Lebih jauh, keyakinan konsumen pada Februari 2026 masih tinggi di level 125,2, penjualan eceran menguat, dan PMI manufaktur berada di 53,8 yang menunjukkan dunia usaha masih bergerak.
Tak hanya itu, belanja negara juga tumbuh sangat cepat pada awal tahun, sehingga dorongan dari sisi permintaan dan sisi fiskal datang bersamaan.
Dalam kaitan itu, pola pertumbuhan yang masih didominasi konsumsi itu memang menggembirakan untuk jangka pendek, tetapi belum cukup sehat untuk jangka panjang.
“Konsumsi memang menjadi penyangga utama ekonomi Indonesia dan menyumbang sekitar 53 persen -54 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sehingga saat dunia global melemah, permintaan dalam negeri bisa menahan perlambatan,” beber Ibrahim.
Di lain sisi, hasil survei Bank Indonesia (BI) yang menunjukkan porsi pendapatan rumah tangga yang dipakai untuk konsumsi turun menjadi 71,6 persen, sementara porsi tabungan naik menjadi 17,7 persen. Artinya, rumah tangga masih belanja, tetapi mulai sedikit lebih berhati-hati.
Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.002, Tekanan Geopolitik dan The Fed Jadi Pemicu
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang