Susunan abjad dalam Kamus Moderen Bahasa Indonesia banyak mengalami perubahan jika dibandingkan kamus-kamus sebelumnya.
Ia telah menghilangkan ejaan lama, dan mulai memakai awalan huruf c, d, n, dan s.
Setelah merdeka, Indonesia menyusun kamusnya sendiri di luar pengaruh pemerintah kolonial maupun Jepang.
Pada 1952, Lembaga Penyelidikan Bahasa dan Kebudayaan Universitas Indonesia yang menjadi cikal bakal Pusat Bahasa, untuk menyusun kamus.
Poerwadarminta menjadi bagian dari lembaga tersebut dan membantu merumuskan Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Kamus karya Poerwadarminta itu dianggap sebagai tonggak sejarah dalam perkembangan leksikografi Indonesia.
Memasuki cetakan kelima pada 1976, ada seribu entri baru dalam kamus itu yang mulai menggunakan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Tebal kamusnya mencapai 1.156 halaman.
Kamus-kamus bahasa Indonesia yang telah ada sebelumnya menjadi data dan acuan utama penerbitan KBBI.
Pada masa itu, kamus hanya beredar di kalangan terbatas. Para ahli bahasa memiliki cita-cita untuk menyusun kamus besar atau kamus baku yang dapat menjadi rujukan semua kalangan.
Namun, karena dianggap belum memenuhi kriteria, Pusat Bahasa membentuk tim baru untuk menyusun kamus besar.
Tim itu dipimpin oleh Kepala Pusat Bahasa, Anton M. Moeliono dengan pemimpin redaksi Sri Sukesi Adiwimarta dan Adi Sunaryo.
Lantas, pada 28 Oktober 1998, bertepatan dengan Kongres Bahasa Indonesia V, KBBI Edisi Kesatu terbit.
KBBI perdana itu memuat sekitar 62.000 lema.
Meski telah ada KBBI terbitan pemerintah, tetapi ada upaya untuk melawan dominasi acuan kebahasaan oleh satu entitas saja.
Sutan Mohammad Zain bersama muridnya, Jusuf Sjarif Badudu merancang Kamus Umum Bahasa Indonesia yang diterbitkan pada 1994.
Meski KBBI dan kamus buatan Poerwadarminta telah terkenal dan digunakan di pelbagai institusi pendidikan, tetapi Kamus Umum Bahasa Indonesia tidak kalah mutakhir.
Kamus terbitan Pustaka Sinar Harapan itu menyediakan definisi, penggunaan, dan keterangan kata dalam bahasa Indonesia umum.
Hingga kini, belum ada penerbitan kamus bahasa Indonesia lain di luar KBBI.
Selain senjakala percetakan, kemajuan teknologi membuat dinamika penerbitan kamus semakin merosot. Pembaca pun mulai beralih ke kamus elektronik.
Maka tak heran, ketika ada kata-kata janggal dan tidak relevan diterbitkan oleh KBBI, Badan Bahasa menuai kritik.
Bisa jadi, fenomena ini muncul akibat dominasi dan minimnya referensi kebahasaan yang dapat menandingi KBBI.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang