Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Embung Menyusut Akibat Cuaca Panas, PDAM Nunukan Berlakukan Distribusi Air Bergilir

Kompas.com, 31 Maret 2026, 15:55 WIB
Ahmad Dzulviqor,
Vachri Rinaldy Lutfipambudi

Tim Redaksi

NUNUKAN, KOMPAS.com – Cuaca panas di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara berimbas pada penyusutan penyimpanan air baku di dua embung.

PDAM bahkan telah memberlakukan distribusi air bergilir akibat kondisi tersebut.

Direktur Perumda Tirta Taka Nunukan, Arpiansyah mengatakan, dua embung yang selama ini menjadi instalasi pengolahan air bersih andalan, masing-masing Embung Bolong dan Embung Sei Bilal, mengalami masalah kekurangan air baku.

“Embung Bolong dengan kapasitas 450.000 m3, volume tersisa saat ini 90.000 m3. Ketinggian air saat ini 1 meter, estimasi debit normal maksimal 5 hari,” ujarnya melalui pesan tertulis, Selasa (31/3/2026).

“Sedangkan Embung Sei Bilal dengan kapasitas normal sekitar 85.680 m3, saat ini tersisa 69.000 m3 dengan ketinggian air 3 meter, dan estimasi debit normal, maksimal 14 hari,” imbuhnya.

Baca juga: Coba Selundupkan Satu Keluarga ke Malaysia, IRT di Nunukan Ditangkap

Arpiansyah mengimbau masyarakat bisa menggunakan air dengan bijak.

Ia juga meminta maaf kepada masyarakat atas pelayanan yang kurang maksimal.

Saat ini, yang bisa dilakukan hanya menunggu hujan turun karena Kabupaten Nunukan memang tidak memiliki sumber air baku.

“Semoga Allah mencurahkan hujan yang penuh rahmat dan barokah,” harap Arpiansyah.

Penyebab Cuaca Terik

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nunukan, Wiliam Sinaga menjelaskan, fenomena cuaca terik yang terjadi beberapa hari terakhir ini disebabkan karena minimnya uap air di atmosfer yang menyebabkan kurangnya pembentukan awan.

“Kondisi ENSO (El Nino Southern Oscillation) cenderung berada pada status netral. Namun, menguatnya monsun Australia yang membawa udara kering serta suhu muka laut di perairan Kaltara yang tidak cukup panas, menjadi salah satu faktor penyebab cuaca panas,” jelasnya.

Baca juga: BPBD Nunukan Imbau Warga Tak Membuka Lahan dengan Membakar

Peningkatan kecepatan angin juga menjadi salah satu faktor penghalang bagi awan-awan konvektif atau awan penyebab hujan untuk tumbuh.

Faktor lain, adanya fenomena posisi gerak semu harian matahari yang berada tepat di atas titik pengamat atau disebut kulminasi, juga berkontribusi terhadap peningkatan suhu udara yang menyebabkan cuaca terasa panas.

Dengan kulminasi utama di Nunukan terjadi pada tanggal 31 Maret 2026, sekitar pukul 12.13 waktu setempat.

Baca juga: Suka Duka Petugas Pelabuhan Nunukan: Jadi Samsak Kemarahan Pemudik demi Tiket Speed Boat

“Kondisi cuaca cerah ini diperkirakan masih dapat berlangsung hingga awal April 2026. Meskipun masih terdapat potensi hujan ringan,” urai Wiliam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Eks Dirut BUMD Serang Dituntut 6 Tahun Penjara, Jaksa Ungkap Transaksi 'Kickback' di Parkiran Mal
Regional
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Regional
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Regional
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
Regional
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Regional
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Regional
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Embung Menyusut Akibat Cuaca Panas, PDAM Nunukan Berlakukan Distribusi Air Bergilir
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat