NUNUKAN, KOMPAS.com – Cuaca panas di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara berimbas pada penyusutan penyimpanan air baku di dua embung.
PDAM bahkan telah memberlakukan distribusi air bergilir akibat kondisi tersebut.
Direktur Perumda Tirta Taka Nunukan, Arpiansyah mengatakan, dua embung yang selama ini menjadi instalasi pengolahan air bersih andalan, masing-masing Embung Bolong dan Embung Sei Bilal, mengalami masalah kekurangan air baku.
“Embung Bolong dengan kapasitas 450.000 m3, volume tersisa saat ini 90.000 m3. Ketinggian air saat ini 1 meter, estimasi debit normal maksimal 5 hari,” ujarnya melalui pesan tertulis, Selasa (31/3/2026).
“Sedangkan Embung Sei Bilal dengan kapasitas normal sekitar 85.680 m3, saat ini tersisa 69.000 m3 dengan ketinggian air 3 meter, dan estimasi debit normal, maksimal 14 hari,” imbuhnya.
Baca juga: Coba Selundupkan Satu Keluarga ke Malaysia, IRT di Nunukan Ditangkap
Arpiansyah mengimbau masyarakat bisa menggunakan air dengan bijak.
Ia juga meminta maaf kepada masyarakat atas pelayanan yang kurang maksimal.
Saat ini, yang bisa dilakukan hanya menunggu hujan turun karena Kabupaten Nunukan memang tidak memiliki sumber air baku.
“Semoga Allah mencurahkan hujan yang penuh rahmat dan barokah,” harap Arpiansyah.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nunukan, Wiliam Sinaga menjelaskan, fenomena cuaca terik yang terjadi beberapa hari terakhir ini disebabkan karena minimnya uap air di atmosfer yang menyebabkan kurangnya pembentukan awan.
“Kondisi ENSO (El Nino Southern Oscillation) cenderung berada pada status netral. Namun, menguatnya monsun Australia yang membawa udara kering serta suhu muka laut di perairan Kaltara yang tidak cukup panas, menjadi salah satu faktor penyebab cuaca panas,” jelasnya.
Baca juga: BPBD Nunukan Imbau Warga Tak Membuka Lahan dengan Membakar
Peningkatan kecepatan angin juga menjadi salah satu faktor penghalang bagi awan-awan konvektif atau awan penyebab hujan untuk tumbuh.
Faktor lain, adanya fenomena posisi gerak semu harian matahari yang berada tepat di atas titik pengamat atau disebut kulminasi, juga berkontribusi terhadap peningkatan suhu udara yang menyebabkan cuaca terasa panas.
Dengan kulminasi utama di Nunukan terjadi pada tanggal 31 Maret 2026, sekitar pukul 12.13 waktu setempat.
Baca juga: Suka Duka Petugas Pelabuhan Nunukan: Jadi Samsak Kemarahan Pemudik demi Tiket Speed Boat
“Kondisi cuaca cerah ini diperkirakan masih dapat berlangsung hingga awal April 2026. Meskipun masih terdapat potensi hujan ringan,” urai Wiliam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang