Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar emas global bergeliat luar biasa pada awal 2026, dengan harga logam kuning itu menembus level tertinggi yang nyaris tak pernah terjadi sebelumnya.
Namun, di tengah euforia investor, bank investasi besar asal Amerika Serikat (AS) JP Morgan, baru-baru ini mengeluarkan catatan yang menyuntikkan reality check ke dalam narasi kenaikan tersebut, bukan dengan meremehkannya, namun dengan menekankan risiko dan ketidakpastian yang mengiringi harga emas yang melesat tinggi.
Harga emas dunia telah mencapai harga lebih dari 5.200 dollar AS per ounce, level yang merupakan bagian dari fase rally yang luar biasa panjang dan kuat dibanding siklus sebelumnya.
Baca juga: Harga Emas Hartadinata Hari Ini (24/2) Menguat, Hampir Sentuh Rp 3 Juta per Gram
Ilustrasi emas. Menurut data pasar yang dikutip The Street, Selasa (24/2/2026), harga emas dunia telah melampaui 5.000 dollar AS per ounce lebih dari tujuh kali dalam beberapa minggu terakhir.
JP Morgan mencatat bahwa lonjakan harga emas didorong oleh pembelian besar-besaran oleh bank sentral serta ketidakpastian geopolitik yang meluas.
Ini adalah faktor-faktor yang kerap memicu permintaan aset safe haven.
JP Morgan menegaskan, emas telah mempertahankan perannya sebagai “strategic diversifier”, yakni aset yang dipakai oleh investor untuk mendiversifikasi risiko, bahkan setelah kenaikan yang signifikan ini.
Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini (24/2): UBS-Galeri 24 Kompak Naik, Tembus Rp 3 Juta per Gram
Catatan yang dibagikan JPMorgan kepada klien menyampaikan dua pesan utama yang tampaknya bertolak belakang.
Ilustrasi emas. Pegadaian Ungkap Penyebab Nasabah Sulit Cetak Emas FisikDi satu sisi, bank ini tetap melihat prospek harga emas lebih tinggi, namun di sisi lain mereka mengingatkan klien akan kondisi pasar yang bisa berubah secara drastis.
Dalam catatannya, JPMorgan mempertanyakan apa yang dapat menghentikan rally harga emas ini, sebuah pertanyaan yang tidak disukai oleh para pemburu keuntungan selama kenaikan harga.
JP Morgan menyebut, permintaan yang melaju terutama datang dari bank sentral, yang mencatat net pembelian meningkat dua kali lipat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, karena upaya diversifikasi cadangan dari dolar AS setelah penerapan sanksi dan pembekuan aset asing.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini (24/2) Menguat Lagi Rp 40.000 per Gram, Cek Rinciannya
Lebih jauh, JPMorgan menyoroti permintaan dari investor ritel, baik melalui kepemilikan emas fisik, emas batangan, maupun produk terkait seperti ETF, bisa berbalik arah jika harga mulai stagnan.
Dalam catatannya disebut bahwa “plateauing demand” alias permintaan yang mendatar atau stagnan bukan sekadar risiko teoritis, melainkan kemungkinan nyata yang bisa memicu koreksi harga.
Laporan JP Morgan merujuk data dari World Gold Council yang menunjukkan permintaan emas global mencapai 5.002 ton pada 2025, dengan permintaan untuk tujuan investasi mencapai 2.175 ton, dan aliran masuk ke ETF emas meningkat sebanyak 801 ton.
Pernyataan ini mencerminkan lonjakan minat investor di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.
Baca juga: Bea Cukai Segel Toko Emas, Purbaya: Barang Spanyol, Separuh Nyolong!