Penulis
Pelek retak atau pecah, bsia juga diservis, tapi tidak menjamin kekuatannya.Mulyono, supervisor Sarinande, mengakatan kepada KompasOtomotif bahwa untuk menyervis pelek sebaiknya menggunakan mesin. ”Banyak yang bisa mereparasi tapi caranya manual dengan diketok dan dipanasi. Kami menggunakan mesin press, peyang atau retak paling parah sekali pun bisa kembali rapi,”ungkapnya.
Kerusakan
Paling sering dikeluhkan adalah peyang atau penyok. Untuk perbaikan jenis ini dipatok Rp 150.000 - 200.000 ribu, per pelek. Mulyono menjelaskan bahwa kadang tak cukup hanya di-press. Untuk kerusakan tertentu butuh dibubut dan dipapas agar tetap simetris. Hampir semua kerusakan bisa diatasi, tapi tidak menerima cat dan poles.
Kerusakan lain adalah retak atau pecah. Kalau yang ini prosesnya hampir sama, di-press dahulu lalu dibuat presisi kembali. Namun ada langkah tambahan, yakni merapikan dengan dempul dan lem. ”Menyambungnya kembali nanti dilas secara manual. Lem dan dempul untuk menutup pori-pori agar lebih kuat,” sambar Mulyono.
Untuk kerusakan jenis ini dipatok paling murah Rp 250 ribu untuk pelek 18 inci ke bawah. Semakin besar diameter atau semakin parah kerusakan, harga bisa melambung, bahkan mencapai Rp 500.000 - 1 juta per pelek. Meski demikian, untuk pelek yang sudah diservis, saran Mulyono, tidak dipakai terlalu lama. Dia tidak menjamin soal kekuatan, meski hasil pengerjaan tergolong rapi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang