Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bensin Dicampur Etanol, Benarkah Bikin Mesin Loyo? Ini Penjelasan Ahli

Kompas.com, 31 Maret 2026, 16:21 WIB
Muh. Ilham Nurul Karim,
Azwar Ferdian

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Isu pencampuran etanol ke dalam bahan bakar minyak (BBM) kembali menguat seiring dorongan pemerintah untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan impor bensin.

Kebijakan ini memunculkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap performa kendaraan, terutama terkait tenaga mesin dan konsumsi bahan bakar.

Pemerintah sebelumnya menyampaikan rencana pengembangan bioetanol sebagai campuran bensin, bahkan hingga kadar yang lebih tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi transisi energi nasional di tengah tekanan harga minyak global.

Baca juga: Tips Menghemat BBM pada Mobil Karburator

Menurut Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB Tri Yuswidjajanto Zaenuri, secara ilmiah penambahan etanol dalam kadar rendah tidak memberikan dampak signifikan terhadap performa mesin.

"Kandungan energi etanol itu sekitar 28 megajoule per kilogram, sedangkan bensin sekitar 40 megajoule per kilogram. Kalau dicampur sekitar 3 sampai 5 persen, penurunannya hanya sekitar 1 persen," ujarnya kepada Kompas.com, Selasa (31/3/2026).

Tri menjelaskan, dengan komposisi tersebut, perubahan performa seperti akselerasi maupun kecepatan puncak hampir tidak terasa dalam penggunaan harian.

"Penurunan sekitar 1 persen itu praktis tidak akan terasa, baik dari sisi konsumsi bahan bakar, akselerasi, maupun top speed kendaraan," kata dia.

Tangki penampungan etanol. 
KOMPAS.COM/YOGARTA AWAWA PRABANING ARKA. Tangki penampungan etanol.

Ia menambahkan, batas toleransi penurunan performa yang diizinkan dalam standar internasional World Wide Fuel Charter bahkan mencapai 2 persen. Artinya, campuran etanol dalam kadar rendah masih berada dalam rentang aman.

Meski demikian, aspek kompatibilitas tetap perlu diperhatikan. Untuk kendaraan yang sudah mengikuti regulasi emisi terbaru, penggunaan bensin campuran etanol hingga sekitar 10 persen masih dapat diterima tanpa kendala berarti.

Namun, pada kendaraan yang lebih lama, terdapat potensi risiko pada material tertentu. Komponen berbahan karet alami dapat mengalami pembengkakan (swelling), sementara logam yang tidak memiliki ketahanan terhadap korosi berisiko lebih cepat rusak.

Baca juga: Penyebab Konsumsi BBM Tiba-tiba Boros, Ini Kata Ahli

Karena itu, Tri menyarankan agar implementasi kebijakan ini tetap mempertimbangkan kondisi populasi kendaraan di Indonesia. Sosialisasi dan kesiapan teknis menjadi kunci agar penggunaan BBM campuran etanol tidak menimbulkan dampak negatif di lapangan.

Dengan pendekatan yang tepat, pemanfaatan etanol sebagai campuran BBM dinilai dapat menjadi solusi energi jangka panjang tanpa mengorbankan kinerja kendaraan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau