Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Evolusi Winglet di Motor Balap MotoGP

Kompas.com, 14 Januari 2026, 19:01 WIB
Donny Dwisatryo Priyantoro,
Azwar Ferdian

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Winglet kini bukan lagi sekadar aksesori tambahan dalam MotoGP. Elemen aerodinamika tersebut telah berevolusi menjadi bagian penting dari desain motor modern.

Saat ini, hampir mustahil menemukan motor MotoGP tanpa sayap di bagian depannya. Padahal, pada awal kemunculannya, winglet hanyalah eksperimen berani yang memancing banyak perdebatan.

Baca juga: Video Pengendara Motor Ditegur karena Spion Winglet, Ini Bahayanya

Dikutip dari Motorsport.com, Selasa (13/1/2026), kemunculan winglet bisa ditarik ke pertengahan 2010-an, tepatnya pada 2015.

Saat itu, Ducati menjadi pabrikan pertama yang berani menampilkan elemen bodi menyerupai sayap kecil yang menonjol di area depan motor, sebuah pendekatan yang berbeda dari pakem desain MotoGP sebelumnya.

Francesco Bagnaia dan Marc Marquez di MotoGP ItaliaCRASH.net Francesco Bagnaia dan Marc Marquez di MotoGP Italia

Langkah tersebut bukan tanpa tujuan. Ducati mengembangkan winglet untuk meningkatkan stabilitas motor saat akselerasi, terutama dengan memanfaatkan efek aerodinamika berupa downforce yang diarahkan ke roda depan.

Pada era mesin MotoGP yang semakin bertenaga, tantangan terbesar adalah menjaga roda depan tetap menapak aspal.

Dengan adanya winglet, tekanan tambahan tercipta di bagian depan motor. Efeknya, kecenderungan roda depan terangkat saat berakselerasi dapat ditekan, sehingga pembalap memiliki kendali yang lebih baik ketika keluar dari tikungan.

Keuntungan lainnya, pembalap bisa membuka throttle lebih cepat dan agresif tanpa khawatir kehilangan traksi atau keseimbangan. Hal ini memberikan keunggulan kompetitif yang nyata, terutama dalam duel ketat di lintasan.

Fabio Quartararo saat berlaga pada MotoGP Jerman 2025GIGI SOLDANO Fabio Quartararo saat berlaga pada MotoGP Jerman 2025

Namun, seperti inovasi lain di MotoGP, kesuksesan winglet juga mengundang kritik. Selain soal estetika, aspek keselamatan dan biaya pengembangan turut menjadi perdebatan di paddock.

Meski demikian, waktu membuktikan bahwa winglet bukan tren sesaat. Kini, aerodinamika menjadi salah satu faktor kunci dalam performa motor MotoGP, dan winglet pun menjelma dari eksperimen kontroversial menjadi standar yang tak terpisahkan dari balap motor paling prestisius di dunia.

Alex Marquez saat berlaga pada MotoGP Australia 2025Dok. Gresini Racing Alex Marquez saat berlaga pada MotoGP Australia 2025

Mengapa Winglet Dilarang?

Beberapa tim mengeluhkan kenaikan biaya akibat pengembangan aerodinamis, sementara pebalap dan penyelenggara mengangkat masalah keamanan.

Sayap kecil terbuat dari elemen serat karbon yang tajam, yang dapat menyebabkan cedera dalam kecelakaan atau bahkan saat menyalip. Pada 2016, FIM turun tangan dan sayap kecil dalam bentuknya yang menonjol saat itu dilarang.

Keamanan bukanlah satu-satunya alasan. FIM juga ingin mencegah MotoGP berubah menjadi perlombaan senjata, di mana tim dengan anggaran besar dapat meninggalkan tim lain di belakang dengan inovasi teknis yang terus-menerus.

Maverick Vinales saat berlaga pada MotoGP Qatar 2025Dok. @maverick12official Maverick Vinales saat berlaga pada MotoGP Qatar 2025

Larangan tersebut tidak menandai akhir dari pengembangan aerodinamis, melainkan awal dari fase baru. Mulai musim 2017, aturan kembali mengizinkan elemen aerodinamis, tetapi hanya jika terintegrasi ke dalam bodi kendaraan dan oleh karena itu tidak lagi berupa bagian tajam yang menonjol.

Hal ini memicu filosofi desain yang sepenuhnya baru. Alih-alih sayap yang terlihat, bentuk fairing kompleks dengan saluran udara terintegrasi yang disebut “aerobodies” muncul. Desain-desain ini harus disetujui oleh FIM, dan setiap tim hanya boleh menggunakan sejumlah desain terbatas per musim.

Halaman:
Baca tentang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau