Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rupiah Berpotensi Tembus Rp 17.100 per Dollar AS, Apa Penyebabnya?

Kompas.com, 29 Maret 2026, 20:00 WIB
Suparjo Ramalan ,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah diproyeksikan melemah pada awal pekan depan atau Senin (30/3/2026). Mata uang Garuda berpotensi menembus level Rp 17.100 per dollar Amerika Serikat (AS).

Nilai tukar rupiah di pasar spot nyaris sentuh level psikologis Rp 17.000 per dollar AS saat penutupan perdagangan Jumat (27/3/2026). Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup terdepresiasi 76 poin atau 0,45 persen ke posisi Rp 16.980 per dollar AS.

Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan mata uang Paman Sam menjadi faktor utama yang membebani rupiah. Indeks dollar pada pekan depan diperkirakan berada di kisaran 99,3 hingga 101,6, dengan kecenderungan menguat seiring meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Rupiah kemungkinan besar ini akan terus mengalami pelemahan. Range-nya sudah saya buat, dirilis kemarin di hari Jumat. Tolong dibuka kembali, itu kemungkinan besar akan menuju level Rp 17.100 (per dollar AS), ingat, Rp 17.100,” ujar Ibrahim kepada wartawan, Minggu (29/3/2026).

Baca juga: Mengenal Zero-Based Budgeting, Metode Atur Uang Sampai Nol

Tekanan terhadap rupiah juga diperparah oleh eskalasi konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital distribusi energi dunia, memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global.

Konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat, serta serangan terhadap fasilitas energi di kawasan tersebut, berpotensi menurunkan produksi minyak secara signifikan. Bahkan, pengurangan produksi di Timur Tengah disebut mencapai hingga 10 juta barrel per hari.

“Sehingga ada kemungkinan besar untuk produksi minyak dan gas, ini mengalami penurunan yang cukup signifikan. Bahkan Timur Tengah sendiri sampai saat ini mengalami pengurangan itu 10 juta barrel per hari, itu baru Timur Tengah,” paparnya.

Baca juga: Jurus BI Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah Sepanjang Libur Lebaran 2026

Di sisi lain, konflik di Eropa Timur juga belum menunjukkan tanda mereda. Serangan Ukraina terhadap instalasi minyak dan gas Rusia memperbesar risiko gangguan suplai energi global, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga komoditas dan memperkuat dollar AS.

“Nah di sisi lain pun juga bahwa Ukraina pun juga melakukan penyerangan terhadap instalasi-instalasi minyak, gas di Rusia,” pungkas Ibrahim.

Dari sisi kebijakan moneter AS, dinamika politik domestik juga turut mempengaruhi arah pasar. Menurunnya tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Donald Trump di tengah kebijakan geopolitik agresif dinilai menambah ketidakpastian.

Selain itu, ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga bank sentral AS, The Fed, juga menjadi perhatian. Pergantian kepemimpinan di bank sentral AS yang diperkirakan terjadi dalam waktu dekat membuka peluang perubahan kebijakan, termasuk kemungkinan penurunan suku bunga meski inflasi masih tinggi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau