Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sampah Makanan di Indonesia Jadi Permasalahan Serius 

Kompas.com, 27 Oktober 2021, 13:36 WIB
Silvita Agmasari

Editor

KOMPAS.com - Indonesia mulai berupaya menerapkan strategi pengelolaan sampah makanan lewat kajian Food Loss and Waste (FLW) dalam Rangka Mendukung Penerapan Ekonomi Sirkular dan Pembangunan Rendah Karbon. 

Kajian diinisiasi oleh Bappenas bekerja sama dengan Waste4Change, World Research Institute (WRI), didukung oleh UK-FCDO.

Hasil Kajian FLW yang diluncurkan pada Juni 2021 lalu ini juga dapat dijadikan pedoman bersama untuk mengurangi timbulan FLW di Indonesia.

Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2020 menyebutkan bahwa sampah makanan merupakan jenis sampah terbanyak yang timbul, yaitu 39,8 persen dari seluruh jenis sampah yang dihasilkan oleh masyarakat Indonesia.

Baca juga:

Perencana Direktorat Lingkungan Hidup, Bappenas, Anggi Pertiwi Putri, mengatakan data ini menimbulkan ketimpangan dengan kondisi kekurangan pangan yang terjadi di masyarakat. 

Padahal, sekitar 8,34 persen penduduk Indonesia masih mengalami kekurangan pangan.

Anggi juga menyebutkan Indonesia menempati peringkat ke-65 dari 113 negara, yang bahkan menempati posisi di bawah negara ASEAN lainnya berdasarkan data Global Food Security Index (GFSI). 

"Oleh karena itu, integrasi pengelolaan Food Loss and Waste masuk menjadi prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020 - 2024," jelas Anggi. 

Ia menyebutkan khususnya pada poin nomor enam, Membangun Lingkungan Hidup, Meningkatkan Ketahanan Bencana dan Perubahan Iklim, khususnya untuk Pembangunan Rendah Karbon. 

Jumlah sampah makanan yang dihasilkan perkapita di Indonesia

Consulting Manager dan Team Leader FLW Study dari Waste4Change, Anissa Ratna Putri, memaparkan, pada 2000-2019, timbulan Food Loss and Waste (FLW) Indonesia mencapai 115-184 kg/kapita/tahun, atau total timbulan sebanyak 23-48 juta ton/tahun.

“Dari sisi sektor dan jenis pangan, timbulan terbesar terjadi di tanaman pangan, kategori padi-padian sebanyak 44 persen," jelas Ratna.

Baca juga: Tips Kurangi Sampah Makanan, Olah Semua Bagian Bahan Makanan

Ilustrasi limbah makanan yang dapat didaur ulang.SHUTTERSTOCK/VICTORIA1 Ilustrasi limbah makanan yang dapat didaur ulang.

Sementara sektor pangan paling tidak efisien, Ratna sebutkan adalah tanaman hortikultura, tepatnya di kategori sayur-sayuran, sebanyak 62.8 persen.

"Artinya lebih banyak sayur-sayuran yang terbuang daripada yang terkonsumsi,” papar Anissa.

Lebih jauh, Hasil Kajian FLW Bappenas bersama Waste4Change tersebut menjadi referensi dan rekomendasi untuk menyusun strategi pengelolaan FLW dan upaya mengurangi FLW di Indonesia.

Hasil kajian merekomendasikan 45 strategi yang dikelompokkan dalam 5 Arah Kebijakan Strategi Pengelolaan FLW di Indonesia. 


Ratna menyebutkan kebijakan tersebut adalah Perubahan Perilaku, Pembenahan Penunjang Sistem Pangan, Penguatan Regulasi & Optimalisasi Pendanaan, Pemanfaatan FLW, Pengembangan Kajian & Pendataan FLW. 

"Tanpa pengendalian, diestimasikan timbulan FLW Indonesia pada 2045 dapat mencapai 344 kg/kapita/tahun," jelas Ratna. 

Baca juga: Akademisi UNS: Ini 3 Alasan Harus Cegah Timbulnya Sampah Makanan

Skenario strategi yang disusun, diestimasikan timbulan FLW pada 2045 dapat ditahan di 166 kg/kapita/tahun. 

Waste4Change ikut memberi solusi FLW dengan melakukan pengelolaan sampah bertanggung jawab dengan pengomposan dan pengolahan menggunakan Black Soldier Fly. 

Pakar Food Loss dan Food Security, yang juga Wakil Rektor bagian Pendidikan dan Kemahasiswaan Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir. Drajat Martianto, M.Si, menyampaikan, berdasarkan Global Hunger Index (GHI), selama beberapa tahun Indonesia berada pada level Serious dengan score 20 - 34.9. 

Pada 2020, Indonesia akhirnya masuk ke level Moderate dengan score 19.1 dari range 10.0 - 19.9. 

Baca juga: Sampah Makanan dari Syukuran Rakyat Bikin Kewalahan Relawan

"Meskipun masih dekat dengan baseline level Moderate, ini menunjukkan pembangunan berjalan ke arah yang lebih baik,” jelas Drajat

“Pangan di Indonesia, setara kalori dan protein, tersedia berlebih. Tapi tidak semua masyarakat bisa mengaksesnya," pungkasnya. 

Sementara dari hasil kajian Bappenas dan Waste4Change, timbulan FLW di Indonesia sangat besar.

Menurutnya, hal ini menunjukkan ketimpangan yang cukup besar. 

"Sudah menjadi tanggung jawab kita bersama untuk mengurangi dan mengelola FLW agar ketersediaan pangan di Indonesia lebih merata,” ujar Drajat.

Ilustrasi makanan kemasan untuk take away dan delivery menu buka puasa dari hotel.SHUTTERSTOCK/CHEBERKUS Ilustrasi makanan kemasan untuk take away dan delivery menu buka puasa dari hotel.

Salah satu strategi dan solusi pengelolaan FLW adalah pemanfaatan FLW, yang sudah diterapkan oleh organisasi bank makanan yang diinisiasi oleh kelompok masyarakat secara mandiri, salah satunya Garda Pangan.

“Kami mengumpulkan makanan berlebih dari restoran, katering, bakery, hotel, lahan pertanian, event, pernikahan, dan donasi individu,"  ujar Founder Garda Pangan, Eva Bachtiar.

Baca juga: 3 Cara Cegah Sampah Pangan dan Limbah Makanan, Dimulai dari Piring Sendiri

Pengumpulan makanan dari Garda PANGAN melewati serangkaian uji kelayakan makanan, untuk disalurkan pada masyarakat pra-sejahtera di Surabaya dan sekitarnya.

Hingga saat ini, Garda Pangan telah berhasil menyelamatkan 183,233 porsi makanan yang setara dengan 43 ton potensi sampah sisa makanan, dan telah mendistribusikan makanan-makanan tersebut ke 127,191 penerima manfaat. 

“Kami berharap dapat semakin memperluas cakupan area kami, agar bisa menyelamatkan lebih banyak FLW, dan menyentuh lebih banyak masyarakat pra-sejahtera yang kekurangan pangan, di berbagai wilayah di Indonesia,” demikian tutup Eva.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau