Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rem Bau di Pegunungan? Pahami Penyebab dan Cara Mengatasi

Kompas.com, 1 April 2026, 11:22 WIB
Muh. Ilham Nurul Karim,
Agung Kurniawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus rem mobil yang tiba-tiba tidak berfungsi saat melintasi turunan panjang di pegunungan masih menjadi momok bagi pengemudi.

Kondisi ini kerap diawali dengan munculnya bau menyengat dari roda, hingga pedal rem terasa tidak lagi pakem saat diinjak.

Baca juga: Masyarakat Jangan Dibebani Kenaikan Tarif Angkutan Umum

Menurut Lung Lung, pemilik Dokter Mobil, fenomena ini berkaitan erat dengan suhu tinggi yang terjadi pada sistem pengereman akibat penggunaan berlebihan. "Rem mobil itu bekerja dengan mengubah energi kinetik menjadi energi panas. Saat dipakai terus-menerus di turunan, panasnya bisa berlebihan sampai sistem tidak lagi bekerja optimal," kata Lung Lung kepada Kompas.com, Selasa (31/3/2026).

Ia menjelaskan, saat pengemudi terlalu sering menginjak pedal rem di jalan menurun, kampas dan piringan rem akan mengalami peningkatan suhu secara drastis.

Jika suhu sudah melewati batas, kampas rem bisa terbakar, sementara piringan tidak lagi mampu melepaskan panas dengan baik. "Kalau sudah tercium bau, itu tanda kampas rem mulai terbakar. Kalau sampai blong, artinya piringan rem sudah terlalu panas dan tidak bisa bekerja maksimal lagi," ujar dia.

Dalam kondisi tersebut, gaya gesek antara kampas dan piringan akan menurun sehingga daya cengkeram rem berkurang signifikan.

Ilustrasi mengerem mobil.istimewa Ilustrasi mengerem mobil.

Akibatnya, mobil tetap melaju meski pedal rem sudah diinjak dalam-dalam.

Lung Lung menyarankan pengemudi untuk tidak hanya mengandalkan rem saat melintasi turunan panjang.

Penggunaan engine brake dengan memanfaatkan perpindahan gigi yang lebih rendah dinilai jauh lebih efektif untuk membantu memperlambat laju kendaraan.

Selain itu, jika mulai tercium bau atau performa rem menurun, pengemudi disarankan segera menepi dan memberi waktu agar komponen rem mendingin. "Kalau sudah mulai bau, sebaiknya istirahat dulu. Jangan dipaksakan, karena ini menyangkut keselamatan," kata Lung Lung.

Ia juga mengingatkan pentingnya memastikan kondisi komponen rem selalu prima, mulai dari kampas, piringan, hingga minyak rem.

Baca juga: Pembelian Pertalite dan Solar Dibatasi, Ini Aturannya

Perawatan rutin, termasuk penggantian minyak rem secara berkala, dapat membantu menjaga performa pengereman tetap optimal.

Dengan memahami cara kerja dan batas kemampuan sistem pengereman, risiko rem blong saat turun gunung sebenarnya bisa dicegah sejak awal.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau