Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Arus Balik Belum Usai: MBZ Padat Pada H+9 Lebaran, Pola Mudik 2026 Berubah

Kompas.com, 1 April 2026, 12:00 WIB
Kiki Safitri,
Aprillia Ika

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Arus balik Lebaran 2026 belum sepenuhnya mereda. Lonjakan kendaraan menuju Jakarta masih terjadi di Jalan Layang Sheikh Mohammed Bin Zayed (MBZ), bahkan setelah puncak arus balik terlewati, mencerminkan pola perjalanan masyarakat yang mulai bergeser.

PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek (PT JJC) mencatat sebanyak 39.599 kendaraan menuju Jakarta melintasi ruas MBZ pada H+9 Idul Fitri 1447 H/2026. Angka ini meningkat 67,47 persen dibandingkan lalu lintas normal yang mencapai 23.646 kendaraan.

“Meskipun arus balik utama telah terlewati, volume kendaraan menuju Jakarta masih mengalami peningkatan, terutama pada periode malam hari,” kata GM Operasi dan Pemeliharaan PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek Desti Anggraeni dalam keterangan resmi, Selasa (31/3/2026).

Di sisi lain, kendaraan yang meninggalkan Jakarta tercatat sebanyak 26.719 unit atau meningkat 22,05 persen dibandingkan lalu lintas normal sebesar 21.892 kendaraan.

“Kenaikan yang relatif moderat ini menunjukkan bahwa pergerakan lalu lintas di kedua arah mulai kembali mendekati pola normal,” lanjut Desti.

Baca juga: Arus Balik Lebaran 2026: ASDP Percepat Layanan Ketapang-Gilimanuk

Lalu Lintas Jalan Layang MBZ Mulai Normal

Secara umum, kondisi lalu lintas di Ruas Jalan Layang MBZ terpantau lancar dan terkendali. Pemantauan lalu lintas dilakukan secara berkelanjutan dengan dukungan kesiapsiagaan petugas operasional di lapangan.

Desti mengimbau pengguna jalan untuk tetap mengutamakan keselamatan selama perjalanan. Pengemudi diminta memastikan kondisi fisik dalam keadaan prima serta kendaraan dalam kondisi layak jalan.

Selain itu, pengguna jalan juga diminta menjaga kecukupan daya listrik dan bahan bakar minyak (BBM), serta mengantisipasi perubahan cuaca, khususnya hujan yang dapat memengaruhi jarak pandang dan kondisi permukaan jalan.

Baca juga: PELNI Angkut 153.433 Penumpang Arus Balik, Tiket Terjual 91,4 Persen

Mobilitas Turun, Transportasi Umum Naik

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan sebelumnya mencatat mobilitas masyarakat selama periode Angkutan Lebaran 2026 mencapai 147,55 juta orang berdasarkan Mobile Positioning Data (MPD). Angka ini meningkat 2,53 persen dibandingkan hasil survei sebesar 143,92 juta orang.

Namun, dibandingkan realisasi Lebaran 2025 yang mencapai 154,62 juta orang, jumlah tersebut turun 4,57 persen.

“Tentunya ada beberapa pertimbangan dari masyarakat untuk melakukan perjalanan, itu akan kami elaborasi lagi mengenai penurunan dibandingkan tahun kemarin,” ujar Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi di Kemenhub, Senin (30/3/2026).

Baca juga: 28 dan 29 Maret Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Kemenhub Ungkap Titik Krusial

Halaman:
Baca tentang


Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau