Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menyelidiki gugurnya tiga personel TNI yang bertugas dalam misi perdamaian Pasukan Sementara PBB di Lebanon alias UNIFIL.
“Kami menuntut investigasi oleh PBB, bukan alasan dari Israel,” kata Wakil Tetap RI untuk PBB, Umar Hadi, dalam sidang darurat Dewan Keamanan (DK) PBB yang disiarkan langsung di kanal YouTube PBB, United Nations, Selasa (31/3/2026).
Sidang darurat DK PBB ini digelar atas permintaan Indonesia dan Prancis. Duta Besar Israel untuk PBB juga hadir di sidang ini.
Baca juga: Di DK PBB, RI Kecam Israel Atas Serangan yang Tewaskan 3 Prajurit TNI
Indonesia bukan anggota DK PBB namun Indonesia menyampaikan pernyataan sebagai negara berkepentingan, sebagaimana dimungkinkan di bawah Rule 37 dalam Peraturan Prosedur Sementara DK PBB.
“Kami menuntut agar pelaku dimintai pertanggungjawaban secara hukum. Kekebalan hukum tidak boleh menjadi standar, dan serangan terhadap pasukan penjaga perdamaian tidak boleh diulangi atau ditoleransi,” kata Umar Hadi.
Indonesia menuntut DK PBB untuk mengikuti perkembangan investigasi dan menindaklanjuti hasilnya.
“Kami juga menuntut jaminan kepastian dari semua pihak termasuk Israel untuk melaksanakan kewajiban di bawah hukum internasional untuk segera menghentikan serangan dan perilaku agresif yang membahayakan personel PBB serta properti PBB dan menahan diri dari segala tindakan yang meningkatkan perselisihan,” kata Umar.
Baca juga: RI di DK PBB: Kami Tak Terima atas Pembunuhan 3 Prajurit TNI di Lebanon!
Indonesia mendorong DK PBB untuk meninjau kembali protokol keamanan untuk pasukan perdamaian, serta meninjau ulang cara evakuasi personel pasukan perdamaian PBB.
Dia menyatakan permintaan ini didasarkan atas gugurnya tiga personel TNI yang bertugas di UNIFIL pada 29 dan 30 Maret 2026 lalu.
“Hingga saat ini, Indonesia tetap akan terus berkontribusi untuk menjaga perdamaian dan keamanan sebagaimana mandat konstitusi kami,” kata Umar.
Indonesia juga mendorong DK PBB untuk lebih berani menyikapi perkembangan situasi keamanan di Timur Tengah yang menewaskan personel PBB sendiri.
“DK PBB harus berbicara dengan jelas dan tegas serta satu suara untuk mengecam serangan terhadap personel pasukan perdamaian,” kata Umar.
“Jangan ada lagi serangan. Terima kasih,” pungkasnya.
Wakil Tetap RI untuk PBB, Umar Hadi, dalam rapat DK PBB yang disiarkan langsung di kanal YouTube PBB, United Nations, Selasa (31/3/2026).Umar Hadi menyebutkan satu per satu nama prajurit TNI yang gugur maupun yang terluka di Lebanon dalam peristiwa 29 dan 30 Maret lalu.
Tiga orang yang gugur adalah Praka Farizal Rhomadhon (27), Kapten Infanteri Zulmi Aditya Iskandar (33), Sertu Muhammad Nur Ichwan (25).
“Ini adalah kehilangan besar untuk Indonesia, juga kehilangan besar untuk kita semua, untuk PBB, untuk Dewan Keamanan ini, dan untuk setiap masyarakat yang memandang bahwa penjaga perdamaian adalah simbol harapan dan perdamaian,” kata Umar Hadi.
Kata dia, Farizal gugur saat bertugas di pos Adchit Al Qusayr. Adapun Zulmi dan Nur Ichwan tewas saat bertugas mendukung penyediaan logistik di Banni Hayyan.
Lima prajurit yang luka-luka juga dia sebut namanya di forum ini. Mereka adalah Kapten Sultan Wiryan Maulana, Praka Rico Pramudia, Praka Arief Kurniawan, Praka Bayu Prakoso, dan Deni Riyanto.
“Para penjaga perdamaian itu gugur dan terluka ketika mengemban mandat yang dipercayakan kepada mereka oleh Dewan Keamanan PBB ini,” kata Umar Hadi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang