KOMPAS.com - Salah satu cara untuk membersihkan sel kulit mati adalah dengan melakukan eksfoliasi. Langkah ini juga membantu menjaga pori-pori tetap bersih, sekaligus meratakan warna kulit yang kusam.
Namun, perawatan kulit yang seharunya menyehatkan ini, bisa berdampak buruk jika kamu terlalu sering melakukannya. Banyak yang mengira, semakin sering wajah digosok maka hasilnya akan semakin bersih dan cerah.
Dokter spesialis kulit dari Turner Dermatology di New York City, Amerika Serikat, Ryan Turner, mengungkap, eksfoliasi yang terlalu agresif justru akan membuat wajah tampak memerah dan meradang selama berhari-hari.
Baca juga: Mitos atau Fakta, Eksfoliasi Bikin Kulit Wajah Mudah Iritasi?
"Eksfoliasi berlebihan dapat menyebabkan kemerahan, iritasi, sensitivitas, dan pengelupasan," ucap dr. Turner, menyadur GQ, Rabu (25/3/2026).
Namun, ia menekankan, tidak ada patokan frekuensi yang baku mengenai seberapa sering seseorang harus melakukan prosedur ini, mengingat kekuatan setiap produk di pasaran sangat bervariasi.
"Eksfoliasi bukanlah solusi yang cocok untuk semua orang. Pergantian sel kulit dan sensitivitas bervariasi dari orang ke orang," tambah dia.
Ilustrasi kesalahan eksfoliasi wajah wanita di atas 50 tahunSecara garis besar, produk eksfoliasi terbagi menjadi dua jenis, yakni kimiawi dan fisik. Eksfolian kimia bekerja dengan cara melarutkan sel kulit mati secara lembut untuk mempercepat proses regenerasi.
Jenis ini sangat efektif untuk memudarkan noda hitam hiperpigmentasi dan menyamarkan tampilan pori-pori yang besar.
Selanjutnya adalah eksfolian fisik berupa scrub yang bekerja dengan cara mengikis langsung tumpukan sel kulit mati yang kusam di permukaan wajah. Scrub dapat mencegah pori-pori tersumbat dan memicu pertumbuhan sel baru yang lebih sehat.
Eksfolian fisik, ideal digunakan sebelum bercukur untuk mencegah iritasi pisau cukur dan risiko rambut tumbuh ke dalam bagi pria. Meski begitu, dr. Turner lebih merekomendasikan eksfolian kimiawi.
"Eksfolian kimiawi hanya melibatkan sedikit, atau bahkan tanpa penggosokan, dan tidak begitu mengganggu lapisan pelindung kulit dibandingkan scrub fisik yang kasar," jelas dia.
"Eksfolian kimiawi yang mengandung alpha hydroxy acids (AHA, seperti lactic acid) atau beta-hydroxy acids (BHA, seperti salicylic acid), misalnya, juga bagus untuk kulit berjerawat dan hiperpigmentasi," lanjut dr. Turner.
Baca juga: Seberapa Sering Harus Eksfoliasi Wajah? Ini Kata Dokter Kulit
Mengingat tingkat toleransi setiap individu berbeda, cara terbaik untuk mengetahui batas aman adalah dengan mengamati reaksi yang muncul pada kulitmu.
"Ketika seseorang melakukan eksfoliasi berlebihan, kulit bisa menjadi merah, sensitif, dan terasa terbakar," tutur dr. Turner.