Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Shalat Id di Masjid Baiturrahim Gorontalo, Diawali Prosesi Adat Sarat Sejarah

Kompas.com, 21 Maret 2026, 09:04 WIB
Rosyid A Azhar ,
Diamanty Meiliana

Tim Redaksi

GORONTALO, KOMPAS.com - Sejak perpindahan pusat pemerintahan Kerajaan Hulontalo (Gorontalo) di era Sultan Botutihe pada abad ke-17, Masjid Baiturrahim telah menjadi pusat ibadah umat Islam.

Secara fisik, masjid ini telah mengalami perubahan bentuk. Namun, fungsi dan sejarahnya tetap meneguhkan bahwa tempat ini menjadi kawasan penting perkembangan Islam di jazirah Gorontalo hingga saat ini.

Di masjid ini jejak kekunoan masih tersisa, di bagian belakang atau di sisi baratnya masih menyisakan dinding benteng Ilodoa, sebuah benteng lokal yang dulunya mengelilingi kawasan istana, termasuk masjid serta makam raja, ulama dan pembesar negeri Gorontalo.

Tradisi Lama Sebelum Shalat Ied

Selain artefak, masjid ini juga masih melanjutkan tradisi lama terkait tata cara adat sebelum pelaksanaan shalat Id.

Prosesi ini dilakukan oleh sejumlah perangkat adat, mulai dari Hantalo (penabuh tambur), Bate, Wu’u, Mayulu (perwira kerajaan), sejumlah perangkat petugas syara seperti Syara’ada’a, Tuan Kadhi, Imamu.

Baca juga: Rumah Makan Nekat Buka Saat Ramadhan, Satpol PP Gorontalo Sita Peralatan Masak

“Prosesi adat diawali dengan penjemputan wali kota Adhan Dambea sebagai tauwa Lo lipu (pemimpin negeri) di Yiladia (rumah adat),” kata Juni Kasim petugas penabuh tambur, Sabtu (21/3/2026).

Tampak di pintu pagar masjid terdapat gerbang adat atau alikusu yang terbuat dari bambu kuning yang dihiasi janur, anyaman bambu khas adat Gorontalo, dan dua batang pisang lengkap dengan buah di kedua sisinya.

Di alikusu ini masih menempel beberapa lampu minyak sisa tumbilotohe (tradisi menyalakan lampu tiga hari menjelang Idul Fitri).

Para petugas adat mengiringi langkah pemimpin negeri hingga ke masjid, jaraknya tidak terlalu jauh, sepanjang jalan tambur dipukul mengiringi langkah rombongan ini hingga ke halaman masjid.

Para petugas adat ini terlihat menyolok karena mengenakan baju yang khas, misalnya dua orang Syara’ada’a, Juni Kasim dan Hamzah Igirisa mengenakan jubah putih, rompi hitam, dan penutup kepala warna merah dengan kucir panjang warna hitam.

Baca juga: Ribuan Jemaah Shalat Id di Lapangan Merdeka Pangkalpinang, Halaman Gereja Jadi Kantong Parkir

Bate atau pemangku adat mengenakan ikat kepala batik dan baju tradisional, demikian juga dengan petugas lainnya.

“Suasananya masih kental dengan adat-istiadat, ini yang menarik,” ujar Mahmud Ali seorang warga kota Gorontalo.

Sesaat sebelum shalat dimulai, dilakukan mopoma'lumu atau mengumumkan shalat akan segera dimulai.

Petugas akan memberitahu tata cara shalat agar seluruh jemaah bisa mengikuti dengan tertib.

Tidak hanya berhenti sampai di sini, usai shalat dilakukan lua lo ulipu atau doa untuk keselamatan negeri.

Halaman:


Terkini Lainnya
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Regional
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Regional
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
Regional
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Regional
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Regional
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Regional
Komisi II DPR Sebut WFH ASN Jadi Strategi Tekan Impor BBM dan Hemat APBN
Komisi II DPR Sebut WFH ASN Jadi Strategi Tekan Impor BBM dan Hemat APBN
Regional
Penemuan Jasad Bayi di Sambas, Saksi Sempat Kira Bungkusan Ayam
Penemuan Jasad Bayi di Sambas, Saksi Sempat Kira Bungkusan Ayam
Regional
Pemkot Palembang Tegaskan WFH Bukan Libur, ASN Tetap Harus Produktif
Pemkot Palembang Tegaskan WFH Bukan Libur, ASN Tetap Harus Produktif
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Shalat Id di Masjid Baiturrahim Gorontalo, Diawali Prosesi Adat Sarat Sejarah
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat