Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Alasan Masakan Jawa Tengah Identik Rasa Manis, Berawal dari Zaman Majapahit

Kompas.com, 23 Maret 2026, 13:00 WIB
Afif Khoirul Muttaqin,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

Sumber Kompas.com

KOMPAS.COM - Pernahkah saat kamu lagi makan gudeg atau bacem terus kepikiran, "Kok bisa ya masakan Jawa Tengah dan Jogja semanis ini?" 

Ternyata, hobi makanan mengandung gula dalam lauk-pauk ini bukan cuma soal selera lidah semata. Ada sejarah panjang yang membentang jauh sebelum era kita sekarang.

Melansir dari penjelasan budayawan yang dirangkum oleh Kompas.com, rahasia di balik legitnya masakan Jawa ini punya akar sejarah yang sangat kuat. 

Bagi masyarakat di luar Jawa, rasa manis yang dominan di masakan Jawa Tengah sering kali bikin kaget. 

Namun, bagi masyarakat setempat, rasa manis adalah simbol kenyamanan dan status sosial.

Uniknya, jejak rasa manis ini sudah terekam sejak zaman keemasan Kerajaan Majapahit melalui penggunaan bahan-bahan alami.

Baca juga: Resep Nasi Goreng Opor Ayam, Ide Menu dari Makanan Sisa Lebaran

Jejak Gula Kelapa di Era Kerajaan

Berdasarkan penjelasan budayawan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Prof. Dr. Bani Sudardi, yang dikutip dari Kompas.com, masyarakat Jawa sudah sangat akrab dengan pemanis alami jauh sebelum industri gula pasir modern masuk. Bahan utamanya adalah Gula Jawa atau gula kelapa.

Pada masa Kerajaan Majapahit, pohon kelapa dan pohon nira tumbuh subur. Gula yang dihasilkan dari nira ini menjadi bumbu dasar yang sangat penting.

"Penggunaan gula kelapa dalam masakan Jawa sebenarnya sudah ada sejak zaman Majapahit. Gula kelapa ini memberikan cita rasa manis yang khas dan berbeda dengan gula tebu," jelas Prof. Bani Sudardi via Kompas.com.

Tempe bacem Tempe bacem

Meskipun akarnya dari zaman kerajaan, pengaruh rasa manis ini semakin "mengunci" identitas kuliner Jawa pada abad ke-19. Saat itu, pemerintah kolonial Belanda memberlakukan Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel).

Kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur disulap menjadi perkebunan tebu raksasa. Jawa bahkan sempat menjadi produsen gula terbesar di dunia. 

Melimpahnya stok gula di sekitar pabrik-pabrik gula membuat masyarakat mulai memasukkan gula ke dalam hampir semua jenis masakan mereka karena harganya yang murah dan aksesnya yang mudah.

Baca juga: Resep Sambal Goreng Daging Empuk Gurih, Solusi Olah Daging Sisa Lebaran

Filosofi Manis, Lambang Kemakmuran dan Etika

Bagi masyarakat Jawa, rasa manis bukan sekadar urusan lidah. Ada filosofi mendalam di baliknya.

Rasa manis dianggap melambangkan sikap hidup yang tenang, harmonis, dan penuh kebahagiaan.

Selain itu, dalam sejarahnya, menyajikan makanan yang manis juga menjadi simbol status sosial.


"Dulu, gula adalah barang yang berharga. Menyajikan makanan manis kepada tamu dianggap sebagai bentuk penghormatan tertinggi dan simbol kemakmuran tuan rumah," tulis laporan Kompas.com.

Kenapa Hanya Jawa Tengah dan Jogja?

Menariknya, semakin ke arah Jawa Barat (Sunda), rasa manis cenderung berkurang dan digantikan oleh rasa gurih dan segar (asam).

Hal ini dikarenakan persebaran pabrik gula di masa lalu memang paling padat berada di wilayah Jawa bagian tengah. 

Faktor geografis dan kedekatan dengan pusat-pusat produksi gula inilah yang membentuk karakter lidah masyarakatnya hingga kini.

Rasa manis pada masakan Jawa adalah warisan budaya yang sangat kaya. Ia bermula dari kelimpahan gula kelapa di zaman Majapahit, lalu diperkuat oleh sejarah industri gula tebu di era kolonial, hingga akhirnya mendarah daging menjadi filosofi hidup yang harmonis. 

Baca juga: Kuliner Viral Blok M Bakal Buka di Taman Bendera Pusaka Jaksel

 
 
 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A post shared by Foodplace (@my.foodplace)

Jadi, saat kamu menikmati sepiring nasi gudeg, ingatlah bahwa kamu sedang mengecap sejarah panjang peradaban Jawa.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau