KOMPAS.COM - Pernahkah saat kamu lagi makan gudeg atau bacem terus kepikiran, "Kok bisa ya masakan Jawa Tengah dan Jogja semanis ini?"
Ternyata, hobi makanan mengandung gula dalam lauk-pauk ini bukan cuma soal selera lidah semata. Ada sejarah panjang yang membentang jauh sebelum era kita sekarang.
Melansir dari penjelasan budayawan yang dirangkum oleh Kompas.com, rahasia di balik legitnya masakan Jawa ini punya akar sejarah yang sangat kuat.
Bagi masyarakat di luar Jawa, rasa manis yang dominan di masakan Jawa Tengah sering kali bikin kaget.
Namun, bagi masyarakat setempat, rasa manis adalah simbol kenyamanan dan status sosial.
Uniknya, jejak rasa manis ini sudah terekam sejak zaman keemasan Kerajaan Majapahit melalui penggunaan bahan-bahan alami.
Baca juga: Resep Nasi Goreng Opor Ayam, Ide Menu dari Makanan Sisa Lebaran
Berdasarkan penjelasan budayawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Bani Sudardi, yang dikutip dari Kompas.com, masyarakat Jawa sudah sangat akrab dengan pemanis alami jauh sebelum industri gula pasir modern masuk. Bahan utamanya adalah Gula Jawa atau gula kelapa.
Pada masa Kerajaan Majapahit, pohon kelapa dan pohon nira tumbuh subur. Gula yang dihasilkan dari nira ini menjadi bumbu dasar yang sangat penting.
"Penggunaan gula kelapa dalam masakan Jawa sebenarnya sudah ada sejak zaman Majapahit. Gula kelapa ini memberikan cita rasa manis yang khas dan berbeda dengan gula tebu," jelas Prof. Bani Sudardi via Kompas.com.
Meskipun akarnya dari zaman kerajaan, pengaruh rasa manis ini semakin "mengunci" identitas kuliner Jawa pada abad ke-19. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda memberlakukan Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel).
Kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur disulap menjadi perkebunan tebu raksasa. Jawa bahkan sempat menjadi produsen gula terbesar di dunia.
Melimpahnya stok gula di sekitar pabrik-pabrik gula membuat masyarakat mulai memasukkan gula ke dalam hampir semua jenis masakan mereka karena harganya yang murah dan aksesnya yang mudah.
Baca juga: Resep Sambal Goreng Daging Empuk Gurih, Solusi Olah Daging Sisa Lebaran
Bagi masyarakat Jawa, rasa manis bukan sekadar urusan lidah. Ada filosofi mendalam di baliknya.
Rasa manis dianggap melambangkan sikap hidup yang tenang, harmonis, dan penuh kebahagiaan.
Selain itu, dalam sejarahnya, menyajikan makanan yang manis juga menjadi simbol status sosial.
"Dulu, gula adalah barang yang berharga. Menyajikan makanan manis kepada tamu dianggap sebagai bentuk penghormatan tertinggi dan simbol kemakmuran tuan rumah," tulis laporan Kompas.com.
Kenapa Hanya Jawa Tengah dan Jogja?
Menariknya, semakin ke arah Jawa Barat (Sunda), rasa manis cenderung berkurang dan digantikan oleh rasa gurih dan segar (asam).
Hal ini dikarenakan persebaran pabrik gula di masa lalu memang paling padat berada di wilayah Jawa bagian tengah.
Faktor geografis dan kedekatan dengan pusat-pusat produksi gula inilah yang membentuk karakter lidah masyarakatnya hingga kini.
Rasa manis pada masakan Jawa adalah warisan budaya yang sangat kaya. Ia bermula dari kelimpahan gula kelapa di zaman Majapahit, lalu diperkuat oleh sejarah industri gula tebu di era kolonial, hingga akhirnya mendarah daging menjadi filosofi hidup yang harmonis.
Baca juga: Kuliner Viral Blok M Bakal Buka di Taman Bendera Pusaka Jaksel
View this post on Instagram
Jadi, saat kamu menikmati sepiring nasi gudeg, ingatlah bahwa kamu sedang mengecap sejarah panjang peradaban Jawa.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang