahasia Tampil Trendi untuk Perempuan Usia 60 Tahun
7 Rahasia Tampil Trendi untuk Perempuan Usia 60 Tahun
Fashion
Anak Tantrum saat Gadget Diambil? Ini Cara Mengatasinya Menurut Psikolog
Anak Tantrum saat Gadget Diambil? Ini Cara Mengatasinya Menurut Psikolog
Wellness
Kematian Ibu Melahirkan Tinggi di Jember, 10 Meninggal di Awal 2026
Kematian Ibu Melahirkan Tinggi di Jember, 10 Meninggal di Awal 2026
Wellness
Tradisi April Fools di Berbagai Negara, dari Tempel Ikan hingga Kirim Misi Palsu
Tradisi April Fools di Berbagai Negara, dari Tempel Ikan hingga Kirim Misi Palsu
Wellness
Apa Itu April Fools? Tradisi Iseng 1 April yang Punya Sejarah dan Cerita Unik
Apa Itu April Fools? Tradisi Iseng 1 April yang Punya Sejarah dan Cerita Unik
Wellness
4 Tips Memilih Kalung Sesuai Bentuk Leher Busana agar Elegan
4 Tips Memilih Kalung Sesuai Bentuk Leher Busana agar Elegan
Fashion
Kebanyakan Produk Perawatan Berprotein Bisa Merusak Rambut
Kebanyakan Produk Perawatan Berprotein Bisa Merusak Rambut
Beauty & Grooming
Shio Monyet Paling Cocok dengan 3 Shio Ini, Siapa Saja?
Shio Monyet Paling Cocok dengan 3 Shio Ini, Siapa Saja?
Relationship
Caption LDR Singkat Aesthetic yang Bikin Jarak Terasa Dekat
Caption LDR Singkat Aesthetic yang Bikin Jarak Terasa Dekat
Wellness
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau