Editor
JAKARTA, KOMPAS.com — Literasi keuangan dinilai menjadi fondasi penting bagi generasi muda sebelum mulai berinvestasi di pasar modal. Hal ini mengemuka dalam seminar literasi investasi yang digelar PT Pertamina Geothermal Energy Tbk bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Bandung.
Kegiatan bertajuk “Meraup Cuan dari Saham Energi” itu memperkenalkan peluang investasi di sektor energi, khususnya energi bersih, kepada mahasiswa yang dinilai berpotensi menjadi investor masa depan.
Kepala Divisi Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 5 OJK Jawa Barat Herlina Hayati mengatakan, pemahaman mengenai kondisi keuangan dan risiko investasi perlu dimiliki sebelum seseorang memutuskan berinvestasi di pasar modal.
“Sebelum berinvestasi, penting untuk memahami kondisi keuangan, risiko, serta tujuan investasi,” ujar Herlina, melalui keterangan pers, Jumat (13/3/2026).
“Keputusan investasi harus dilakukan secara bijak dan terencana agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari,” lanjutnya.
Baca juga: Perang Iran-Israel Memanas, Saham Energi dan Emas Berpeluang Melonjak
Dari sisi pasar modal, Vice Director of Research BEI Verdi Ikhwan menilai kebiasaan berinvestasi sejak dini dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan yang sehat.
Menurut Verdi, investasi menjadi penting karena inflasi terus terjadi setiap tahun sehingga nilai uang dapat tergerus apabila tidak dikelola dengan baik.
“Investasi menjadi penting karena inflasi terus terjadi setiap tahun,” kata Verdi.
“Dengan berinvestasi, nilai uang dapat berkembang dan tidak tergerus oleh kenaikan harga. Jika dilakukan secara disiplin, investasi saham dapat memberikan hasil yang optimal dalam jangka panjang melalui efek compounding,” jelasnya.
Baca juga: Pertamina Akuisisi 20 Persen Saham Energi Terbarukan Filipina Senilai Rp 1,88 Triliun
Manager Partnership & Portfolio Management PT Pertamina Geothermal Energy Tbk Lufan Nassya Faswara mengatakan sektor energi, khususnya energi baru terbarukan, memiliki prospek jangka panjang seiring meningkatnya kebutuhan global terhadap energi rendah emisi.
“Panas bumi merupakan salah satu sumber energi baru terbarukan yang memiliki potensi sangat besar di Indonesia sekitar 24 GW,” ujar Lufan.
“Letak geologi Indonesia yang berada di jalur gunung api aktif menjadikan sumber daya geothermal sangat melimpah dan prospektif untuk dikembangkan sebagai energi bersih sekaligus peluang investasi jangka panjang,” lanjutnya.
Ia menjelaskan, komitmen global terhadap transisi energi dan penurunan emisi karbon mendorong meningkatnya kebutuhan terhadap sumber energi yang andal, stabil, dan berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, panas bumi dinilai memiliki keunggulan karena mampu menghasilkan listrik secara konsisten dengan tingkat kapasitas pemanfaatan yang tinggi.
Selain itu, kalangan akademisi dalam seminar tersebut juga menekankan pentingnya memahami fundamental bisnis sebelum membeli saham, termasuk menilai prospek sektor industri yang menjadi basis kegiatan perusahaan.
Sektor energi dinilai menjadi salah satu sektor strategis karena memiliki peran langsung dalam pertumbuhan ekonomi sekaligus mendukung transisi menuju energi rendah karbon.
Melalui kegiatan ini, para pemangku kepentingan berharap literasi investasi di kalangan generasi muda semakin meningkat, sekaligus memperkenalkan potensi sektor energi bersih sebagai pilihan investasi jangka panjang.
Saat ini, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk mengelola 15 wilayah kerja panas bumi di Indonesia dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW, baik yang dioperasikan secara mandiri maupun melalui kontrak operasi bersama.
Indonesia sendiri memiliki potensi panas bumi terbesar kedua di dunia, sehingga membuka peluang pengembangan energi bersih sekaligus investasi jangka panjang di sektor energi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangArtikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya