JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berada dalam tekanan dan berpotensi melemah hingga menyentuh level psikologis Rp 17.070 per dollar AS pada perdagangan Rabu (1/4/2026).
Pelemahan mata uang Garuda seiring dengan meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi.
Rupiah di pasar spot memang melemah ketika penutupan perdagangan Selasa (31/3/2026). nilainya turun 39 poin atau 0,23 persen ke posisi Rp 17.041 per dollar AS.
Karena itu, Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan rupiah akan fluktuatif namun cenderung melemah dalam rentang Rp 17.040 hingga Rp 17.070 per dollar AS pada Rabu ini.
“Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 17.040- Rp 17.070 (per dollar AS)” ujar Ibrahim kepada wartawan Selasa.
Baca juga: Rupiah Anjlok Sentuh Rp 17.041 Per Dollar AS, Perang di Timur Tengah Jadi Biang Kerok
Tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya terkait potensi penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Jalur ini merupakan salah satu rute vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global serta distribusi gas alam cair.
Kondisi tersebut mendorong lonjakan harga minyak dunia. Harga Brent tercatat melonjak hingga 59 persen sepanjang Maret, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 58 persen, menjadi kenaikan bulanan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Menyoroti ancaman terhadap pasokan energi melalui laut dari perang antara Iran dan Amerika Serikat serta Israel, Kuwait Petroleum Corp mengatakan pada hari Selasa bahwa kapal tanker minyak mentah mereka yang bermuatan penuh, Al Salmi, yang mampu membawa hingga 2 juta barel, dihantam oleh serangan yang diduga dilakukan Iran di pelabuhan Dubai. Para pejabat juga memperingatkan potensi tumpahan minyak di daerah tersebut.
Selain itu, pada Sabtu kemarin, pasukan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran menargetkan Israel dengan rudal, menimbulkan kekhawatiran baru tentang kemungkinan gangguan terhadap Selat Bab el-Mandeb, titik sempit yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden dan rute utama bagi kapal yang bergerak antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.
Baca juga: Rupiah Rebound Pagi Ini, Sentuh Rp 16.995 per Dollar AS
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan tindakan militer terhadap infrastruktur energi Iran jika akses Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Meski demikian, Gedung Putih menyatakan jalur diplomasi masih berlangsung dan menunjukkan perkembangan positif.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh dinamika ekonomi domestik. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 diproyeksikan berada di kisaran 5,1-5,2 persen, didorong oleh konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah.
Namun, perlambatan investasi dan kinerja ekspor menjadi faktor penahan, terutama akibat memburuknya kondisi global sepanjang Maret 2026 yang berdampak pada pasar keuangan dan nilai tukar.
“Ekonom memproyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 akan berada di kisaran 5,1 persen -5,2 persen. Pendorong utamanya yakni konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah,” paparnya.
“Namun terdapat hambatan dari perlambatan pembentukan modal tetap bruto (PMTB)/investasi dan net-ekspor, penyebabnya memburuknya kondisi global pada Maret 2026 akibat perang di Timur Tengah yang menekan harga energi, pasar keuangan, dan nilai tukar,” lanjut Ibrahim.
Baca juga: Rupiah Berpotensi Melemah ke Rp 17.040 per Dollar AS, Ini Biang Keroknya
Faktor pemicu pertumbuhan kuartal pertama terutama datang dari dorongan musiman yang kuat seperti momentum Ramadhan, Idul Fitri, tunjangan hari raya(THR), bantuan sosial, diskon transportasi, dan pergerakan mudik yang dinilai mendorong belanja rumah tangga, jasa transportasi, perdagangan, makanan minuman, hingga kegiatan ekonomi di daerah.