Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Kamus di Indonesia Sebelum Ada KBBI

Kompas.com, 7 Februari 2026, 13:24 WIB
Rosy Dewi Arianti Saptoyo,
Bayu Galih

Tim Redaksi

Susunan abjad dalam Kamus Moderen Bahasa Indonesia banyak mengalami perubahan jika dibandingkan kamus-kamus sebelumnya.

Ia telah menghilangkan ejaan lama, dan mulai memakai awalan huruf c, d, n, dan s.

5. Kamus Umum Bahasa Indonesia

Setelah merdeka, Indonesia menyusun kamusnya sendiri di luar pengaruh pemerintah kolonial maupun Jepang.

Pada 1952, Lembaga Penyelidikan Bahasa dan Kebudayaan Universitas Indonesia yang menjadi cikal bakal Pusat Bahasa, untuk menyusun kamus.

Poerwadarmin­ta menjadi bagian dari lembaga tersebut dan membantu merumuskan Kamus Umum Bahasa Indonesia.

Kamus karya Poerwadarmin­ta itu dianggap sebagai tonggak sejarah dalam perkembangan leksikografi Indonesia.

Memasuki cetakan kelima pada 1976, ada seribu entri baru dalam kamus itu yang mulai menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Tebal kamusnya mencapai 1.156 halaman.

6. KBBI

Kamus-kamus bahasa Indonesia yang telah ada sebelumnya menjadi data dan acuan utama penerbitan KBBI.

Pada masa itu, kamus hanya beredar di kalangan terbatas. Para ahli bahasa memiliki cita-cita untuk menyusun kamus besar atau kamus baku yang dapat menjadi rujukan semua kalangan.

Namun, karena dianggap belum memenuhi kriteria, Pusat Bahasa membentuk tim baru untuk menyusun kamus besar.

Tim itu dipimpin oleh Kepala Pusat Bahasa, Anton M. Moeliono dengan pemimpin redaksi Sri Sukesi Adiwimarta dan Adi Sunaryo.

Lantas, pada 28 Oktober 1998, bertepatan dengan Kongres Bahasa Indonesia V, KBBI Edisi Kesatu terbit.

KBBI perdana itu memuat sekitar 62.000 lema.

7. Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994)

Meski telah ada KBBI terbitan pemerintah, tetapi ada upaya untuk melawan dominasi acuan kebahasaan oleh satu entitas saja.

Sutan Mohammad Zain bersama muridnya, Jusuf Sjarif Badudu merancang Kamus Umum Bahasa Indonesia yang diterbitkan pada 1994.

Meski KBBI dan kamus buatan Poerwadarminta telah terkenal dan digunakan di pelbagai institusi pendidikan, tetapi Kamus Umum Bahasa Indonesia tidak kalah mutakhir.

Kamus terbitan Pustaka Sinar Harapan itu menyediakan definisi, penggunaan, dan keterangan kata dalam bahasa Indonesia umum.

Hingga kini, belum ada penerbitan kamus bahasa Indonesia lain di luar KBBI.

Selain senjakala percetakan, kemajuan teknologi membuat dinamika penerbitan kamus semakin merosot. Pembaca pun mulai beralih ke kamus elektronik.

Maka tak heran, ketika ada kata-kata janggal dan tidak relevan diterbitkan oleh KBBI, Badan Bahasa menuai kritik.

Bisa jadi, fenomena ini muncul akibat dominasi dan minimnya referensi kebahasaan yang dapat menandingi KBBI.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Terkini Lainnya
INFOGRAFIK: Muncul Hoaks Prabowo dan Trump Pamerkan Produk Olahan Babi
INFOGRAFIK: Muncul Hoaks Prabowo dan Trump Pamerkan Produk Olahan Babi
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Farel Prayoga Meninggal Dunia pada 1 April 2026
[HOAKS] Farel Prayoga Meninggal Dunia pada 1 April 2026
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Pigai Sebut Yaqut Tidak Melanggar HAM karena Korupsi Sesuai Prosedur
[HOAKS] Pigai Sebut Yaqut Tidak Melanggar HAM karena Korupsi Sesuai Prosedur
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Foto Ronaldo Bentangkan Bendera Portugal Diedit Jadi Bendera Palestina
[KLARIFIKASI] Foto Ronaldo Bentangkan Bendera Portugal Diedit Jadi Bendera Palestina
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Hoaks Bandara Terbesar di AS Hancur Lebur, Simak Faktanya
INFOGRAFIK: Hoaks Bandara Terbesar di AS Hancur Lebur, Simak Faktanya
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Bahlil Sebut PLN Merugi karena Rakyat Tidak Hemat Listrik
[HOAKS] Bahlil Sebut PLN Merugi karena Rakyat Tidak Hemat Listrik
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Dirjen Bimas Hindu Umumkan Bantuan Rp 15,2 Miliar
[HOAKS] Dirjen Bimas Hindu Umumkan Bantuan Rp 15,2 Miliar
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Video Ribuan Burung di Texas, Bukan Gagak di Tel Aviv
[KLARIFIKASI] Video Ribuan Burung di Texas, Bukan Gagak di Tel Aviv
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Kemenaker Mulai Salurkan BSU Rp 600.000
[HOAKS] Kemenaker Mulai Salurkan BSU Rp 600.000
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Hoaks Prabowo Nyatakan Indonesia Siap Berperang, Simak Bantahannya
INFOGRAFIK: Hoaks Prabowo Nyatakan Indonesia Siap Berperang, Simak Bantahannya
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Video Ronaldo Ucapkan Kalimat Syahadat adalah Konten AI
[KLARIFIKASI] Video Ronaldo Ucapkan Kalimat Syahadat adalah Konten AI
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Muncul Hoaks Wapres Gibran Pernah Bertemu Ayatollah Ali Khamenei
INFOGRAFIK: Muncul Hoaks Wapres Gibran Pernah Bertemu Ayatollah Ali Khamenei
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Video Serangan Drone di Bahrain, Bukan Citibank Dubai
[KLARIFIKASI] Video Serangan Drone di Bahrain, Bukan Citibank Dubai
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Tautan untuk Akses Bantuan Budi Daya Ikan dari Dinas Perikanan
[HOAKS] Tautan untuk Akses Bantuan Budi Daya Ikan dari Dinas Perikanan
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Foto Ini Kecelakaan pada 2018, Bukan Arus Balik 2026
[KLARIFIKASI] Foto Ini Kecelakaan pada 2018, Bukan Arus Balik 2026
Hoaks atau Fakta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau