JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku sempat menjadi sasaran kritik warganet di media sosial terkait pergerakan nilai tukar rupiah.
Namun, ia menilai pelemahan rupiah masih tergolong moderat dibandingkan mata uang sejumlah negara di kawasan.
Purbaya mengatakan tekanan terhadap mata uang negara berkembang saat ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global, termasuk tensi geopolitik di Timur Tengah.
“Kalau Anda lihat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sejak perang itu, depresiasinya sekitar 0,3 persen. Jauh lebih baik dibandingkan beberapa negara di sekitar kita,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Maret 2026 di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Baca juga: Purbaya Pastikan APBN 2026 Belum Akan Direvisi, Posisi Fiskal RI Masih Kuat
Ia menjelaskan pada periode yang sama ringgit Malaysia tercatat melemah sekitar 0,5 persen, sementara baht Thailand turun hingga 1,6 persen.
Menurut dia, perbandingan tersebut menunjukkan rupiah masih relatif stabil meskipun pasar global sedang bergejolak.
Purbaya juga mengakui pergerakan rupiah menjadi perhatian masyarakat, termasuk di media sosial. Ia bahkan sempat menerima kritik langsung dari warganet di platform TikTok.
“Di TikTok saya dimaki-maki orang. Katanya, ‘Pak Purbaya, menteri keuangan, kerjanya apa saja, itu rupiah lihat,’” ujar Purbaya menirukan komentar warganet.
Baca juga: Purbaya Petakan Tiga Risiko Ekonomi RI Jika Selat Hormuz Terganggu
Meski demikian, Purbaya meminta masyarakat melihat kondisi nilai tukar secara lebih menyeluruh, tidak hanya dari level kurs semata.
Menurut dia, yang lebih penting adalah membandingkan tingkat pelemahan rupiah dengan mata uang negara lain agar gambaran kondisi pasar menjadi lebih objektif.
“Bukan hanya lihat levelnya saja, tapi juga seberapa besar pelemahannya dibandingkan negara lain. Dari situ kita masih lumayan,” kata dia.
Purbaya menilai ketahanan rupiah saat ini mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia yang masih cukup kuat.
Baca juga: Meme Lo Lucu, tapi Pasalnya Enggak: Gegara KUHAP, Roasting Pejabat Bisa Ditangkap
Selain itu, koordinasi kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia turut membantu menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global.
Ia menambahkan stabilitas tersebut juga menunjukkan kepercayaan pasar terhadap pengelolaan ekonomi nasional masih terjaga.
“Kita masih dianggap menjaga kebijakan fiskal dan moneter dengan baik serta fondasi ekonomi yang cukup kuat,” ujar Purbaya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang