JAKARTA, KOMPAS.com - Winglet kini bukan lagi sekadar aksesori tambahan dalam MotoGP. Elemen aerodinamika tersebut telah berevolusi menjadi bagian penting dari desain motor modern.
Saat ini, hampir mustahil menemukan motor MotoGP tanpa sayap di bagian depannya. Padahal, pada awal kemunculannya, winglet hanyalah eksperimen berani yang memancing banyak perdebatan.
Baca juga: Video Pengendara Motor Ditegur karena Spion Winglet, Ini Bahayanya
Dikutip dari Motorsport.com, Selasa (13/1/2026), kemunculan winglet bisa ditarik ke pertengahan 2010-an, tepatnya pada 2015.
Saat itu, Ducati menjadi pabrikan pertama yang berani menampilkan elemen bodi menyerupai sayap kecil yang menonjol di area depan motor, sebuah pendekatan yang berbeda dari pakem desain MotoGP sebelumnya.
Francesco Bagnaia dan Marc Marquez di MotoGP ItaliaLangkah tersebut bukan tanpa tujuan. Ducati mengembangkan winglet untuk meningkatkan stabilitas motor saat akselerasi, terutama dengan memanfaatkan efek aerodinamika berupa downforce yang diarahkan ke roda depan.
Pada era mesin MotoGP yang semakin bertenaga, tantangan terbesar adalah menjaga roda depan tetap menapak aspal.
Dengan adanya winglet, tekanan tambahan tercipta di bagian depan motor. Efeknya, kecenderungan roda depan terangkat saat berakselerasi dapat ditekan, sehingga pembalap memiliki kendali yang lebih baik ketika keluar dari tikungan.
Keuntungan lainnya, pembalap bisa membuka throttle lebih cepat dan agresif tanpa khawatir kehilangan traksi atau keseimbangan. Hal ini memberikan keunggulan kompetitif yang nyata, terutama dalam duel ketat di lintasan.
Fabio Quartararo saat berlaga pada MotoGP Jerman 2025Namun, seperti inovasi lain di MotoGP, kesuksesan winglet juga mengundang kritik. Selain soal estetika, aspek keselamatan dan biaya pengembangan turut menjadi perdebatan di paddock.
Meski demikian, waktu membuktikan bahwa winglet bukan tren sesaat. Kini, aerodinamika menjadi salah satu faktor kunci dalam performa motor MotoGP, dan winglet pun menjelma dari eksperimen kontroversial menjadi standar yang tak terpisahkan dari balap motor paling prestisius di dunia.
Alex Marquez saat berlaga pada MotoGP Australia 2025Beberapa tim mengeluhkan kenaikan biaya akibat pengembangan aerodinamis, sementara pebalap dan penyelenggara mengangkat masalah keamanan.
Sayap kecil terbuat dari elemen serat karbon yang tajam, yang dapat menyebabkan cedera dalam kecelakaan atau bahkan saat menyalip. Pada 2016, FIM turun tangan dan sayap kecil dalam bentuknya yang menonjol saat itu dilarang.
Keamanan bukanlah satu-satunya alasan. FIM juga ingin mencegah MotoGP berubah menjadi perlombaan senjata, di mana tim dengan anggaran besar dapat meninggalkan tim lain di belakang dengan inovasi teknis yang terus-menerus.
Maverick Vinales saat berlaga pada MotoGP Qatar 2025Larangan tersebut tidak menandai akhir dari pengembangan aerodinamis, melainkan awal dari fase baru. Mulai musim 2017, aturan kembali mengizinkan elemen aerodinamis, tetapi hanya jika terintegrasi ke dalam bodi kendaraan dan oleh karena itu tidak lagi berupa bagian tajam yang menonjol.
Hal ini memicu filosofi desain yang sepenuhnya baru. Alih-alih sayap yang terlihat, bentuk fairing kompleks dengan saluran udara terintegrasi yang disebut “aerobodies” muncul. Desain-desain ini harus disetujui oleh FIM, dan setiap tim hanya boleh menggunakan sejumlah desain terbatas per musim.