GORONTALO, KOMPAS.com - Sejak perpindahan pusat pemerintahan Kerajaan Hulontalo (Gorontalo) di era Sultan Botutihe pada abad ke-17, Masjid Baiturrahim telah menjadi pusat ibadah umat Islam.
Secara fisik, masjid ini telah mengalami perubahan bentuk. Namun, fungsi dan sejarahnya tetap meneguhkan bahwa tempat ini menjadi kawasan penting perkembangan Islam di jazirah Gorontalo hingga saat ini.
Di masjid ini jejak kekunoan masih tersisa, di bagian belakang atau di sisi baratnya masih menyisakan dinding benteng Ilodoa, sebuah benteng lokal yang dulunya mengelilingi kawasan istana, termasuk masjid serta makam raja, ulama dan pembesar negeri Gorontalo.
Selain artefak, masjid ini juga masih melanjutkan tradisi lama terkait tata cara adat sebelum pelaksanaan shalat Id.
Prosesi ini dilakukan oleh sejumlah perangkat adat, mulai dari Hantalo (penabuh tambur), Bate, Wu’u, Mayulu (perwira kerajaan), sejumlah perangkat petugas syara seperti Syara’ada’a, Tuan Kadhi, Imamu.
Baca juga: Rumah Makan Nekat Buka Saat Ramadhan, Satpol PP Gorontalo Sita Peralatan Masak
“Prosesi adat diawali dengan penjemputan wali kota Adhan Dambea sebagai tauwa Lo lipu (pemimpin negeri) di Yiladia (rumah adat),” kata Juni Kasim petugas penabuh tambur, Sabtu (21/3/2026).
Tampak di pintu pagar masjid terdapat gerbang adat atau alikusu yang terbuat dari bambu kuning yang dihiasi janur, anyaman bambu khas adat Gorontalo, dan dua batang pisang lengkap dengan buah di kedua sisinya.
Di alikusu ini masih menempel beberapa lampu minyak sisa tumbilotohe (tradisi menyalakan lampu tiga hari menjelang Idul Fitri).
Para petugas adat mengiringi langkah pemimpin negeri hingga ke masjid, jaraknya tidak terlalu jauh, sepanjang jalan tambur dipukul mengiringi langkah rombongan ini hingga ke halaman masjid.
Para petugas adat ini terlihat menyolok karena mengenakan baju yang khas, misalnya dua orang Syara’ada’a, Juni Kasim dan Hamzah Igirisa mengenakan jubah putih, rompi hitam, dan penutup kepala warna merah dengan kucir panjang warna hitam.
Baca juga: Ribuan Jemaah Shalat Id di Lapangan Merdeka Pangkalpinang, Halaman Gereja Jadi Kantong Parkir
Bate atau pemangku adat mengenakan ikat kepala batik dan baju tradisional, demikian juga dengan petugas lainnya.
“Suasananya masih kental dengan adat-istiadat, ini yang menarik,” ujar Mahmud Ali seorang warga kota Gorontalo.
Sesaat sebelum shalat dimulai, dilakukan mopoma'lumu atau mengumumkan shalat akan segera dimulai.
Petugas akan memberitahu tata cara shalat agar seluruh jemaah bisa mengikuti dengan tertib.
Tidak hanya berhenti sampai di sini, usai shalat dilakukan lua lo ulipu atau doa untuk keselamatan negeri.