Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Taufiq A Gani
Peneliti di IDCI - Indonesia Digital And Cyber Institute

Alumni Lemhannas PPRA 65, PKN II LAN RI, Ph.D Computer Science, USM, Penang, Malaysia

Mengelola Literasi di Sekolah Rakyat

Kompas.com, 14 Januari 2026, 14:32 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

PERESMIAN 166 Sekolah Rakyat oleh Presiden Prabowo Subianto di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada 12 Januari 2026, menjadi perhatian luas media nasional.

Program ini diposisikan sebagai langkah strategis negara untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan, dengan menjangkau anak-anak dari keluarga paling rentan di berbagai wilayah Indonesia.

Namun, pengalaman kebijakan menunjukkan bahwa program pendidikan untuk kelompok paling rentan kerap gagal bukan karena kurangnya bangunan sekolah atau akses belajar, melainkan karena lemahnya kemampuan dasar anak untuk bertahan dan berkembang di dalam proses pendidikan itu sendiri. Sekolah hadir, tetapi proses belajar tidak selalu berjalan.

Dalam konteks anak-anak dari keluarga miskin ekstrem, pendidikan bukan semata soal kehadiran di ruang kelas.

Tantangan utamanya adalah memastikan mereka memiliki kemampuan dasar untuk memahami informasi, mengikuti proses belajar secara konsisten, dan membangun kepercayaan diri dalam mengambil keputusan kecil yang menentukan arah hidupnya.

Tanpa fondasi ini, sekolah berisiko menjadi ruang singgah, bukan ruang perubahan.

Ujian sesungguhnya Sekolah Rakyat, karena itu, justru dimulai setelah agenda kenegaraan selesai dan sorotan publik mereda.

Baca juga: Sekolah Rakyat: Memutus Lingkaran Setan Kemiskinan

Pada fase inilah pertanyaan kebijakan menjadi penting: bagaimana literasi dikelola agar Sekolah Rakyat tidak berhenti sebagai program, melainkan tumbuh sebagai sistem pembelajaran yang berkelanjutan.

Perpustakaan titik uji kebijakan

Sekolah Rakyat dirancang sebagai program lintas kementerian. Kementerian Sosial memegang peran utama dalam desain intervensi sosial, sementara Perpustakaan Nasional diberi mandat memperkuat infrastruktur literasi. Desain ini menjanjikan, tetapi sekaligus menuntut kejelasan tata kelola.

Di titik inilah perpustakaan sekolah menjadi ujian kebijakan yang nyata. Selama ini, perpustakaan sering diasumsikan akan berfungsi dengan sendirinya begitu koleksi tersedia.

Asumsi ini keliru. Fase paling krusial dari sebuah perpustakaan justru dimulai setelah buku datang dan fasilitas terpasang.

Tanpa pendampingan yang konsisten, ritme kegiatan yang jelas, dan arah pengelolaan yang tegas, perpustakaan mudah menjadi ruang sunyi.

Bagi Sekolah Rakyat, risiko ini tidak bisa dianggap sepele. Anak-anak yang menjadi sasaran program ini umumnya berasal dari keluarga miskin ekstrem, dengan akses pengetahuan yang sangat terbatas di luar sekolah.

Dalam konteks ini, perpustakaan bukan fasilitas tambahan, melainkan ruang utama pembentukan kebiasaan belajar.

Jika perpustakaan tidak dikelola dengan sungguh-sungguh, Sekolah Rakyat kehilangan salah satu fondasi terpentingnya.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau