Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Dr. Eng. IB Ilham Malik
Dosen

Dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) ITERA, Peneliti Utama di Center for Urban & Regional Studies (CURS) bidang Infrastructure and Urban Studies Specialist (sejak 2005). Penggiat di Masyarakat Transportasi Indonesia (sejak 2006), penggiat di Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia/HPJI (sejak 2007), penggiat di Forum Studi Transportasi antar Perguruan Tinggi/FSTPT (sejak 2015), anggota World Society for Transport and Land Use Researcher (sejak 2016), dan penggiat di Intelligent Transportation System/ITS (sejak 2022).

Bangun Pulau Sumatera, Manfaatkan Selat Malaka

Kompas.com, 10 Maret 2026, 12:05 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KONFLIK geopolitik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat dalam beberapa minggu terakhir, bukan sekadar peristiwa militer di Timur Tengah.

Perang tersebut mulai memicu perubahan besar dalam sistem perdagangan global, khususnya melalui ancaman terhadap jalur logistik energi dunia di Selat Hormuz.

Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia ini merupakan salah satu titik paling strategis dalam sistem logistik global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut setiap hari.

Ketika konflik meningkat, lalu lintas kapal di Selat Hormuz sempat terhenti atau berkurang drastis akibat ancaman militer dan serangan terhadap kapal tanker.

Perusahaan pelayaran besar menunda pelayaran, asuransi kapal dicabut, dan ratusan kapal menunggu di luar kawasan tersebut.

Situasi ini langsung mengguncang pasar energi dunia dan memicu lonjakan harga minyak. Para analis bahkan memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel jika gangguan berlangsung lama.

Baca juga: Eksperimen Berbahaya Trump di Iran: Menakar Risiko Perang Tanpa Akhir

Peristiwa ini memperlihatkan satu hal penting: sistem perdagangan dan logistik internasional sangat rentan terhadap gangguan geopolitik.

Ketika satu jalur laut strategis terganggu, dampaknya merambat ke seluruh dunia—dari harga energi, biaya logistik, hingga stabilitas ekonomi global.

Negara-negara yang bergantung pada perdagangan internasional harus mulai memikirkan ulang bagaimana membangun ketahanan ekonomi dalam situasi global yang semakin tidak pasti.

Bagi Indonesia, khususnya Pulau Sumatera, situasi geopolitik ini seharusnya menjadi momentum strategis untuk memperkuat ekonomi produksi dan industrialisasi.

Sumatera berada tepat di jalur perdagangan internasional yang sangat penting, yaitu Selat Malaka. Jalur ini merupakan salah satu koridor pelayaran tersibuk di dunia yang menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Eropa.

Ketika jalur perdagangan global mengalami tekanan di kawasan Timur Tengah, kawasan Asia Tenggara—termasuk Selat Malaka—menjadi semakin penting dalam sistem logistik dunia.

Dengan kata lain, perubahan konstelasi perdagangan global akibat konflik geopolitik justru dapat membuka peluang strategis bagi wilayah-wilayah yang memiliki posisi geografis penting dalam jaringan perdagangan internasional. Sumatera merupakan salah satu wilayah yang memiliki keunggulan tersebut.

Pulau Sumatera memiliki tiga modal besar yang jarang dimiliki secara bersamaan oleh wilayah lain.

Pertama, posisi geografis sangat strategis di sepanjang Selat Malaka. Kedua, kekayaan sumber daya alam sangat besar, mulai dari energi, pertambangan, perkebunan, hingga pertanian.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Bangun Pulau Sumatera, Manfaatkan Selat Malaka
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat