JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu hal yang paling ditunggu saat Hari Raya Idul Fitri adalah kuliner yang menyajikan berbagai macam hidangan lezat di meja makan. Mulai dari aneka ragam kue manis, hingga hidangan bersantan seperti opor dan rendang.
Sayangnya, di balik kelezatan sajian tersebut, tersimpan risiko kesehatan serius, terutama bagi individu yang memiliki riwayat penyakit penyerta.
"Untuk masyarakat yang mempunyai diabetes dan hipertensi, kalau habis konsumsi makanan manis perlu perhatian," ungkap dr. Yosua Marulitua Manullang, M.Ked(PD)., Sp.PD dalam acara media gathering bersama Siloam Hospitals Mampang di Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026).
Baca juga: Puasa Bisa Picu Gula Darah Turun Drastis, Ini Peringatan Dokter untuk Pasien Diabetes
Bagi penderita diabetes, asupan gula berlebih yang masuk ke dalam tubuh dalam waktu yang sangat singkat mampu memicu malapetaka pada sistem metabolisme harian.
"Karena memang kalau untuk kondisi diabetes dan hipertensi ini bisa terjadi secara cepat, naik gulanya, naik tensinya. Sehingga pada saat gula itu naik secara cepat, bisa menyebabkan kondisi hiperglikemia," jelas dr. Yosua.
Hiperglikemia adalah kondisi yang sangat berisiko bagi pasien diabetes melitus karena kadar gula darah melebihi batas normal. Gejala hiperglikemia ini baru akan terasa sangat mengganggu ketika glukosa darah meningkat secara signifikan melebihi 200 mg/dL.
"Nah hiperglikemia ini bisa menyebabkan pusing, nyeri kepala yang enggak nyaman," lanjut dr. Yosua.
Baca juga: Gula Darah di Atas 250, Penderita Diabetes Disarankan Tidak Puasa
Penderita hipertensi dituntut untuk menahan selera dari godaan makanan yang didominasi oleh rasa gurih, bersantan pekat, dan diolah dengan banyak minyak.
"Sedangkan kalau untuk yang makanan gurih-gurih, kayak opor, ketupat, ati ampela sambal balado, itu bisa menaikkan kondisi tekanan darah tinggi," kata dr. Yosua.
Dikutip dari laman resmi Ayo Sehat yang dikelola oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Minggu (15/3/2026), pengidap hipertensi diwajibkan untuk mengontrol pola makan secara ketat dengan mengurangi asupan yang mengandung garam tinggi.
Penderita juga harus membatasi makanan tinggi lemak, termasuk makanan yang digoreng, demi menjaga agar tekanan darah tetap terkendali.
Jika peringatan ini diabaikan saat momen perayaan Lebaran, gejalanya bisa langsung dirasakan dan sering kali membuat penderitanya panik karena disalahartikan sebagai penyakit serius lainnya.
"Nah, tekanan darah tinggi ini juga bisa berpotensi untuk memunculkan gejala seperti nyeri kepala, pusing, rasa tidak nyaman di tengkuk, tapi tidak berhubungan langsung dengan kolesterol," jelas dr. Yosua.
Baca juga: Rutin Olahraga Sejak Muda Bantu Cegah Hipertensi di Usia Paruh Baya
Anjuran untuk bijak dalam mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula juga berlaku bagi mereka yang tidak punya penyakit penyerta.
Mengasup makanan dalam jumlah banyak dalam waktu singkat bisa membuat rasa tidak nyaman di perut.
"Bisa tidak nyaman di perut apalagi kalau individu juga mempunyai asam lambung, yang mana sebulan sudah biasa berpuasa, tiba-tiba diisi makanan penuh secara tiba-tiba. Itu bisa langsung berasa begah, penuh, kembung, atau bahkan merasa tidak nyaman di ulu hati," tutup dr. Yosua.
Baca juga: 7 Rekomendasi Menu Lebaran yang Lebih Sehat dan Bebas Santan
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang