Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Prabowo Dorong Penggunaan EV kepada Pabrikan Jepang di Tokyo

Kompas.com, 1 April 2026, 07:42 WIB
Janlika Putri Indah Sari,
Agung Kurniawan

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Indonesia semakin gencar mendorong penggunaan Kendaraan Listrik (EV) sebagai solusi utama untuk mengurangi emisi karbon dan meningkatkan efisiensi energi nasional.

Berbagai kebijakan pun telah dirancang untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik di tengah masyarakat.

Insentif pajak dan subsidi pembelian kendaraan berbasis baterai menjadi salah satu daya tarik yang ditawarkan.

Infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) juga terus disiapkan seiring dengan masuknya pendatang baru dari jenama otomotif yang membawa produk kendaraan listrik mereka.

Dominasi Pasar EV dan Pergeseran Citra

Saat ini, pabrikan asal China terlihat paling mendominasi pasar kendaraan listrik di Indonesia.

Baca juga: Masyarakat Jangan Dibebani Kenaikan Tarif Angkutan Umum

Astra Infra mempersiapkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di seluruh rest area sepanjang ruas Cipali dan Tangerang-Merak sebagai langkah mitigasi kemacetan di titik-titik lelah.
Astra Infra Astra Infra mempersiapkan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di seluruh rest area sepanjang ruas Cipali dan Tangerang-Merak sebagai langkah mitigasi kemacetan di titik-titik lelah.

Terlebih, produk kendaraan listrik yang mereka tawarkan dibanderol dengan harga yang cukup bersahabat.

Citra mobil listrik yang semula dikenal sebagai kendaraan mewah dan mahal kini bergeser menjadi kendaraan yang terjangkau bagi semua kalangan masyarakat.

Baca juga: H+8 Lebaran, Volume Lalu Lintas ke Jakarta Masih Tinggi

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil listrik berbasis baterai atau Battery Electric Vehicle (BEV) dari pabrik ke diler (wholesales) telah mencapai 103.931 unit sepanjang 2025.

Angka penjualan tersebut didominasi oleh mobil listrik buatan pabrikan asal China.

Pabrik mesin Toyota di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.Dok. Toyota Global Pabrik mesin Toyota di Kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Baca juga: Quartararo Patah Arang: Motor Yamaha V4 Belum Sesuai Ekspektasi

Kondisi ini turut membuat merek otomotif Jepang yang sudah lebih lama menguasai pasar Indonesia mulai tergeser.

Pasalnya, belum ada satu pun produk otomotif buatan Jepang yang secara serius memasarkan kendaraan listrik murni.

Transformasi EV Secara Masif

Dorongan masif terhadap penggunaan kendaraan listrik juga ditegaskan oleh Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam pidatonya di Forum Bisnis Indonesia-Jepang.

Toyota Yaris Cross G HybridKOMPAS.com/STANLY RAVEL Toyota Yaris Cross G Hybrid

Baca juga: Benarkah Mesin Turbo Bikin Mobil Lebih Hemat BBM?

Forum tersebut digelar di Imperial Hotel, Tokyo, pada Senin (30/3/2026).

“Kami ingin memperluas semua upaya di sektor ini, maka itulah kami akan bergerak secara besar-besaran ke kendaraan listrik dan sepeda motor listrik,” ujarnya, dikutip dari keterangan resmi Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia, Senin (31/3/2026).

Prabowo menyebutkan bahwa saat ini terdapat 114 juta sepeda motor yang masih menggunakan bahan bakar bensin di Tanah Air.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau