
Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
KONFLIK geopolitik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat dalam beberapa minggu terakhir, bukan sekadar peristiwa militer di Timur Tengah.
Perang tersebut mulai memicu perubahan besar dalam sistem perdagangan global, khususnya melalui ancaman terhadap jalur logistik energi dunia di Selat Hormuz.
Jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia ini merupakan salah satu titik paling strategis dalam sistem logistik global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati kawasan tersebut setiap hari.
Ketika konflik meningkat, lalu lintas kapal di Selat Hormuz sempat terhenti atau berkurang drastis akibat ancaman militer dan serangan terhadap kapal tanker.
Perusahaan pelayaran besar menunda pelayaran, asuransi kapal dicabut, dan ratusan kapal menunggu di luar kawasan tersebut.
Situasi ini langsung mengguncang pasar energi dunia dan memicu lonjakan harga minyak. Para analis bahkan memperkirakan harga minyak dapat melonjak hingga di atas 100 dolar AS per barel jika gangguan berlangsung lama.
Baca juga: Eksperimen Berbahaya Trump di Iran: Menakar Risiko Perang Tanpa Akhir
Peristiwa ini memperlihatkan satu hal penting: sistem perdagangan dan logistik internasional sangat rentan terhadap gangguan geopolitik.
Ketika satu jalur laut strategis terganggu, dampaknya merambat ke seluruh dunia—dari harga energi, biaya logistik, hingga stabilitas ekonomi global.
Negara-negara yang bergantung pada perdagangan internasional harus mulai memikirkan ulang bagaimana membangun ketahanan ekonomi dalam situasi global yang semakin tidak pasti.
Bagi Indonesia, khususnya Pulau Sumatera, situasi geopolitik ini seharusnya menjadi momentum strategis untuk memperkuat ekonomi produksi dan industrialisasi.
Sumatera berada tepat di jalur perdagangan internasional yang sangat penting, yaitu Selat Malaka. Jalur ini merupakan salah satu koridor pelayaran tersibuk di dunia yang menghubungkan Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah, dan Eropa.
Ketika jalur perdagangan global mengalami tekanan di kawasan Timur Tengah, kawasan Asia Tenggara—termasuk Selat Malaka—menjadi semakin penting dalam sistem logistik dunia.
Dengan kata lain, perubahan konstelasi perdagangan global akibat konflik geopolitik justru dapat membuka peluang strategis bagi wilayah-wilayah yang memiliki posisi geografis penting dalam jaringan perdagangan internasional. Sumatera merupakan salah satu wilayah yang memiliki keunggulan tersebut.
Pulau Sumatera memiliki tiga modal besar yang jarang dimiliki secara bersamaan oleh wilayah lain.
Pertama, posisi geografis sangat strategis di sepanjang Selat Malaka. Kedua, kekayaan sumber daya alam sangat besar, mulai dari energi, pertambangan, perkebunan, hingga pertanian.