JAKARTA, KOMPAS.com - Periode Lebaran telah usai, ekonomi Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh di atas 5 persen dengan dukungan dari sektor transportasi hingga telekomunikasi.
Kendati mengawali tahun dengan optimistis, kondisi ekonomi di kuartal II-2026 banyak diramalkan lebih menantang akibat efek dari konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Ekonom Maybank Myrdal Gunarto memproyeksikan, pertumbuhan ekonomi untuk kuartal I-2026 mampu mencapai 5,37 persen.
Hal ini didukung oleh langkah pemerintah yang sejak awal tahun telah mengakselerasi program belanja pemerintah termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Merah Putih
"Penopangnya kalau kita lihat ada tingkat konsumsi rumah tangga yang kemungkinan bisa tumbuh 5,16 persen," kata dia kepada Kompas.com.
Baca juga: OECD Pangkas Proyeksi Ekonomi Indonesia 2026 Jadi 4,8 Persen
Dari sisi sektoral, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 kemungkinan ditopang oleh sektor pendukung selama periode libur Lebaran.
Sektor transportasi diprediksi tumbuh 8,38 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) dan sektor yang berkaitan dengan akomodasi bisa tumbuh hingga 6,12 persen.
Sektor komunikasi dan telekomunikasi juga diperkirakan akan naik 7,37 persen.
"Faktor itu yang membuat pertumbuhan ekonomi kita di kuartal I-2026 akan tetap lumayan tinggi di level 5,37 persen," ungkap dia.
Baca juga: Perjalanan Mudik Turun, Penumpang Naik: Sinyal Baru Pola Perjalanan Lebaran 2026
Sejumlah uang baru yang kerap digunakan untuk THRMyrdal menjelaskan, tingkat konsumsi masyarakat pada kuartal I-2026 akan terdongkrak oleh adanya Tunjangan Hari Raya (THR) dan Bonus Hari Raya (BHR).
Adanya tambahan pendapatan ini membuat masyarakat memiliki pendapatan siap dibelanjakan atau disposable income.
"Karena Indonesia merupakan negara yang struktur ekonominya digerakkan oleh konsumsi rumah tangga, makan begitu ada THR atau ekstra allowance dalam bentu BHR juga ya sudah pasti tingkat konsumsi akan mengalami kenaikan," terang dia.
Selain itu, faktor lain yang mendukung konsumsi dan pertumbuhan ekonomi pada periode Lebaran itu adalah karena waktu liburan panjang.
Dengan gabungan disposable income dan masa liburan, konsumsi rumah tangga otomatis meningkat secara maksimal.
Baca juga: OECD: Konflik Timur Tengah Tekan Ekonomi Global, Inflasi 2026 Diprediksi Naik
Hal ini biasanya akan tercermin dari pertumbuhan pada bulan berikutnya.
Sebagai pengingat, tahun lalu Lebaran jatuh pada akhir Maret atau berada di periode akhir kuartal I-2025. Sementara, masyarakat banyak menggunakan waktu liburan dan belanja pada bulan berikutnya.
"Sehingga kalau kita lihat pada kuartal II-2025, pertumbuhan ekonomi kita naik, jadi 5,12 persen dari 4,87 persen pada kuartal pertamanya. Nah, kuartal kedua tahun lalu itu juga ada gaji ke-13 ya untuk PNS, juga ada libur panjang di April dan Mei," kata dia.
Baca juga: WFH Parsial dan Ekspektasi Penghematan BBM: Membaca Dampak Nyata Ekonomi
Myrdal mengungkapkan, inflasi tidak akan melonjak tajam selama pemerintah mampu untuk menjaga pasokan bahan pangan.
Pemerintah juga diharapkan mampu menjaga harga pangan seperti daging ayam, cabai merah, bawang merah, beras, telur.
"Selama itu dapat dijaga pemerintah dengan baik, saya rasa inflasi masih akan terkendali, tidak mengalami lonjakan yang signifikan" ungkap dia.
Dengan kata lain, selama pemerintah dapat menjaga suplai, dampak inflasi tidak akan mengalami lonjakan seperti tahun sebelumnya.
"Tahun lalu kita lihat inflasi awal tahun juga relatif jinak kok, karena pemerintah tahun lalu cukup berhasil ya menjaga pasokan pangan, terutama komoditas kucinya," tutup dia.
Baca juga: Di Tengah Tekanan Global, Lebaran Jadi Harapan Ekonomi Kuartal I 2026