BATU, KOMPAS.com - Di Terminal Kota Batu, antrean penumpang tampak mengular. Suara mesin bus datang dan pergi, bercampur dengan panggilan petugas dan langkah orang-orang yang terburu waktu.
Di antara keramaian itu, Rizka Yunita Dewi berdiri tegap. Seragam hitam pekat dengan sentuhan batik hijau gelap membalut tubuhnya rapi. Hijabnya tersusun sempurna, lengkap dengan topi pramugari melekat di kepalanya.
Tumbler air berwarna hijau gelap tak lepas dari genggamannya sekaligus menjadi teman di sela kesibukan yang tak pernah benar-benar usai.
Dengan senyum yang tak pernah benar-benar lepas, Rizka mengatur antrean, memberi isyarat pada penumpang, hingga sesekali menenangkan mereka yang mulai kehilangan sabar.
Baca juga: Arus Balik di Terminal Arjosari Malang Masih Landai, Puncak Diprediksi 24 dan 28 Maret
Namun, di balik ketegasan dan profesionalitas itu, ada ruang sunyi yang dia simpan sendiri. Sebab, Lebaran tahun ini terasa berbeda bagi Rizka.
Untuk pertama kalinya, perempuan berusia 22 tahun asal Bangkalan, Madura itu tidak pulang ke rumah.
Tidak ada malam takbiran yang hangat, tidak ada dapur yang dipenuhi aroma masakan ibu, tidak ada tawa keluarga yang biasanya mengisi setiap sudut rumah.
Sebaliknya, Rizka menghabiskan malam takbiran hingga Hari Raya di dalam bus Trans Jatim, tempatnya mencari nafkah untuk keluarga.
“Waktu malam takbir lagi kerja di jalan, ini jadi tahun pertama jauh dari rumah,” ujarnya pelan, kepada Kompas.com, Minggu (23/3/2026).
Baca juga: Libur Lebaran, Jatim Park Hadirkan Wahana dan Pertunjukan Seru, Apa Saja?
Bagi Rizka, momen ini merupakan pengalaman paling berat selama bekerja. Jauh dari rumah, tanpa keluarga, bahkan tanpa suasana hangat khas Lebaran. Tetapi, dia harus tetap profesional menjalankan tugas.
“Pasti sedih, kepikiran yang di rumah. Kangen suasana rumah yang pasti,” ucapnya.
Di kampung halamannya, malam takbiran biasanya diisi dengan kebersamaan, memasak, bercengkerama, dan menikmati hidangan sederhana bersama keluarga. Namun, di tanah rantau, semuanya berubah.
“Kalau di Malang, di kos-kosan sendiri terus masih kerja juga. Tidak ada masakan ibu, makanan khas Lebarah, tiba-tiba jadi sepi,” katanya.
Kesepian itu memuncak saat pagi hari Idul Fitri tiba. Rizka harus menjalani shalat Idul Fitri (Id) seorang diri, jauh dari pelukan keluarga.
“Pas mau shalat Id nangis, soalnya sendirian banget di rantau, di masjid,” ujarnya mengingat momen yang masih membekas hingga kini.
Baca juga: 8.172 Penumpang Padati Stasiun Malang pada H+1 Lebaran