Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KILAS

Deru Perang Kala Ramadhan, Dompet Dhuafa Salurkan Sedekah untuk 500 Penyintas di Sudan

Kompas.com, 1 April 2026, 15:12 WIB
I Jalaludin S,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ketika jutaan orang di belahan dunia lain menjalankan ibadah Ramadhan dengan tenang, warga Sudan harus bertaruh nyawa di tengah konflik yang tak kunjung usai. 

Krisis kemanusiaan di Sudan tidak hanya memicu kelaparan dan jutaan orang mengungsi, tetapi juga pembunuhan dan kekerasan seksual.

Sebagai bentuk solidaritas terhadap kemanusiaan, Dompet Dhuafa mendorong aksi dan menggulirkan bantuan berupa bantuan pokok bagi masyarakat Sudan pada Jumat (20/3/2026).

Langkah itu menjadi jembatan kebaikan dari masyarakat Indonesia untuk membantu setidaknya 500 jiwa yang kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan akibat perang.

Kepala Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa Shofa Qudus mengatakan, Dompet Dhuafa mendistribusikan bantuan kebutuhan pokok kepada masyarakat yang terdampak pada Ramadhan 2026. 

Baca juga: Dompet Dhuafa Kenalkan Zakat sebagai Gaya Hidup “Kalcer” lewat Press Touring ke Zona Madina

Bantuan-bantuan tersebut terdiri dari paket pangan berupa tepung, gula, kacang lentil, beras, minyak goreng hingga pasta.

Shofa memaparkan bantuan tersebut menyasar setidaknya bagi 100 kepala keluarga (KK) atau sekitar 500 jiwa. 

“Dompet Dhuafa berupaya untuk bisa memberikan bantuan agar meringankan beban penyintas sekaligus menyalurkan dana kebaikan dari masyarakat Indonesia, terutama pada Ramadan ini,” jelasnya.

Adapun Dompet Dhuafa melakukan seleksi penerima manfaat berdasarkan kriteria kerentanan.

Beberapa kriteria tersebut antara lain pengungsi internal, rumah tangga tanpa penghasilan tetap, rumah tangga yang dikepalai perempuan, lanjut usia (lansia), penyandang disabilitas, serta anak yatim piatu dan anak tanpa pendamping.

Baca juga: Dompet Dhuafa Jateng dan Dishub Semarang Tebar 500 Paket Berbuka di Simpang Lima

Kemudian, penerima manfaat diverifikasi menggunakan kartu identitas dan sistem token. 

Shofa mengatakan, bantuan kemanusiaan itu tak lepas dari donasi Indonesia, baik dari korporasi.

“Semoga dengan bergulirnya bantuan dari masyarakat Indonesia dapat mendorong pemenuhan gizi, terutama pada anak-anak yang cukup rentan akan kekurangan gizi akibat konflik yang terus berkecamuk,” harapnya.

Untuk diketahui, krisis kemanusiaan di Sudan berlangsung sejak 2023 akibat perang saudara yang telah menewaskan ribuan orang.

Baca juga: Dompet Dhuafa Wakili RI di Forum Filantropi Asia di Riyadh

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) menyebutkan, lebih dari 12 juta perempuan dan anak perempuan dari sekitar 50 juta total populasi di Sudan berisiko mengalami kekerasan berbasis gender.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Hakim: Eks Sekretaris MA Nurhadi Berkepentingan Atas Gratifikasi via Menantu
Hakim: Eks Sekretaris MA Nurhadi Berkepentingan Atas Gratifikasi via Menantu
Nasional
Akibat Perang Iran, RI Berpotensi Kehilangan 60.572 Wisatawan dan Rp 2,04 T Devisa
Akibat Perang Iran, RI Berpotensi Kehilangan 60.572 Wisatawan dan Rp 2,04 T Devisa
Nasional
Amsal Sitepu Bebas, Anggota DPR: Ini Kemenangan bagi Keadilan
Amsal Sitepu Bebas, Anggota DPR: Ini Kemenangan bagi Keadilan
Nasional
Aturan WFH Tiap Jumat untuk ASN Resmi Berlaku Mulai Hari Ini
Aturan WFH Tiap Jumat untuk ASN Resmi Berlaku Mulai Hari Ini
Nasional
Di Blue House, Prabowo Puji Kemajuan Industri dan Etos Kerja Masyarakat Korsel
Di Blue House, Prabowo Puji Kemajuan Industri dan Etos Kerja Masyarakat Korsel
Nasional
Menpan RB Minta WFH ASN Tak Ganggu Kualitas Pelayanan Publik
Menpan RB Minta WFH ASN Tak Ganggu Kualitas Pelayanan Publik
Nasional
Prabowo Raih The Grand Order of Mugunghwa, Sama dengan Ratu Elizabeth II hingga Macron
Prabowo Raih The Grand Order of Mugunghwa, Sama dengan Ratu Elizabeth II hingga Macron
Nasional
Pemerintah Diminta Evaluasi WFH Jumat bagi ASN Tiap 2 Pekan
Pemerintah Diminta Evaluasi WFH Jumat bagi ASN Tiap 2 Pekan
Nasional
Manufaktur Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Global, PMI Bertahan di Zona Ekspansi 
Manufaktur Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Tekanan Global, PMI Bertahan di Zona Ekspansi 
Nasional
Prabowo Terima Penghargaan Tertinggi Korea Selatan, The Grand Order of Mugunghwa
Prabowo Terima Penghargaan Tertinggi Korea Selatan, The Grand Order of Mugunghwa
Nasional
Eks Sekretaris MA Nurhadi akan Banding Atas Vonis 5 Tahun Bui
Eks Sekretaris MA Nurhadi akan Banding Atas Vonis 5 Tahun Bui
Nasional
Menpar Ungkap Potensi Devisa Rp 2,04 Triliun Hilang akibat Perang Iran
Menpar Ungkap Potensi Devisa Rp 2,04 Triliun Hilang akibat Perang Iran
Nasional
Safari Dubes Iran di Tengah Konflik Kawasan: Dari JK-Megawati, Kini Jokowi
Safari Dubes Iran di Tengah Konflik Kawasan: Dari JK-Megawati, Kini Jokowi
Nasional
Anggota DPR Minta Usut Kematian Pemadam Karhutla di Riau, Soroti Standar Keselamatan
Anggota DPR Minta Usut Kematian Pemadam Karhutla di Riau, Soroti Standar Keselamatan
Nasional
ICW Minta KPK Umumkan Kepatuhan Pelaporan LHKPN Anggota Kabinet
ICW Minta KPK Umumkan Kepatuhan Pelaporan LHKPN Anggota Kabinet
Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau