Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Perilaku Berkendara Warga Jakarta Belum Membaik

Kompas.com, 24 Desember 2017, 11:59 WIB
Alsadad Rudi

Penulis

Jakarta, KompasOtomotif - Hasil riset yang dilakukan Inrix Global Scorecard belum lama ini menempatkan Jakarta sebagai kota termacet nomor 19 di seluruh dunia. Hasil riset ini berbeda dengan yang pernah ada sebelumnya. Pada 2015 silam, Castrol Magnetic mengumumkan hasil survei yang menempatkan Jakarta sebagai kota termacet nomor satu di seluruh dunia.

Pendiri Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu angkat bicara mengenai peringkat terbaru kemacetan di Jakarta. Jusri menilai posisi Jakarta yang berada di peringkat 19 tidak bisa dijadikan patokan sudah ada perbaikan perilaku warga dalam berlalu lintas.

Baca juga : 10 Kota Termacet di Dunia, Jakarta Nomor 19

Bagi Jusri, kemacetan di suatu kota bukan semata-mata karena perilaku berlalu lintas. Tapi juga  karena populasi kendaraan yang tidak sebanding dengan pertambahan jumlah jalan. Sehingga faktor penyebab kemacetan antara satu kota dengan kota lainnya tidak bisa disamakan.

Ilustrasi kemacetan JakartaStanly/KompasOtomotif Ilustrasi kemacetan Jakarta

"Jadi Jakarta dengan San Fransisco atau Jakarta dengan Bogota berbeda faktor-faktornya. Kalau di Jakarta saya melihat kemacetan lebih disebabkan rendahnya intelektual dan kedisiplinan dalam berlalu lintas," kata Jusri kepada KompasOtomotif, Jumat (22/12/2017).

Sebagai perbandingan, riset yang dilakukan Inrix Global Scorecard dilakukan dengan menganalisis rata-rata jam yang dihabiskan dalam kemacetan untuk 1.064 kota di 38 negara, serta persentase waktu yang dihabiskan oleh driver untuk menikmati kepadatan lalu lintas.

Baca juga : Jangan Sepelekan... Jakarta dan Surabaya Masuk 5 Kota Termacet di Dunia!

Sedangkan Castrol Magnetic menggunakan survei berdasarkan data pengguna Navigasi Tom Tom, mesin GPS, untuk menghitung jumlah berhenti dan jalan yang dibuat setiap kilometer. Hasil data indeks stop-start yang dilakukan saat itu menempatkan Jakarta sebagai kota terburuk dalam kemacetan lalu lintas di dunia, dengan rata-rata terdapat 33.240 kali proses berhenti di jalan per tahun.

Kemacetan di Jalan Ir H Juanda, Jakarta Pusat, imbas bubaran massa Reuni 212, Sabtu (2/12/2017).KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFAR Kemacetan di Jalan Ir H Juanda, Jakarta Pusat, imbas bubaran massa Reuni 212, Sabtu (2/12/2017).

Jusri menyatakan, dirinya cenderung meragukan riset yang dilakukan Inrix Global Scorecard. Sebab hasil tersebut menyebutkan kemacetan Jakarta lebih baik dibanding Ibu Kota Thailand, Bangkok.

Berdasarkan pengalaman Jusri, ia menilai lalu lintas Jakarta lebih baik dibanding Bangkok terjadi 15 tahun lalu. Tapi tidak demikian saat ini.

Jusri menilai Bangkok kini memiliki jaringan transportasi massal dan infrastruktur jalan yang lebih baik dibanding Jakarta. Sehingga kemacetan hanya terjadi pada jam-jam tertentu.

Iring-iringan kendaraan pembawa jenazah Raja Bhumibol Adulyadej melintasi jalanan kota Bangkok menuju ke kompleks istana kerajaan sementara rakyat berdiri di sepanjang jalan untuk memberikan ucapan perpisahan.MANAN VATSYAYANA / AFP Iring-iringan kendaraan pembawa jenazah Raja Bhumibol Adulyadej melintasi jalanan kota Bangkok menuju ke kompleks istana kerajaan sementara rakyat berdiri di sepanjang jalan untuk memberikan ucapan perpisahan.
Iring-iringan kendaraan pembawa jenazah Raja Bhumibol Adulyadej melintasi jalanan kota Bangkok menuju ke kompleks istana kerajaan sementara rakyat berdiri di sepanjang jalan untuk memberikan ucapan perpisahan.MANAN VATSYAYANA / AFP Iring-iringan kendaraan pembawa jenazah Raja Bhumibol Adulyadej melintasi jalanan kota Bangkok menuju ke kompleks istana kerajaan sementara rakyat berdiri di sepanjang jalan untuk memberikan ucapan perpisahan.

"Jadi kalau itu peringkat 19, jangan berbangga hati. Saya tidak tahu benar enggak ini penelitian tentang Kota Jakarta. Karena saya beberapa kali ke Bangkok, di sana itu hanya pada jam-jam tertentu saja macetnya," pungkas Jusri.

Dari hasil riset yang dilakukan Inrix Global Scorecard, Bangkok berada di peringkat 11 dalam daftar kota termacet. Sedangkan 10 kota yang masuk dalam daftar 10 besar adalah:
1. Los Angeles, AS
2. Moskow, Rusia
3. New York, AS
4. San Fransisco, AS
5. Bogota, Kolombia
6. Sao Paulo, Brasil
7. London, Inggris
8. Atlanta, AS
9. Paris, Perancis
10. Miami, AS

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau