Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Harga Emas Melonjak, JP Morgan Ingatkan Potensi Koreksi

Kompas.com, 24 Februari 2026, 14:18 WIB
Sakina Rakhma Diah Setiawan

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar emas global bergeliat luar biasa pada awal 2026, dengan harga logam kuning itu menembus level tertinggi yang nyaris tak pernah terjadi sebelumnya.

Namun, di tengah euforia investor, bank investasi besar asal Amerika Serikat (AS) JP Morgan, baru-baru ini mengeluarkan catatan yang menyuntikkan reality check ke dalam narasi kenaikan tersebut, bukan dengan meremehkannya, namun dengan menekankan risiko dan ketidakpastian yang mengiringi harga emas yang melesat tinggi.

Harga emas naik ke level yang belum pernah terjadi

Harga emas dunia telah mencapai harga lebih dari 5.200 dollar AS per ounce, level yang merupakan bagian dari fase rally yang luar biasa panjang dan kuat dibanding siklus sebelumnya.

Baca juga: Harga Emas Hartadinata Hari Ini (24/2) Menguat, Hampir Sentuh Rp 3 Juta per Gram

Ilustrasi emas. Freepik Ilustrasi emas.

Menurut data pasar yang dikutip The Street, Selasa (24/2/2026), harga emas dunia telah melampaui 5.000 dollar AS per ounce lebih dari tujuh kali dalam beberapa minggu terakhir. 

JP Morgan  mencatat bahwa lonjakan harga emas didorong oleh pembelian besar-besaran oleh bank sentral serta ketidakpastian geopolitik yang meluas.

Ini adalah faktor-faktor yang kerap memicu permintaan aset safe haven.

JP Morgan menegaskan, emas telah mempertahankan perannya sebagai “strategic diversifier”, yakni aset yang dipakai oleh investor untuk mendiversifikasi risiko, bahkan setelah kenaikan yang signifikan ini.

Baca juga: Harga Emas Pegadaian Hari Ini (24/2): UBS-Galeri 24 Kompak Naik, Tembus Rp 3 Juta per Gram

JP Morgan sampaikan reality check

Catatan yang dibagikan JPMorgan kepada klien menyampaikan dua pesan utama yang tampaknya bertolak belakang.

Ilustrasi emas. Pegadaian Ungkap Penyebab Nasabah Sulit Cetak Emas FisikDOK. Pixabay/Global_Intergold. Ilustrasi emas. Pegadaian Ungkap Penyebab Nasabah Sulit Cetak Emas Fisik

Di satu sisi, bank ini tetap melihat prospek harga emas lebih tinggi, namun di sisi lain mereka mengingatkan klien akan kondisi pasar yang bisa berubah secara drastis.

Dalam catatannya, JPMorgan mempertanyakan apa yang dapat menghentikan rally harga emas ini, sebuah pertanyaan yang tidak disukai oleh para pemburu keuntungan selama kenaikan harga.

JP Morgan menyebut, permintaan yang melaju terutama datang dari bank sentral, yang mencatat net pembelian meningkat dua kali lipat sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, karena upaya diversifikasi cadangan dari dolar AS setelah penerapan sanksi dan pembekuan aset asing. 

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini (24/2) Menguat Lagi Rp 40.000 per Gram, Cek Rinciannya

Lebih jauh, JPMorgan menyoroti permintaan dari investor ritel, baik melalui kepemilikan emas fisik, emas batangan, maupun produk terkait seperti ETF, bisa berbalik arah jika harga mulai stagnan.

Dalam catatannya disebut bahwa “plateauing demand” alias permintaan yang mendatar atau stagnan bukan sekadar risiko teoritis, melainkan kemungkinan nyata yang bisa memicu koreksi harga. 

Data permintaan emas global 2025

Laporan JP Morgan merujuk data dari World Gold Council yang menunjukkan permintaan emas global mencapai 5.002 ton pada 2025, dengan permintaan untuk tujuan investasi mencapai 2.175 ton, dan aliran masuk ke ETF emas meningkat sebanyak 801 ton.

Pernyataan ini mencerminkan lonjakan minat investor di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Baca juga: Bea Cukai Segel Toko Emas, Purbaya: Barang Spanyol, Separuh Nyolong!

Halaman:


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau