Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Apa Dampak Mencampur Pertamax dan Pertalite? Ini Penjelasan Ahli

Kompas.com, 31 Maret 2026, 16:12 WIB
Selma Aulia,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Mencampur bahan bakar minyak (BBM) seperti Pertamax dan Pertalite masih sering dilakukan oleh sebagian pengendara, baik karena alasan praktis maupun ingin menyesuaikan anggaran.

Namun, tidak sedikit yang belum memahami apakah kebiasaan ini aman bagi mesin atau justru berdampak buruk dalam jangka panjang.

Secara umum, perbedaan nilai oktan antara Pertamax dan Pertalite menjadi faktor utama yang memengaruhi proses pembakaran di dalam mesin.

Baca juga: Penyebab Konsumsi BBM Tiba-tiba Boros, Ini Kata Ahli

Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) Jayan Sentanuhady mengatakan, pencampuran kedua jenis bahan bakar tersebut akan menghasilkan nilai oktan di tengah-tengah, yakni sekitar 91.

Ilustrasi SPBU. Benarkah isi BBM saat siang hari jumlahnya lebih sedikit?Freepik Ilustrasi SPBU. Benarkah isi BBM saat siang hari jumlahnya lebih sedikit?

“Kalau dicampur 50 banding 50, jadi RON 91, keduanya tidak sesuai dengan standar masing-masing bensin. Akibatnya, kualitas pembakaran menurun dan performa mesin bisa terganggu. ” ucap Jayan belum lama ini kepada Kompas.com.

Apabila pengendara biasanya memakai bensin Pertalite, performa mesin kendaraannya menjadi lebih baik.

Sebaliknya, jika seorang pengendara biasanya menggunakan Pertamax untuk kendaraannya, bensin oplosan tersebut justru merugikan.

Sementara, Ahli Konservasi Energi dari Fakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB) Tri Yuswidjajanto Zaenuri, mengatakan Pertalite tidak mengandung zat aditif pembersih sementara Pertamax ada.

Baca juga: BBM Disimpan Terlalu Lama Bisa Rusak, Ini Dampaknya ke Mesin

“Bila dicampur, maka formulasinya akan terganggu, dampaknya akan menghasilkan kerak karbon lebih banyak, ini mempengaruhi performa mesin bakar, maka dari itu tidak dianjurkan,” ucap Tri kepada Kompas.com.

Sebelumnya, Area Manager Communication, Relations, & CSR Pertamina PPN Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, mengatakan, Pertamina tidak menyarankan pengguna mencampur Pertalite dengan Pertamax.

“Maksudnya kalau sudah menggunakan suatu bahan-bahan tertentu yang lebih baik, sebaiknya konsisten. Misalnya sebelumnya ya kayak testimoni ojol-ojol yang pakai Pertalite RON 90. Terus dia pakai 95 Pertamax Green, ya pasti dalam 1 atau 2 hari belum terasa. Tapi kalau sudah hari ketiga, mesinnya sudah terbiasa, terus yang di dalamnya juga sudah drain, tidak ada lagi 90, ya pasti akan impact-nya terasa. Gambarannya seperti itu,” katanya kepada Kompas.com, belum lama ini.

Taufiq juga mengatakan, dampak penggunaan BBM tidak hanya dipengaruhi oleh angka oktan, tetapi juga konsistensi pemakaian.

Jadi, sebaiknya pengendara tidak mencampur Pertamax dan Pertalite agar performa mesin tetap optimal dan terhindar dari risiko penurunan kinerja.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau