KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru-baru ini mengadakan pembicaraan dengan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Trump juga memerintahkan agar angkatan bersenjata AS menunda serangan ke fasilitas energi milik Teheran selama lima hari ke depan.
"Saya dengan senang hati melaporkan bahwa Amerika Serikat dan negara Iran telah melakukan percakapan yang sangat baik dan produktif mengenai penyelesaian total atas permusuhan kita di Timur Tengah. Saya telah memerintahkan Departemen Perang menunda semua serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari," jelas Trump di Truth Social, Senin (23/3/2026).
Baca juga: Wall Street Menguat Usai Sinyal Damai AS-Iran, Harga Minyak Justru Anjlok
Pernyataan Trump mengakibatkan harga minyak dunia turun sebanyak 11 persen.
Dikutip dari CNBC, Senin (23/3/2026), minyak mentah (crude oil) jenis Brent turun 11 persen menjadi 99,94 dollar AS per barrel (sekitar Rp 1.686.731, kurs Rp 16.941) setelah sebelumnya pada hari Jumat (20/3/2026) mencapai 112 dollar AS (Rp 1.889.328) per barrel.
Selain Brent, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga turun 10 persen menjadi 88,13 dollar AS (Rp 1.489.532) per barrel.
Diperkirakan harga minyak berangsur turun apabila situasi di Selat Hormuz kondusif selama lima hari ke depan.
Namun, Pemerintah Iran membantah pernyataan Trump mengenai pembicaraan untuk mengakhiri perang.
Baca juga: Trump Sebut AS-Iran Berunding Akhiri Perang, Harga Minyak Dunia Langsung Jatuh 11 Persen
Presiden Iran Masoud Pezeshkian saat berpidato di Sidang Umum PBB di Markas Besar PBB, New York City, Amerika Serikat, 24 September 2025.Menurut Kementerian Luar Negeri Iran, tak ada negosiasi dengan Washington terkait penyelesaian perang. Menurutnya, pernyataan Trump adalah upaya menurunkan harga energi yang selama ini tercekik di Selat Hormuz.
"Tidak ada pembicaraan antara Teheran dan Washington," kata kantor berita Mehr, Senin (23/6/2026).
Selain itu, Iran masih gamang apakah penundaan serangan AS ke fasilitas energinya hanya retorika untuk mengambil alih penguasaan Selat Hormuz.
Bahkan, jika serangan terjadi, 90 juta populasi Iran terancam kehilangan pasokan listrik di rumahnya.
Baca juga: Gangguan Selat Hormuz, Saudi Aramco Pangkas Pasokan Minyak ke Asia
"Bayangkan jika listrik untuk populasi 90 juta jiwa terputus untuk waktu yang lama di zaman sekarang ini! Apa yang akan terjadi? Pertama-tama, semua rumah dan jalan akan gelap gulita dan orang tua serta orang sakit akan terkunci di menara tempat tinggal mereka. Segera setelah itu, siklus produksi semua jenis barang dan jasa akan berhenti," kata penulis dan tokoh reformis Iran, Ahmad Zeidabadi, dikutip dari The Guardian, Senin (23/3/2026).
Ketakutan warganya ditangkap oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Melalui putranya, Yousef Pezeshkian, ia menyampaikan akan membalas setiap serangan AS kepada negaranya.
“Ketika Amerika menyerang infrastruktur, konsekuensi dari hal ini akan kembali kepada Anda. Anda tidak bisa mengatakan: ‘Saya akan memutus aliran listrik Anda, tetapi Anda tidak boleh memutus aliran listrik saya.’ Apa pun yang kita lakukan cepat atau lambat akan kembali menghantui kita," jelasnya dikutip dari The Guardian.
Saat ini, harga minyak dunia cenderung turun, tapi jika eskalasi kembali meningkat maka bisa melonjak tajam.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Melonjak Jelang Tenggat Ultimatum Trump ke Iran
Artikel ini pernah tayang di Kompas.com dengan judul "Meski Ditunda, Ancaman Trump ke Iran Disebut Lebih Ngeri dari Bom Atom Jepang"
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang