Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Tunggu Mogok, Ini Batas Aman Kesehatan Aki Mobil

Kompas.com, 1 April 2026, 08:12 WIB
Dio Dananjaya,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Aki menjadi salah satu komponen vital pada mobil yang kerap luput dari perhatian. Padahal, kondisi aki sangat menentukan apakah kendaraan bisa dinyalakan dengan normal atau justru mogok di saat yang tidak terduga.

Untuk itu, penting memahami bagaimana bengkel resmi menentukan apakah aki masih sehat atau sudah waktunya diganti.

“Jadi kita punya alatnya untuk mendeteksi tegangan sama kesehatan aki. Nanti di alatnya itu ada print out-nya, ketahuan kesehatan akinya 100 persen atau misalkan 80 persen,” ujar Service Manager Honda Mandalasena Malang, M Taufik R, kepada Kompas.com (30/3/2026).

Baca juga: Kesalahan Pengemudi yang Bikin Power Steering Cepat Rusak

Ilustrasi servis mobil di diler resmi Honda.KOMPAS.com/DIO DANANJAYA Ilustrasi servis mobil di diler resmi Honda.

Di bengkel resmi, pengecekan aki tidak dilakukan secara kasat mata saja. Teknisi menggunakan alat khusus yang mampu membaca tegangan sekaligus tingkat kesehatan aki secara akurat.

Hasilnya bahkan bisa dicetak, sehingga pemilik kendaraan dapat melihat langsung kondisi aki dalam bentuk persentase.

Dari hasil pengukuran tersebut, ada batas yang menjadi acuan apakah aki masih layak pakai atau tidak.

Baca juga: Pemerintah Tegaskan Harga BBM Tak Naik 1 April 2026

macam-macam aki mobilKompas.com/Nanda macam-macam aki mobil

“(Aki soak) rata-rata sudah di bawah 60 persen. Takutnya kalau di 60 persen, kalau dipakai untuk perjalanan agak lama lagi, pas berhenti sudah enggak bisa di-start lagi,” ucap Taufik.

Artinya, jika kesehatan aki sudah turun di bawah 60 persen, risiko mogok semakin besar, terutama setelah mobil digunakan dalam perjalanan jauh. Karena itu, Taufik menyarankan agar aki dengan kondisi tersebut segera diganti.

Menurut Taufik, aki yang kesehatannya sudah di bawah 60 persen, direkomendasi untuk melakukan penggantian.

Baca juga: Kerugian Nembak KTP Saat Proses Bayar Pajak Kendaraan Bermotor

Ilustrasi aki mobil.Nusa Toyota Ilustrasi aki mobil.

Lalu bagaimana dengan opsi pengecasan? Taufik menjelaskan bahwa pengecasan biasanya hanya dilakukan berdasarkan indikator warna pada alat deteksi aki.

“Kalau dicas itu nanti cuma dilihat dari indikatornya. Sekarang ini kan ada indikator warna hijau, oranye, sama merah ya. Kalau sudah di oranye biasanya sebaiknya dicas,” ujar dia.

Namun, efektivitas pengecasan ternyata tidak selalu optimal, terutama untuk mobil yang digunakan sehari-hari.

Baca juga: Quartararo Patah Arang: Motor Yamaha V4 Belum Sesuai Ekspektasi

Ilustrasi menyalakan atau starter mobil menggunakan anak kunci.KompasOtomotif-Donny Apriliananda Ilustrasi menyalakan atau starter mobil menggunakan anak kunci.

“Cuma biasanya kalau untuk mobil, kalau sudah lama, pengecasan enggak terlalu signifikan sih. Dicas itu sebenarnya untuk mobil yang enggak pernah dipakai,” kata Taufik.

Dengan kata lain, pengecasan lebih cocok untuk mobil yang jarang digunakan dan mengalami penurunan daya karena lama tidak dipakai.

Sementara untuk mobil harian, apalagi setelah digunakan perjalanan jauh seperti mudik, aki yang sudah lemah umumnya lebih disarankan untuk langsung diganti.

Baca juga: Honda 0 Alpha Muncul di India, Kapan Masuk Indonesia?

Mekanik bengkel Shell melakukan pemeriksaan kendaraan dan servis mobil rutinKompas.com/Daafa Alhaqqy Mekanik bengkel Shell melakukan pemeriksaan kendaraan dan servis mobil rutin

“Tapi kalau mobil selama dipakai harian terus apalagi dipakai habis mudik, saya yakin enggak perlu dicas. Jadi emang kalau sudah lemah lebih baik diganti,” ujarnya.

“Usia aki itu rata-rata antara 1 sampai 1,5 tahun. Bisa sampai 2 tahun. Cuma nanti dikhawatirkan pada saat mau kita pakai tahu-tahu starternya enggak bisa,” kata dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau