Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Petis Bumbon, Kuliner Legendaris Semarang yang Hanya Ada Saat Ramadan

Kompas.com, 1 Maret 2026, 11:00 WIB
Devi Ramadhany,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Petis bumbon kembali menjadi incaran warga Kota Semarang setiap bulan Ramadan.

Hidangan legendaris khas wilayah ini hanya muncul saat momen Ramadan dan Dugderan dan sulit ditemui di luar periode tersebut, dilansir dari DetikJateng.

Melansir dari Kompas.com (25/02/2026) Di Pasar Kuliner Ramadan Aloon-aloon Kauman, Kecamatan Semarang Tengah, saus petis bumbon yang kaya rempah ramai diburu untuk menu berbuka puasa.

Baca juga: 5 Rekomendasi Nasi Pecel Enak di Semarang, Favorit Warga Lokal

Bumbu rempah seperti serai, daun salam, laos, dan petis ikan banyar memberikan cita rasa asin dan gurih yang khas pada telur bebek yang diolah menjadi petis bumbon.

Istiqomah (67), salah satu pedagang kuliner ini, mengatakan bahwa petis bumbon memang hanya dijual saat Ramadan atau Dugderan karena permintaannya banyak di periode tersebut. 

“Petis bumbon itu khasnya memang adanya pas Dugderan (tradisi yang digelar sebelum masuk Ramadhan) sama puasa. Satu tahun sekali. Selain itu memang jarang dicari,” ujarnya.

Baca juga: Resep Ayam Gongso Khas Semarang, Pilihan Menu Makan Siang Pedas Gurih

Menurut dia, proses memasak petis bumbon memerlukan waktu cukup lama, dimulai sejak pagi agar bumbu meresap sempurna ke dalam telur bebek.

Setiap hari, ia bisa menghabiskan puluhan telur bebek untuk disajikan kepada pembeli yang datang menjelang berbuka.

Tak hanya menjadi favorit warga lokal, kuliner musiman ini juga menarik minat pengunjung dari luar kota.

Beberapa pembeli rela datang dari daerah lain demi menikmati petis bumbon dan jajanan khas semacamnya.

Baca juga: 5 Kuliner Wajib Coba di Pasar Johar, Tempat Bersejarah di Semarang

Asal dan Kekhasan Kuliner

Petis bumbon merupakan makanan tradisional Semarang yang mirip sambal goreng, namun lebih beraroma rempah dengan tambahan petis ikan sebagai kunci cita rasanya.

Hidangan ini umumnya disajikan bersama lontong atau sebagai pelengkap menu buka puasa lainnya, menjadi bagian penting dari tradisi kuliner Ramadan di kota pesisir itu.

Baca juga: 10 Kuliner Ambarawa Semarang, dari Bebek Pedas hingga Kopi di Tengah Kebun

Selain petis bumbon, Pasar Kuliner Ramadan di kawasan tersebut juga menawarkan makanan khas lain seperti kue coro santan dan ketan biru yang turut melestarikan warisan kuliner lokal selama bulan suci.

Tradisi petis bumbon menjadi contoh bagaimana kuliner lokal tetap hidup dan dinanti oleh generasi sekarang, menggabungkan cita rasa klasik dengan kegembiraan momen Ramadan yang khas bagi masyarakat Semarang.

(Penulis: Titis Anis Fauziyah)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau