Uraikan lika-liku Anda mengasuh anak jadi lebih simpel
Kenali soal gaya asuh lebih apik lewat konsultasi Kompas.com
KOMPAS.com – Hubungan antara orangtua dan anak yang telah dewasa sering kali mengalami perubahan, terutama ketika anak mulai menjalin hubungan asmara atau menikah.
Dalam fase ini, orangtua tidak hanya berinteraksi dengan anak, tetapi juga dengan pasangan mereka. Dinamika ini bisa terasa baru, bahkan membingungkan, karena batasan dan cara berkomunikasi yang sebelumnya berlaku mungkin sudah tidak lagi relevan.
Psikolog berlisensi Crystal Saidi mengatakan bahwa cara orangtua berbicara tentang pasangan anak dapat memengaruhi kualitas hubungan dalam jangka panjang.
Baca juga: 7 Kalimat Toxic Mertua yang Berdampak Pada Mental, Apa Saja?
“Jika anak sudah menikah, pasangan mereka menjadi bagian dari keluarga. Mengkritik pasangan bisa merusak hubungan dengan anak,” ujarnya, dikutip dari Parade, Jumat (27/3/2026).
Menurut Saidi, orangtua umumnya memiliki ruang lebih untuk menyampaikan pendapat saat anak masih berpacaran, selama dilakukan dengan hati-hati.
Namun, ketika anak sudah menikah, pasangan tersebut menjadi bagian dari keluarga sehingga kritik dapat berdampak lebih besar.
“Jika anak masih dalam tahap berpacaran, orangtua mungkin memiliki ruang lebih untuk menunjukkan rasa ingin tahu dan menyampaikan kekhawatiran secara terbuka,” katanya.
Baca juga: Hindari 8 Kalimat Toxic Ini ke Pasangan Jika Ingin Hubungan Langgeng
Meskipun terdengar jujur, kalimat ini dapat membuat anak merasa terjebak di antara dua pihak.
Bagi Saidi, pernyataan seperti ini cenderung memicu sikap defensif dan menutup komunikasi, alih-alih membuka ruang diskusi.
Saidi menyarankan agar orangtua membagikan kekhawatiran dengan cara yang penuh kasih tanpa menghakimi.
Kalimat ini sering dianggap sebagai bentuk perhatian, tetapi bisa diartikan sebagai kritik terhadap pilihan anak.
“Bagi anak, ini bisa terdengar seperti ‘kamu memiliki penilaian yang buruk’,” jelas Saidi.
Baca juga: 6 Kalimat yang Ingin Didengar Anak Dewasa dari Orangtuanya
Perubahan dalam diri seseorang tidak selalu berarti buruk. Namun, kalimat ini dapat memberi kesan bahwa pasangan anak membawa pengaruh negatif.
Hal ini juga dapat mengabaikan proses pertumbuhan alami yang dialami seseorang.
Pernyataan ini dapat membuat anak meragukan perasaan dan pengalaman mereka sendiri.