JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan menyebut serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran merupakan aksi biadab.
“Saya kadang-kadang, Pak Hatta, susah tidur kalau lihat Amerika-Israel nyerang Iran itu, enggak bisa tidur. Di luar apa, di luar nalar. Di luar batas-batas kita sebagai manusia. Saya kira biadab gitu,” kata Zulhas saat sambutan dalam acara Rakernas I PAN di DPP PAN, Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (31/3/2026).
Baca juga: Zulhas Minta Warga Tak Panic Buying, Stok Pangan Aman
Ia menambahkan, kondisi serupa juga terjadi di Palestina, khususnya di Gaza, yang membuat Zulhas kesulitan tidur.
“Dan kita tidak bisa apa-apa, kecuali doa. Itu membuat kami tidak tidur, susah tidur,” ucap Zulhas.
Zulhas juga menyoroti dampak konflik yang meluas ke berbagai kawasan dunia, termasuk Eropa, Timur Tengah, hingga Asia dan ASEAN.
Ia menyebut sejumlah negara mulai terdampak, seperti Filipina yang telah menetapkan darurat energi.
“Kalau kita lihat lagi Pakistan, India sudah mulai mengular (antrean BBM). Bahkan gelap. Kalau yang Amerika Latin ada gelap, sedang naik sepeda, karena sudah tidak ada bensin ya,” tegas dia.
Baca juga: Istana Ucapkan Belasungkawa Usai 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon
“Kita tidak tahu kapan akan berakhir, keadaannya seperti ini. Australia yang kuat dan hebat juga sekarang sudah melepas cadangan darurat petrol dan diselnya,” tambahnya.
Zulhas mengajak semua pihak bersyukur karena Indonesia memiliki Presiden Prabowo dengan visi jauh ke depan.
Ia mengakui, gagasan Kepala Negara sempat diragukan, namun kini mulai terbukti.
Zulhas menegaskan pentingnya program swasembada, baik pangan maupun energi, agar Indonesia lebih berdaulat dan tidak bergantung pada impor.
“Pasti orang ketawa, karena enak kan? Jadi, selama ini kalau enggak ada, impor, sehingga kita terlena dinina bobokan,” ucap dia.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya hilirisasi sebagai kebijakan strategis dan mendasar untuk memperkuat perekonomian nasional.
Menurut dia, berbagai program tersebut bersifat visioner, fundamental, dan kini tengah dijalankan, termasuk di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Pangan yang juga dipimpinnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang