Salin Artikel

Warga Lembata Sulit Dapat BBM di SPBU, Pertamina Minta Maaf

Area Manager Communication, Relations, and CSR Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi menyampaikan permintaan maaf atas kondisi yang terjadi.

Menurutnya, kemacetan yang mengular di SPBU terjadi karena adanya kerusakan pompa dispenser untuk produk Pertalite dan Pertamax di SPBU 56.866.04.

“Kami mohon maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi akibat dari kerusakan pompa dispenser di SPBU 56.866.04 sehingga sementara harus berhenti beroperasi dan berimbas pada antrean panjang di SPBU terdekat di sekitar wilayah tersebut,” ujar Ahad dalam keterangannya, Senin (10/3/2025).

Sebagai tindak lanjut, kata Ahad, tim Pertamina Patra Niaga Sales Area NTT segera berkoordinasi dengan pihak SPBU untuk melakukan percepatan perbaikan kerusakan pompa dispenser tersebut.

Selain itu, Pertamina melakukan penambahan stok BBM ke seluruh SPBU Lembata guna menambah ketahanan stok harian.

“Kita juga terus berkoordinasi dengan pemda dan aparat penegak hukum guna menjaga kondusifitas wilayah tersebut,” kata dia.

“Diharapkan SPBU 56.866.04 sudah bisa beroperasi sehingga keadaan dapat normal kembali,” ucapnya. 

Ahad menyebutkan, di Kabupaten Lembata, terdapat empat lembaga penyalur BBM, yaitu SPBU 56.862.01, SPBU 56.862.03, SPBU 56.862.04, dan SPBU 56.866.04.

Masyarakat yang biasanya mengisi bahan bakar di SPBU 56.866.04 terpaksa beralih ke SPBU 56.862.04 untuk mendapatkan BBM Pertalite.

“Kondisi ini berakibat antrean yang panjang di SPBU tersebut karena SPBU 56.862.01 yang terdekat di wilayah itu tidak menjual produk Pertalite, hanya produk Pertamax, dan SPBU 56.862.03 jauh dari pusat Kota Lembata,” tuturnya.

Ia menyampaikan bahwa bagi masyarakat maupun konsumen yang membutuhkan informasi seputar produk dan layanan dari Pertamina, dapat menghubungi Pertamina call center di nomor 135.

Diberitakan sebelumnya, warga Lembata mengeluh lantaran kesulitan mendapatkan BBM di SPBU.

Kondisi tersebut mengakibatkan harga BBM yang dijual eceran di Kota Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, melambung tinggi tembus Rp 50.000 per botol.

Warga Lembata, Rikardus Bala mengungkapkan bahwa kenaikan harga itu sudah berlangsung beberapa hari terakhir.

“Sudah tiga hari ini harga BBM naik Rp 40.000-Rp 50.000 per botol,” ujar Rikardus saat dihubungi, Sabtu (8/3/2025).

https://regional.kompas.com/read/2025/03/10/105119178/warga-lembata-sulit-dapat-bbm-di-spbu-pertamina-minta-maaf

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com