Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Air Embung di Nunukan Menyusut Akibat Cuaca Panas, Penjual Air Keliling Banjir Pesanan

Kompas.com, 1 April 2026, 14:17 WIB
Ahmad Dzulviqor,
Vachri Rinaldy Lutfipambudi

Tim Redaksi

NUNUKAN, KOMPAS.com – Air embung di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, mengalami penyusutan akibat cuaca panas yang terjadi sejak akhir Maret 2026.

PDAM telah mengeluarkan kebijakan untuk distribusi air secara bergilir bagi konsumen. Di sisi lain, kondisi ini membuat penjual air bersih keliling dibanjiri pesanan.

Arki Hardiansyah, salah satu penjual air mengatakan, banyak masyarakat meneleponnya setelah ia mempromosikan dagangannya di media sosial.

"Pengantaran sampai 17 kali, tergantung pemesan. Lumayan ramailah, apalagi persoalan embung kering memang menjadi masalah yang belum ada solusi setiap tahunnya,’’ ujarnya, dihubungi Rabu (1/4/2026).

Arki menjual air profil berkapasitas 1.200 liter dengan harga Rp 100.000 untuk wilayah kota.

Dalam sehari, ia bisa mendapat hampir Rp 2 juta.

‘’Memang lagi musimnya, jadi kita manfaatkan saja. Selama ada yang pesan, kita siap antar. Rp 100.000 untuk wilayah kota, Rp 150.000 untuk daerah yang agak jauh dari kota,’’ kata dia.

Baca juga: Embung Menyusut Akibat Cuaca Panas, PDAM Nunukan Berlakukan Distribusi Air Bergilir

Penjual air keliling lain, Suharman juga mengakui, saat ini, tukang air sedang kebanjiran order.

Sejak beberapa hari terakhir, pemesanan bahkan mencapai 27 profil per hari.

Dengan profil 1.200 liter yang dibanderol dengan harga Rp 100.000, pendapatan Suharman mencapai Rp 2,7 juta per harinya.

‘’Saya lama jual air dan punya pelanggan sendiri. Tahun kemarin bahkan bisa 37 profil sehari,’’ kata dia.

Penghasilan tersebut, belum dikurangi dengan harga beli di pemilik sumur bor, dan untuk membayar tenaga dua pekerjanya.

‘’Uang segitu belum bersih, harus bayar dua pekerja, masing-masing Rp 10.000 per profil, dan dipotong untuk pembelian air bersih dari sumur bor,’’ terang Suharman.

Baca juga: Bendungan Kedungrejo Jebol, Ribuan Hektar Sawah di Madiun Terancam Kekeringan

Kendati meraup untung dari kondisi kekeringan yang terjadi, Suharman mengaku tetap berharap hujan segera turun dan mengisi embung-embung yang ada.

‘’Saya bersyukur, tapi tidak pernah berharap kemarau berkepanjangan. Tak boleh juga kita mengambil keuntungan dari musibah,’’ kata Suharman.

Halaman:


Terkini Lainnya
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Maaf-maafan, Bupati dan Wabup Lebak Berdamai Usai Ribut Saat Halalbihalal
Regional
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat 'Tagging'
ASN Jateng Mau WFH? Siap-siap Lokasi Rumah Dipantau Ketat lewat "Tagging"
Regional
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Kericuhan Pecah di Mimika, Hujan Panah Warnai Proses Kremasi Korban Pembunuhan
Regional
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Sanksi WFH ASN Kaltim: Tak Absen TPP Dipotong 1 Persen per Hari, Tak Lapor 2 Persen
Regional
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Masih Ada Parkir Liar di Indomaret Banyumas? Laporkan ke Nomor Ini
Regional
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Natalius Pigai, Penguatan HAM, dan Masa Depan Indonesia...
Regional
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Soal WFH Tiap Jumat, Bupati Ende: Kita Sudah Mulai Sejak Awal Tahun
Regional
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi 'Si Apik'
Sekolah Ini Bikin Orang Tua Tak Bisa Dibohongi Absensi Anak lewat Aplikasi "Si Apik"
Regional
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Soal Kebijakan WFH, Wali Kota Ambon: Kita Sudah Lakukan, Tinggal Disesuaikan Saja
Regional
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Dua Nelayan di Indramayu Hilang Misterius Saat Melaut, Tim SAR Dikerahkan Pencarian
Regional
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
302 Dapur MBG di NTB Ditutup Sementara Lantaran Tak Penuhi Standar SLHS dan IPAL
Regional
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Seluruh Indomaret di Banyumas Bebas Parkir Mulai 1 April
Regional
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Kisah Ahmad Zaki, Guru di Bojonegoro Lari 4 Km ke Sekolah Pakai Seragam Dinas
Regional
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Karhutla Riau Belum Padam, 2,45 Juta Liter Air Dijatuhkan ke Titik Api
Regional
Komisi II DPR Sebut WFH ASN Jadi Strategi Tekan Impor BBM dan Hemat APBN
Komisi II DPR Sebut WFH ASN Jadi Strategi Tekan Impor BBM dan Hemat APBN
Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau
Air Embung di Nunukan Menyusut Akibat Cuaca Panas, Penjual Air Keliling Banjir Pesanan
Akses penuh arsip ini tersedia di aplikasi KOMPAS.com atau dengan Membership KOMPAS.com Plus.
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Unduh KOMPAS.com App untuk berita terkini, akurat, dan terpercaya setiap saat