MEDAN, KOMPAS.com - Malam semakin larut dan jam menunjukkan waktu beristirahat.
Namun, Salman Tanjung ternyata tak menghiraukannya.
Ia menundanya dan memilih melayani pelanggan yang berdatangan untuk mencukur rambut meski sudah pukul 21.00 WIB.
Hari itu berbeda dari sebelumnya. Mungkin karena Lebaran sudah dekat, sehingga banyak warga merapikan penampilan.
Rutinitas seperti ini telah menemani Salman selama lebih dari 15 tahun atau sejak 2011.
Sebelum menekuni pekerjaan tukang pangkas rambut, Salman bekerja di rumah makan.
Sempat mencoba fokus di situ, ia ternyata tidak suka karena jadwal kerja yang panjang.
“Awalnya kerja di rumah makan tahun 2010. Tahu lah kerjanya, mulai subuh jam 04.30 WIB tutupnya jam 12 malam. Kerja terus, tengah malam baru tidur,” ucap Salman kepada Kompas.com saat ditemui di lokasi pangkasnya di Kelurahan Simalingkar A, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, Sumatera Utara, Selasa (17/3/2026).
Baca juga: Berkah Alat Cukur Tua Pak Buyung: Menjemput Panen Rambut Jelang Lebaran di Pariaman
Selama periode itu, pria kelahiran Dairi ini kerap tidur tengah malam, durasi istirahat, dan berlibur sangat singkat.
Namun, saat menengok kerja seorang temannya yang menjadi tukang cukur rambut, ia merasa iri.
Sebab, temannya itu bisa leluasa mengatur ritme kerja sendiri.
“Enak kali orang ini ya, pulang kerja bisa raun-raun (jalan-jalan), bisa pergi ke sana ke mari. sedangkan aku kerja terus,” kata Salman, yang duduk di kursi bambu sembari menghisap rokoknya yang baru dibakar.
Sejak itu, ia tertarik mendalami pekerjaan tukang cukur. Tanpa pikir panjang, keesokan hari ia menemui temannya ke usaha pangkasnya di daerah Medan Amplas.
Ia bertanya sejumlah syarat yang harus dimiliki seorang tukang cukur.
Gayung bersambut, Salman mendapat respons positif dan dianjurkan membeli peralatan utama.